RELASI GENDER DALAM
AGAMA KONGHUCU
Makalah
Diajukan untuk Memenuhi
Nilai Matakuliah Relasi Gender dalam Agama-Agama
Dosen : Siti Nadroh,
M.Ag.
Disusun oleh :
Kelompok 11 ( VA )
Adiba Zahrotul Wildah ( 11140321000025 )
Binna RidhatulShaumi ( 11140321000026)
Muhammad Wahyu ( 11140321000010 )
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat,
karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul “Relasi Gender
dalam Agama Konghucu”.
Makalah
ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Relasi Genderdalam
Agama-Agama.Selain itu, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan
memotivasi mahasiswa/i dalam menyusun karya tulis.
Kami
menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik
dari pembaca sekalian demi memperbaiki makalah ini untuk penulisan lain di
kemudian hari.
Semoga
makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua.Sekian dan terimakasih.
Ciputat, 05
November 2016
Penulis
A. Pendahuluan
Gender
sudah banyak diperbincangkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama
dalam lingkup kaum intelektual. Berbagai permasalahan perempuan di penjuru
dunia telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentang
pemikiran gerakan feminisme. Kajian tentang perempuan baik di kampus-kampus,
seminar, diskusi-diskusi, tulisan dalam media massa, dan lainnya merupakan
upaya dalam pemecahan permasalahan tersebut, namun hampir semua upaya tersebut
justru mempersoalkan tentang diskriminasi dan ketidakadilan. Pusat studi wanita
yang dinilai sebagai upaya dasar dalam menghadapi permasalahan perempuan muncul
diberbagai universitas di Indonesia. Pusat studi gender tersebut muncul karena
dorongan kebutuhan akan konsep baru dalam memahami kondisi dan kedudukan
perempuan dengan menggunakan perspektif yang baru.
Perbedaan
laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akan mendatangkan
masalah apabila tidak menimbulkan ketidakadilan atau diskriminasi antar
keduanya. Seperti dalam agama Konghucu, kedudukan perempuan yang dinilai masih
rendah merupakan suatu ketidakadilan bagi perempuan tersebut. Walaupun itu,
perempuan dianggap memiliki kedudukan yang penting dalam tata aturan kosmis
maupun dalam kehidupan keluarga. Bahkan Nabi Konghucu sangat menghormati
kedudukan perempuan sebagaimana diceritakan dalam teks-teks Konghucu. Jadi,
meskipun perempuan sering mendapat perlakuan tidak adil atau diskriminasi,
tetapi perempuan juga memiliki posisi penting dalam aspek tertentu yang
dihormati oleh berbagai kalangan. Lebih lengkapnya akan kami sampaikan dalam
pembahasan makalah ini yaitu makalah dengan tema Relasi Gender dalam Agama
Konghucu.
B. Status Perempuan
dalam Ajaran Agama Kong Hu Cu
Posisi perempuan
dalam agama Kong Hu Cu pada hakekatnya masih rendah. Ini terjadi karena Kong Hu
Cu sendiri merupakan suatu tradisi keagamaan yang patrialkhal. Meskipun begitu,
perempuan memiliki andil yang penting dan sentral karena kedudukan mereka yang
menguntungkan baik dalam tata aturan kosmis maupun keluarga.
Pada
Konghucu Masa Klasik, tata aturan kosmis
dipandang sebagai kesatuan dari tritunggal, yaitu langit, bumi dan manusia.
Manusia berhubungan erat dengan langit dan bumi, tetapi tidak seperti hubungan
mereka dengan Tuhan dalam konsep barat. Panggilan bagi manusia bukan untuk
menyembah langit dan bumi, tetapi untuk belajar dari keduanya, meniru tingkah
laku keduanya, dan dengan demikian membentuk satu tata aturan manusia yang
mencontoh tata aturan kosmis.[1]
Tiga aspek utama
kosmis khususnya mengesankan penganut Kong Hu Cu sebagai pelajaran-pelajaran
berharga yang dipelajari dalam tata aturan kosmis, yaitu pertama langit dan
bumi dipandang secara fundamental sebagai sumber kehidupan. Kedua, yang
dihargai oleh penganut Kong Hu Cu adalah segala sesuatu dalam kehidupan ini
saling bergantungan. Dan yang ketiga adalah kebiasaan yang teratur yang lebih
mengedepankan harmonitas daripada konflik.[2]
Mengenai aspek
yang kedua dari tata aturan kosmis ini pada dasarnya para penganut Kong Hu Cu
sudah lebih paham arti dari keberagaman dan kehidupan bermasyarakat. Seluruh
manusia pada mulanya dan hingga kini berada dalam suatu hubungan karena tidak
ada individu yang hidup sendiri dan menyendiri. Terdapat banyak sekali
hubungan seperti hubungan antara orang tua dan anak, antara kakak dan adik,
pemimpin dengan rakyatnya, bahkan hubungan social antar teman.
Hubungan-hubungan ini bukan sekedar bersifat biologis atau social tetapi lebih penting
dari itu, hubungan tersebut merupakan hubungan moral. Menurut penganut Kong Hu
Cu, manusia memerlukan lebih dari sekedar makanan dan perlindungan diri untuk
keberlangsungan hidup mereka. Mereka membutuhkan respon dan dorongan empati
dari manusia lain.
Dari penjelasan
diatas dapat kita pahami bahwa sesungguhnya tata aturan kosmis ini sudah
menjadi sumber primer wahyu Tuhan dan merupakan model bagi tata aturan manusia,
bahwa keluarga dipandang sebagai pusat komunitas yang suci dan bahwa seluruh
manusia baik laki-laki maupun perempuan bekerja dalam setting kontekstual,
hierarkis dan koreografial yang tinggi.[3]
Dalam tata
aturan kosmis tentang segala sesuatu, kita mengenal konsep Yin dan Yang dalam kehidupan di
dunia ini. Yang
disini digambarkan sebagai langit yang superior dan yin sebagai bumi yang
inferior. Keduanya memang berbeda, tetapi saling bergantung satu sama lain.
Penggambarain lain dari yin juga perempuan yang merupakan salah satu dari dua
wujud utama. Kekuatan feminim ini identik dengan bumi dengan segala sesuatu
yang rendah dan inferior. Kekuatan feminin ini dicirikan sebagai sifat
mengalah, reseptif dan tunduk, dan ia memajukan dirinya dengan ketekunan.
Meskipun inferior terhadap prinsip maskulin yang laki-laki, tetapi prinsip yin
itu krusial dan sangat diperlukan untuk kerja yang tepat dalam alam semesta.
Dari aturan kosmis ini dapat kita simpulkan bahwa posisi perempuan dalam tata
aturan manusia pasti lebih rendah dan inferior seperti bumi , dan tingkah laku
yang layak bagi seorang perempuan adalah mengalah, lemah dan pasif seperti
bumi. Sedangkan laki-laki dicirikan dengan sifat aktif, kuat dan pemrakarsa
seperti langit. Meskipun laki-laki dipandang superior, tetapi mereka tidak
dapat berbuat apapun tanpa perempuan sebagai komplemen.[4]
Dalam tata
aturan manusia, perempuan hanya dilihat dalam konteks keluarga, sementara
laki-laki dilihat dalam tata aturan sosial politik yang lebih luas.Dalam
keluarga, seorang perempuan tunduk kepada tiga kewajiban yaitu, sebagai anak
perempuan dia tunduk kepada ayahnya; sebagai istri dia tunduk kepada suami; dan
setelah tua tunduk kepada anaknya. Para penganut Kong Hu Cu menyebut laki-laki
dengan sebutan the way of sages (jalan kebijaksanaan), dan perempuannya
disebut the wifely way. Menurut masyarakat Cina wife memiliki makna
seorang perempuan yang membawa sapu. Dengan demikian bahwa wilayah domestik lah
yang tepat baginya.
Perkawinan
memang merupakan titik penting kehidupan perempuan, dan dari sisi peranannya
dia diidentikkan sebagai istri, saudari ipar dan ibu. Dalam teori, sebagai anak
tiri, perempuan tidak mempunyai banyak status dalam keluarga tempat dia dilahirkan,
karena untuk menggabungkan rangkaian keluarga lain dalam perkawinan, mereka
tidak akan pernah menjadi anggota resmi keluarga asli mereka (tidak ada catatan
yang akan mendukungnya di dalam altar nenek moyang keluarga).[5]
Seluruh
pendidikan kanak-kanak perempuan, semata-mata untuk mempersiapkan mereka dalam
perannya dimasa depan sebagai istri dan ibu. Berbeda dengan anak laki-laki, yang pergi
keluar rumah pada umur 10 tahun demi pendidikan sejarah dan hal-hal klasik,
maka anak perempuan tetap dirumah, terasing dalam tempat tinggal perempuan dan
dibawah bimbingan seorang pengatur. Mereka mempelajari sikap yang baik dan
keterampilan-keterampilan domestic seperti menjahit dan menenun.
Pada umur 15
tahun, seorang gadis akan menerima tusuk konde pada upacara menyambut usia
baru. Pada usia 20 tahun dia harus kawin. Tiga bulan sebelum perkawinan,
seorang perempuan muda harus diajari empat aspek karakter perempuan, yaitu
kebaikan, cara bicara, tingkah laku dan cara bekerja. Bagi perempuan dan
keluarga, kawin dan upacara perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting.
Perkawinan menandai terbentuknya satu hubungan baru dalam rantai kehidupan
keluarga, perjalanan suci dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Penekanannya terletak pada arti hubungan atau keberlanjutan ini bukan pada arti
bahwa perkawinan ini adalah permulaan sesuatu yang baru.[6]
Dalam upacara
perkawinan terdapat catatan catatan penting. Pertama, ide mengenai perkawinan
berbeda bagi laki-laki maupun perempuan. Kedudukan perempusn adalah di tempat
keluarga suaminya berada bukan di tempat keluarga asalnya. Kedua, ketika
memasuki jenjang perkawinan adalah lebih untuk kebaikan seluruh keluarga
daripada untuk kebahagiaan personal. Ketiga, pengantin perempuan yang baru
berhak mendapatkan penghormatan karena ia akan memainkan peranan yang krusial
dalam keseluruhan struktur keluarga.
Setelah upacara
pernikahan, pasangan harus melakukan sejumlah pemisahan tertentu dalam rumah
tangga. Mereka tidak boleh bercampur bebas tetap pisah tempat tinggal, kecuali
tidur.
Meskipun mereka
harus melakukan sejumlah pemisahan ini, akan tetapi mereka harus tetap
bersama-sama menyertai orang tuanya dan melaksanakan tata aturan mereka.
Sebagai contoh, ketika mereka bangun pagi dan berpakaian rapi, mereka harus
segera pergi ke tempat orang tua mereka.[7]
Perkawinan
seperti ini dianggap sakral dan tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, apabila
istri salah melakukan perbuatan tertentu, maka dia dapat dicerai oleh suaminya
untuk kembali ke keluarganya. Ada tujuh alasan tradisional istri dapat
diceraikan suami, yaitu tidak taat kepada orang tua, tidak bisa memberikan anak
laki-laki, persetubuhan, cemburu, dan mempunyai penyakit yang tak bisa
disembuhkan, terlalu banyak bicara dan mencuri.[8]
Seorang istri
tidak dapat menuntut cerai kepada suami. Sampai kematian suaminya pun ia
diharuskan untuk tetap setia dan tidak akan pernah menikah lagi. Sepeninggal
suaminya istri masih punya hubungan dengan keluarganya. Hal ini terjadi karena
keterikatan seorang perempuan dalam perkawinan bukan hanya dengan suaminya,
tetapi dengan keluarga suami. Begitulah jalan hidup seorang istri yang
dijelaskan dalam teks-teks ritual Kong Hu Cu klasik.
Pada masa
dinasti Han (206 SM-220 M), ketika Kong Hu Cu pertama kali dijadikan sebagai
ortodoksi memiliki upaya untuk membawa peran perempuan kepada aliran pokok
tradisi dan memberi mereka karya-karya
yang bersifat instruksional khusus dan biografi-biografi perempuan untuk
dicontoh.
Pan Chao adalah
seorang pengarang Instructions for women, ia adalah seorang perempuan
yang sangat terpelajar yang secara umum diakui kecendekiaan dan
intelektualitasnya. Dia diundang ke istana untuk mengajar perempuan-perempuan
keluarga kerajaan.
Ia menjelaskan
tiga aspek fundamental tentang lapangan kerja perempuan sebagai istri. Pertama,
sebagai perempuan harus bersikap rendah dan tunduk, sederhana di hadapan orang
lain. Kedua, ia harus bekerja keras dan rajin dalam wilayah domestik. Ketiga,
dia harus sepenuhnya mengemban tanggung jawab istri terhadap para leluhur
keluarga suaminya. [9]
Pan Chao
menerima persesuaian kosmologis. Oleh karena itu, mengenai kewajiban istri
terhadap suaminya adalah melayaninya, dan suami mengatur istrinya. Dari kedua
kewajiban tersebut apabila salah satu tidak dilaksanakan kewajibannya, maka
akan rusak.
Lalu kewajiban
istri terhadap para iparnya. Istri dianjurkan untuk memberikan kesenangan bagi
mereka semua. Secara spesifik, terhadap ibu mertua istri menganggapnya adalah
bayangan dari dirinya, sehingga ia selalu bersama dengannya dan apapun yang ia
perintahkan harus dipatuhi meskipun mertuanya itu salah. Keangkuhan ipar pun
menjadi tantangan bagi pengantin perempuan. Akan tetapi, dia diingatkan untuk
selalu merendahkan diri dihadapan mereka. Dan istri yang menjalankan semua ini
akan mendapat balasan yang setimpal. Ia akan menjadi kebanggaan bagi mertuanya,
namanya akan termasyhur dikalangan tempat tinggalnya bahkan sampai kepada orang
tuanya.[10]
Pan Chao
memberikan pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan perempuan Cina. Ajaran
tersebut menjadi prototype dari keseluruhan teks-teks ajaran tentang perempuan
yang muncul berikutnya.[11]
Adapun
pembahasan bias gender perempuan dalam teks-teks Konghucu seperti dalam kitab
Sanjak (Shi-Ching, bagian Chiang Chung-tsu, Sanjak 3 dengan judul Menjinjing
Busana) terdapat sanjak yang yang memperlihatkan
bagaimana seorang perempuan berupaya mempertahankan martabatnya di hadapan
laki-laki. Bunyinya adalah “Chung, kekasihku yang
terhormat, kumohon janganlah bertindak demikian, melompat masuk ke kebunku,
hingga mematahkan dahan pohon-cendanaku. Kerusakan itu dapat ku abaikan, tetapi bila
ada seorang sekitar mengetahui perbuatanmu itu, mereka akan bertanya: Gerangan apakah yang
membawa pemuda itu ke sana? Kata-kata mereka inilah yang ku khawatirkan. Engkau,
Chung mendapat jantung-hatiku tetapi umpan caci
merekalah yang akan mencemarkan daku.” Jadi Sanjak tersebut menunjukkan bahwa meskipun wanita
bebas merdeka pada zaman itu, tetapi mereka tidak menyetujui percintaan bebas
tanpa batas-batas kesusilaan.
Pada Sanjak 6
yang terdapat pada bagian
Wei, berjudul Mang (Bajingan) berbunyi sebagai berikut, ”Tetapi engkau tak
mengenal tebing maupun pantai, nafsumu tak pernah mengingkari hal ini. Kembali
pada masa remajaku yang bahagia, tatkala rambutku masih terikat pada pita,
dengan tak berpikir panjang lebar, engkau kuikuti.
Aku tak mengerti, bahwa
janji setia dan senyum manismu ternyata palsu belaka. Bagiku engkau mengucapkan
sumpah suci, siapa tahu, kini kau ingkari semua. Tak ku sangka engkau
begitu jahanam. Sekarang aku menyesal tanpa guna”. Sanjak tersebut menggambarkan kecaman
perempuan secara terbuka terhadap perlakuan sewenang-wenang oleh laki-laki terhadap perempuan.
Sedangkan
adil gender dalam teks-teks Konghucu terdapat pada
kitab Lee Ki (Catatan
Kesusilaan) yang menyebutkan bahwa
“Pernikahan ialah
pangkal peradaban sepanjang jaman. Dia bermaksud memadukan dan
mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk
melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang
Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan”.
Adapula
dalam Kitab Sanjak yang tertulis bahwa “Keselarasan hidup
bersama anak isteri itu laksana alat musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan
diantara kakak dan adik itu membangun damai dan bahagia. Maka demikianlah
hendaknya engkau berbuat di dalam rumah tanggamu; bahagiakanlah isteri dan
anak-anakmu”.[12]
Diceritakan bahwa sebelum masa kelahiran Nabi Kong Hu Cu seorang lelaki, apalagi seorang Raja pada jaman itu seakan-akan berhak mempunyai seorang istri sah
dengan beberapa orang selir. Pada waktu Raja Ciu Yu
Ong (781-771 SM) walaupun telah beristri, ia pemburu
wanita perempuan cantik. Ketika ada menterinya yang bernama Pau Siang
mengingatkan Sang Raja, untuk memperhatikan masalah-masalah kenegaraan daripada
memikirkan perempuan cantik, malah sang raja marah, lalu memenjarahkan Pau
Siang. Mengetahui kelemahan sang raja,
keluarga Pau Siang akhirnya mempersembahkan seorang perempuan cantik bernama
Pau Su. Pau Su perempuan cantik-jelita itu dijadikan selir. Namun, karena
begitu cantiknya sang gadis, membuat sang Raja tega memulangkan istri sahnya
kepada orang tuanya dan menjadikan Pao Su sebagai permaisuri. Pada jaman itu para lelaki bangsawan dapat mempunyai satu orang
istri sah dan kemudian mempunyai beberapa orang selir.
Sing Jien (Nabi) Kong Hu Cu
sejak kecil, tepatnya ketika berusia tiga tahun, telah kehilangan ayahnya
sehingga pendidikannya semata-mata bergantung pada ibu dan nenek luarnya.
Ternyata ibu Tien Cai seorang yang teguh iman dan bijaksana untuk merawat,
membimbing, dan mendidik anaknya sebaik-baiknya. Kasih
sayang seorang Ibu yang begitu dirasakan Nabi berpengaruh besar pada kehidupan
selanjutnya. Beliau begitu menghormati perempuan, sehingga sampai akhir
hayatnya hanya beristri seorang perempuan saja. Secara sekilas kehidupannya berkaitan dengan perempuan. Penghormatan Nabi Kong Hu Cu
terhadap kedudukan perempuan tersebut mempunyai dampak yang luas sekali baik
dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.
Nabi Kong Hu Cu menikah pada usia 19 tahun dengan
seorang gadis dari keluarga Kian Kwan dari negeri Song. Dari hasil
pernikahannya mempunyai 3 orang anak, yaitu 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Pada
waktu beliau
berumur 26 tahun ibunya
meninggal dunia. Untuk memberikan perhormatan kepada ibu yang dicintainya, Nabi
Kong Hu Cu
memutuskan mengadakan perkabungan selama 3 tahun lamanya.[13]
Posisi perempuan dalam agama Konghucu tergolong tidak terlalu terdiskriminasi dibanding dalam agama
lainnya. Dalam agama Konghucu, terdapat Nabi
yang berjenis kelamin perempuan. Sebuah fenomena yang cukup menggembirakan
tentunya bagi kaum perempuan penganut agama Konghucu. Jadi jika terdapat
naskah-naskah yang ditemukan dan berkaitan dengan ajaran Konghucu ada yang menyuarakan anti perempuan,
maka kemungkinan itu hanya sebagai rasa emosi dan
egoisme para cendekiawan pria pada masa itu. Sebab pada masa dinasti
Ch’in yang dipimpin oleh Shih Wang-ti (221-209
SM) tersebut terjadi pemusnahan
besar-besaran kitab-kitab ajaran Konghucu.[14]
C. Peran Perempuan
dalam Sejarah Perkembangan Agama Kong Hu Cu
1.
Munculnya generasi Neo-Kong Hu Cu
Dengan jatuhnya
dinasti Han pada tahun 220 M, Kong Hu Cu dipudarkan oleh agama Buddha dan
Tao.Agama ini tidak memainkan peranan penting dalam wilayah tersebut sampai
kemunculannya kembali dalam bentuk Neo-Kong Hu Cu pada masa dinasti Sung
(960-1279). Ketika Neo-Kong Hu Cu muncul, terjadi perubahan besar yang sangat
berpengaruh dalam kehidupan perempuan.[15]
Generasi awal
Neo-Kong Hu Cu bekerja dengan tekun membangkitkan kembali kekuatan Kong Hu Cu
dalam rangka mengembalikan teritorial yang hilang, yang menjadi wilayah
orang-orang Buddha. Tantangan mereka adalah mengukuhkan kembali keluarga dan
negara sebagai titik pusat kewajiban keagamaan. Mereka menentang orang-orang
Buddha atas usahanya pribadi lepas dari dunia dan mengarahkan energi mereka
untuk membangun tata aturan manusia. Akan tetapi, mereka cukup terkesan dengan
kedalaman spiritualisme orang-orang Buddha. Neo-Kong Hu Cu yang terlahir lebih
mengarah pada tradisi keagamaan jika dibanding dengan Kong Hu Cu awal dan lebih
dipersoalkan pada hal-hal metafisik, interioritas manusia dan praktik-praktik
keagamaan seperti meditasi.
Perempuan dapat
dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya karena salah satu ikatan yang paling
erat dari seorang laki-laki penganut Kong Hu Cu adalah istrinya. Perempuan
kemudian dilihat sebagai pihak yang berperan dalam mengaktifkan keinginan, baik
yang sensual maupun afektif. Ada suatu kebutuhan yang dirasa perlu untuk
menjamin bahwa mereka benar-benar mengontrol keinginannya dan mengganggu atau
membalikkan usaha laki-laki untuk maju menuju kebijaksanaan.[16]
2. Peranan
Perempuan dalam berpolitik atau bernegara
Di dalam Kitab
Bingcu[17]
diceritakan pada Zaman Raja Bu pendiri
dinasti Chou ( 1122 – 255 s.M.) diantara 10 orang menteri yang cakap terdapat
seorang perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam bidang
pendidikan kualitas pendidikan yang diberikan baik kepada laki-laki maupun
perempuan tidak terdapat pembedaan, sehingga memungkinkan perempuan menduduki
tempat terhormat. Di lain pihak ternyata telah terjadi pula perempuan
dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan politik tertentu. Sekitar tahun 500
sebelum Masehi ketika Nabi Kong Hu Cu menjabat sebagai Perdana Menteri
merangkap menteri Kehakiman Negeri Lo yang bersama-sama Raja Lo Ting Kong
berhasil menertibkan kekuasaan pemerintahan; kesejahteraan dapat ditegakkan dan
dikembangkan serta ajaran agama yang benar ditaati dan diselenggarakan. Melihat
keberhasilan Nabi dalam menyelenggarakan pemerintahan negeri Lo, ternyata
sangat mencemaskan negeri Cee, sehingga mereka mencari muslihat untuk
menggagalkannya. Mereka berpura-pura menunjukkan persahabatan dan memuji-muji
keberhasilan negeri Lo dengan mengirimkan beraneka ragam hadiah.Suatu ketika
diantarkan hadiah berupa delapan puluh orang gadis penari yang telah terlatih,
lengkap dengan perangkat musik serta penabuhnya dan sejumlah kereta untuk
berburu lengkap dengan kuda-kudanya sebagai ‘tanda persahabatan’. Atas hadiah
ini, Nabi Kong Hu Cu meminta Rajamuda Ting untuk tidak menerimanya tetapi
kepala keluarga Kwi, Kwi Hwancu diam-diam telah datang ke pasanggrahan
orang-orang negeri Cee, dan kemudian mengajak Rajamuda Ting datang ke sana
melihatnya. Raja Muda Ting yang semula sempat curiga, akhirnya tidak dapat
mengendalikan dirinya melihat hadiah istimewa tersebut dan mulai tergoda untuk
bersuka ria dengan gadis-gadis penari yang jelita dan bergembira menaiki
kuda-kuda yang bagus itu untuk berburu, sehingga ia terlena dan mengabaikan
tugas kewajibannya.[18]
Bahkan pada waktu melakukan upacara
besar kepada Tuhan Yang Maha Esa Rajamuda Ting melakukannya dengan setengah
hati. Nabi Kong Hu Cu, sebagai orang yang sangat mementingkan tegaknya lee (
kesusilaan, kewajiban) akhirnya memutuskan meletakkan jabatan dan meninggalkan
Rajamuda Ting yang sudah mabuk kepayang itu. Nabi Kong Hu Cu sangat menjunjung
tinggi makna ajaran Cinta Kasih. Bagi Nabi Kong Hu Cu orang yang menjunjung
“Cinta Kasih, harus mampu mengendalikan diri dan pulang kepada kesusilaan.[19]
Sekitar tahun
246-210 sebelum Masehi Negara Tsi sempat dipimpin oleh seorang Ratu, yang
sayangnya dia termasuk Ratu yang materialistik, karena mau menerima uang suap
dari Raja Shi Huang Ti dan tidak bersedia bergabung dengan negara-negara lain
untuk menentang ekspansi Raja Shi Huang Ti.
Pada zaman dinasti Han (202 S – 220 M) ketika bangsa Tartar
dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat bernama Mow-Tan menyerang dinasti Han
yang dipimpin oleh Liu Pang alias Kao Tsu dan hampir dapat dikalahkan. Seorang
Gadis jelita bersedia menyabung nyawa demi berupaya menyelamatkan negaranya
dinasti Han. Gadis cantik yang tinggal di istana itu menghadap Kaisar dan
berkata,”Kirimkanlah hamba ini kepada panglima bangsa Tartar sebagai hadiah
tanda perdamaian. Hamba akan memikat hati panglima ini, sehingga ia mau
beristerikan hamba; dia akan mencintai hamba sedemikian rupa, sehingga
permintaan hamba akan selalu dikabulkan. Hamba akan meminta kepadanya, supaya
berdamai dengan Baginda…” Maka gadis cantik ini berhias,
berpakaian dan berdandan seindah-indahnya, wajahnya dihias se-bagus-bagusnya,
dan memakai perhiasan kepala dari emas dan intan; kemudian dengan naik sebuah
tandu dia pergi ke perkemahan orang-orang Tartar sebagai pemberian hadiah
perdamaian. Di situ ia berbuat seperti yang telah dijanjikan kepada Kaisar; dan
berhasil, karena Mou-Tan mengadakan perdamaian dengan Kao-Tsu. Namun dikisahkan
perdamaian itu dianggap sebagai penghinaan bagi orang Han.[20]
Peranan perempuan dalam politik ini sangat luar biasa
seperti diceritakan bahwa pada Zaman Gelap (300 – 600 Masehi) ketika seorang
Kaisar bernama Liu Tsung yang telah mempunyai banyak istana dikritik oleh
seorang menterinya ketika merencanakan membangun istana khusus bagi
permaisurinya bahwa maksud Kaisar itu hanya akan menghambur-hamburkan uang saja
dan Kaisar murka hendak membunuh menterinya itu. “Sang permaisuri yang
bijaksana itu menulis surat,”Segala bencana yang menimpa negeri kita,
disebabkan oleh seorang perempuan. Saya tidak mau dikatakan, bahwa beban rakyat
menjadi berat karena saya.Lebih baik saya dibunuh saja di istana ini, daripada
membuat sebuah istana lagi untuk saya”.Kaisar menurut, menteri tadi tidak jadi
dibunuh dan istana tidak jadi dibuat.[21]
Pada Zaman Dinasti Tang (618-907 M) tersebutlah seorang Kaisar yang
bijaksana dan didampingi seorang permaisuri yang bijaksana pula. Dia bukan
mempekerjakan tentara untuk mendirikan bangunan-bangunan umum, tetapi ia
memelihara tentaranya, ia berikan latihan dan menghadiahkan panah atau pedang
kalau mereka telah berjasa. Dia mendirikan gedung-gedung sekolah dan memberi
dorongan kepada orang-orang cerdik pandai (tak peduli laki-laki atau pun
perempuan) untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Dia sangat taat kepada Ajaran
Kong Hu Cu untuk memberi contoh kepada rakyatnya. Dia memimpin negara
berdasarkan satunya kata dengan perbuatan, “Merampas harta-benda rakyat untuk
kepentingan dan untuk memuaskan hati Raja, adalah bagaikan memotong daging kita
sendiri untuk memuaskan rasa lapar kita”. “Jika seorang raja menipu pegawainya,
bagaimanakah dia dapat mengharap kepercayaan mereka? Pangeran-pangeran adalah
bagaikan mata-air, dan pegawai-pegawai bagaikan sungainya. Jika mata-air
menjadi kering sungai pun demikian juga”. Ketika beberapa orang menterinya
berkata, bahwa adalah berbahaya sekali untuk dengan secara bebas bergaul
di-tengah-tengah prajurit dan rakyat, dia menjawab, “Saya memerintah kerajaan seperti
seorang ayah mengurus rumah tangganya, dan seluruh rakyat saya anggap anak-anak
ku sendiri. Saya membandingkan perasaan hati mereka dengan perasaan hatiku, jika saya mencintai mereka sebagai
seorang ayah mencintai anak-anaknya, bagaimanakah saya akan sampai hati untuk
mencurigai dan menuduh rakyat, hendak berbuat jahat terhadap saya?”[22]
Suatu hari ia berpergian naik perahu
dengan puteranya. Ia berkata, “Lihatlah anakku, rakyat boleh kita umpamakan sebagai air dan
raja adalah perahunya. Jika air tenang, perahu dapat berlayar dengan aman,
tetapi jika air menjadi bergolak, perahu dapat dihempaskan kian-kemari dan
akhirnya bisa juga hancur”. Kaisar Tai Tsung mempunyai permaisuri yang sangat
bijaksana, lemah lembut, dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Dia mengutip
pepatah kuno, “Jika
ayam betina ikut berkokok di waktu pagi, keluarga akan mengalami
bencana”.Meskipun demikian, dia mengambil bagian juga dalam jalannya roda
pemerintahan, seperti juga halnya dengan permaisuri Suen Wang dalam dinasti
Chou. Pada suatu hari setelah menerima para menteri, Kaisar dengan tergopoh-gopoh
pergi ke kamar sang permaisuri dan berkatalah dia dengan marah, “Saya tak akan berkuasa penuh, jika
orang celaka itu masih saja di sini”. Orang celaka siapa?”, tanya permaisuri.
Kaisar menjawab,”Wei Ching”. Sang permaisuri mengetahui secara pasti bahwa Wei
Ching adalah seorang menteri yang sangat cakap, sangat jujur dan selalu
mengatakan hal-hal yang benar dan seringkali menentang keputusan Kaisar, karena
keputusan itu dianggapnya tidak bijaksana”. Tai Tsung menghendaki kepada
menteri-menterinya supaya menentang menjalankan keputusan jika perlu, tetapi
dia merasa dirinya kuat dan membanggakan kecakapannya, maka ia seringkali
merasa kesal terhadap Wei Ching yang selalu berani menentang putusan-putusannya
itu. Mendengar amarah suaminya, sang permaisuri berdiam diri, tetapi dia meninggalkan kamar dan
berpakaian seolah-olah mau mengunjungi upacara besar, pakaian permaisuri mewah dan bunga dari intan menghiasi
kepala gemerlapan di atas wajah yang berseri-seri, sehingga Tai Tsung sendiri
merasa keheran-heranan. “Mengapa kamu berpakaian seindah itu”? Tanya Tai Tsung,
maka dijawab permaisuri, “Hamba selalu mendengar, bahwa Kaisar yang sungguh-sungguh
agung, mempunyai menteri-menteri yang jujur dan berhati luas. Wei Ching
termasuk di dalamnya. Bukankah itu suatu bukti bahwa
Baginda sungguh agung? Hamba datang hendak menyampaikan selamat kepada
Baginda”. Hati Kaisar menjadi reda dan ia tak marah lagi. Sejak itu ia
menghormati Wei Ching lebih dari waktu sebelumnya.[23]
Nabi Muhammad dan Tai Tsung hidup sezaman. Seorang keluarga
Nabi Muhammad membuat perjalanan ke Chang An dan bertemu dengan Kaisar Tai
Tsung. Dia sangat heran dan kagum melihat keadaan Negeri Tang yang teratur dan
baik itu, sedang rakyatnya pandai sekali di dalam mengerjakan kerajinan tangan. Kemudian dia menulis, “Diantara seluruh umat manusia yang
diturunkan oleh Tuhan, bangsa Tionghoa paling pandai dalam kerajinan tangan, ilmu melukis, dan segala macam kerajinan
lainnya”.
3.
Kedudukan
Perempuan dalam pendidikan
Menurut Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan)[24],
Bab Peraturan Dalam, perempuan dan pria secara terpisah menerima pendidikan.
Sejak mulai dapat berbicara, “logat dan perhiasan” yang dipakai tidak sama.
Pada umur 6
tahun, diajarkan angka dan nama tempat, pada umur 7 tahun diajarkan khasiat dan manfaat
bahan-bahan makanan, pada umur 10, pria harus keluar belajar, sedangkan perempuan tetap
tinggal di dalam rumah belajar berbicara sopan santun, menenun, menjahit,
memasak, bersembahyang, dan lain-lain hingga berusia 15 tahun.
Menurut Chou-li (Kitab Kesusilaan) dinasti Chou, pada zaman itu, di
istana-istana terdapat pejabat-pejabat tinggi wanita dalam bidang keibadahan,
pencatatan sejarah dan sebagainya. Kata-kata “Ajaran empat kesusilaan ( Szu teh) pada wanita”, barangkali
ditujukan pada wanita kaum bangsawan istana-istana. Empat Kesusilaan ialah
kebajikan (teh),
rupa (yung), tutur-kata (yen), dan jasa (kung). Mungkin “rupa” menunjukkan
sikap dan etiket, “tutur-kata” dekat pada memberi perintah, “jasa” melambangkan
kemampuan memelihara ulat sutera, menenun, memasak dan sebagainya. Kaum perempuan bangsawan tidak
mungkin menjadi lebih unggul daripada kaum pria dalam banyak hal, bila tidak
menerima pendidikan yang sama dengan kaum pria. Walaupun kaum perempuan
bangsawan menerima pendidikan di rumah, kaum pria di sekolah. Jadi hanya berbeda tempat saja, tetapi kualitas
pendidikan sama. Di sini nampak sudah adanya emansipasi dalam pendidikan dan
hidup kemasyarakatan pada zaman itu. Nabi Kong Hu Cu bersabda, “Siapa pun yang datang memohon
diterima sebagai murid, aku tidak pernah menolak untuk memberi pendidikan”
“Pemerintah
yang baik tidak sebanding dengan pendidikan yang baik”.[25]
4.
Kedudukan
Perempuan dalam bidang ekonomi dan sosial.
Di dalam kitab Shi-Ching (Sanjak)[26]
melukiskan teladan utama perempuan dalam memelihara ulat sutera, dan membikin
benang sutera dan mempunyai pengaruh besar dalam pertanian, kehutanan dan
perikanan. Diperkirakan di zaman kuno itu barangkali pertanian dan perdagangan
berada di tangan wanita.Bentuk pembagian kerja “pria berburu, perempuan
bercocok tanam”, menenun sutera dan berniaga dan pada dinasti Ch’ou berubah
menjadi “pria bercocok tanam, wanita menenun”.
“Orang-orang yang diam di sekitar pasar yang memiliki toko,
janganlah dikenakan denda sebagai pemalas, dan yang tidak bercocok tanam,
janganlah dikenakan denda.” Dalam pengurusan harta keluarga,
seorang isteri dimintakan peran aktifnya agar jangan sampai terjadi pemborosan,
seperti diungkapkan ayat-ayat berikut,” Di dalam mengatur rumah tangga tidak
berani berlaku sewenang-wenang kepada para pembantu dan pelayan, apalagi kepada
isteri dan anak-anaknya. dengan demikianlah cara mereka mengabdi pada orang tua
mereka.
“Mengurus
harta pun ada Jalannya Yang Benar,bila penghasilan lebih besar daripada
pemakaian dan bekerja setangkas mungkin sambil berhemat, niscaya harta benda
itu akan terpelihara”. Nabi Kongcu bersabda,”Seseorang yang hanya mengejar
keuntungan saja niscaya banyak yang menyesalkannya”.[27]
Dalam rangka membenarkan nama-nama, Ajaran Konghucu
mengajarkan lima hubungan sosial, yang dinamakan Ngo Lun, yaitu hubungan antara
raja dengan menteri; ayah dengan anak; kakak dengan adik; suami dengan isteri;
dan antara seorang individu dengan individu lainnya. Dalam prakteknya kelima
hubungan sosial ini hendaknya didasarkan pada cinta kasih sebagai pencerminan
dari rasa kasih sayang dengan mengindahkan nilai sopan-santun.Hubungan antara
raja dengan menteri, untuk menggambarkan bagaimana seharusnya hubungan antara
pejabat dengan stafnya. Jika hubungan antara keduanya harmonis,maka akan
dicapai suatu hasil yang optimal. Pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan
baik, karena adanya suasana kerja yang menggembirakan, mereka bekerja tanpa
adanya rasa terpaksa, akan tetapi karena tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Hubungan antara ayah dan anak,perlu dibina sedemikian rupa, sehingga orang tua
dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, demikian pula anak-anak
menaruh hormat dan bakti kepada orang tuanya yang telah bersusah payah mendidik
dan membesarkannya tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun. Hubungan antara
kakak dan adik perlu juga mendapat perhatian agar tercipta suasana keluarga
yang menyenangkan.Seorang kakak dapat memberikan bimbingan dan perlindungan
terhadap adik-adiknya. Demikian pula sebagai adik, maka dapat memberikan
bantuan kepada kakaknya. Hubungan suami dan isteri perlu adanya rasa saling
menyayangi, menghormati dan pengertian antara satu dengan lainnya, sehingga
perkawinan sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang
perempuan yang bertujuan membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan
melangsungkan keturunan berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa dapat direalisir.
Hubungan dengan individu yang lain perlu dijaga dengan baik, karena orang untuk
mencari teman itu akan lebih muda daripada untuk mempertahankan agar tetap
menjadi teman yang baik, dengan berbagai penyebabnya, yang salah satunya karena
masing-masing terlalu sibuk untuk mencukupi kebutuhannya. Kelima hubungan ini
sesungguhnya merupakan penjabaran dari ajaran tentang bakti anak terhadap orang
tua, yang sering digambarkan sebagai solidaritas sosial dan saling
ketergantungan manusia. Dalam lingkungan usaha kebutuhan yang sama dan saling
tergantung satu dengan yang lain, sehingga diperlukan suatu hubungan timbal
balik yang sehat, karena semuanya itu sebagai mitra usaha.[28]
D. Reinterpretasi dan
adaptasi peran-peran gender tradisional
Setelah Pan chao
menjadi masyhur di kalangan para cendekiawan, mulailah muncul beberapa penulis
lainnya yang mencoba menginterpretasi teks-teks suci dalam ajaran konfusius.
Dua di antara tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Ms. Ch’eng (700
M) dan Sung Jo-Chao (800 M).[29]
Dua penulis
perempuan ini mengambil dua keuntungan besar dengan mengikuti gaya Pan Chao
dalam menulis kitab-kitab mereka. Pada bagian ini perempuan sudah mulai
mencari-cari kesalahan para suami dengan mempertanyakan beberapa sifat
laki-laki yang tidak selamanya berada dalam perbuatan yang baik. Contohnya
dalam The Classic Of Filial Piety yakni sifat sederhana dan bersahaja
sama agungnya dengan yang dikemukakan dalam Analects for Women yang
ditulis seratus tahun kemudian. Sung Jo-Chao, pengarang yang sangat terkesan
dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya dicurahkan untuk pendidikan moral bagi
perempuan. Bukunya Analects for Women kaya akan uraian-uraian yang
kongkrit tentang bagaimana mengolah karakter pribadi seseorang, bagaimana
memimpin atau menjalankan rumah tangga dan bagaimana mengurus hubungan rumah
tangga. Nasehat berikut berasal dari bab pembukaan.“Jagalah tubuhmu tetap
bersih dan kehormatanmu tetap tak ternoda. Jika berjalan jangan tengokkan
kepalamu, jika berbicara jangan
buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri jangan kirapkan pakaianmu. Jika engkau
merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa terbahak-bahak, jika marah jangan
melepaskannya dalam suara yang keras.”[30]
Dalam Konghucu klasik, seseorang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dengan
membenamkan diri dalam jaringan hubungan manusia. Sedangkan pada masa
Neo-Konghucu (Neo-Konfusianisme) terdapat banyak ambivalensi mengenai hubungan
ini. Dalam arti bahwa hubungan tersebut hanya menjadi satu sumber halangan daripada
sebuah sumbangan untuk pencarian seseorang akan kebijaksanaan. Perempuan dapat
dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya karena salah satu ikatan
yang paling erat dari seorang laki-laki penganut konfusianisme adalah dengan
istrinya.
Ketika Neo-Konghucu muncul, terjadi perubahan besar yang sangat berpengaruh
dalam kehidupan perempuan. Mengingat bahwa Neo-Konghucu adalah gerakan
keagamaaan, sehingga titik tolak mereka lebih ditekankan pada tradisi
keagamaan, berbeda pada Konghucu klasik, yang menitikberatkan pada hal-hal yang
bersifat metafisis. Dalam hal Neo-Konghucu, perempuan ditekankan untuk mampu
mengontrol keinginan dan disiplin pribadi.
Salah
satu kaisar dari dinasti Ming, kaisar Shu, berusaha memajukan kedudukan
perempuan dalam dunia sosial dan dunia keluarga. Dalam dunia sosial dia
menekankan bahwa perempuan juga berhak menjadi penasehat moral dalam kerajaan.
Kemudian dalam dunia keluarga dia mengatakan bahwa perempuan itu juga bisa
mandiri sama seperti laki-laki.[31]
Jadi disimpulkan bahwa perempuan dalam Neo-Konfusianisme sangat berbeda dengan konfusius yang menganut ajaran kosmis.
Pada jaman kosmis perempuan dianggap pasif seperti bumi, selalu dianggap
rendah, kurang cerdas, dan sebagainya. Tetapi ketika Neo-Konfusianisme
muncul, banyak penulis-penulis yang menekankan kepada kehormatan seorang
perempuan, bahwa perempuan itu memainkan peran
sentral dalam kehidupan bermasyarakat sampai pada
masa modern saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006).
Huston
Smith, Agama-agama Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008).
Diakses
dari http://relasigender11.blogspot.co.id/2015/12/revisi-makalah-kelompok-11-dalam-agama.html pada tanggal 22 November 2016 pukul 05:34 WIB.
Diakses
dari http://rgdateam10.blogspot.co.id/2015/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html pada tanggal 20 November 2016 pukul 4:03 WIB.
Diakses
dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016 pukul
17.00 WIB.
[1] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.189.
[2] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.190.
[3] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.191.
[4] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.196.
[5] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.196.
[6] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.197.
[7] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.200.
[8] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.200.
[9] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.202.
[10] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.204.
[11] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.205.
[12] Diakses dari
http://rgdateam10.blogspot.co.id/2015/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html pada
tanggal 20 November 2016 pukul 4:03 WIB.
[13] Diakses dari
http://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghucu-sebuah-telaah-awal.html pada
tanggal 20 November 2016 pukul 17:00 WIB.
[14] Diakses dari
http://relasigender11.blogspot.co.id/2015/12/revisi-makalah-kelompok-11-dalam-agama.html pada
tanggal 22 November 2016 pukul 05:34 WIB.
[15] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h. 216.
[16] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.217.
[17] Kitab Bingcu
merupakan kitab yang berisi sikap Bingcu yang tegas dan lurus di dalam
menegakkan kemurnian ajaran agama Kong Hu Cu baik terjadi pada zaman raja-raja
itu maupun tokoh berbagai aliran.
[18] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[19] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[20] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[21] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[22] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[23] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[24] Kitab suci tentang
peribadahan, kesusilaan, tata kemasyarakatan, dan pemerintahan.
[25] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[26] Kitab suci yang
merupakan kumpulan sanjak atau nyanyian dari berbagai negeri, ada nyanyian
upacara di istana dan tempat ibadah, sanjak atau nyanyian yang paling tua
berasal dari zaman dinasti Siang dan yang paling muda berasal pada zaman dinasti
Ciu.
[27] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[28] Diakses dari https://www.spocjournal.com/filsafat/209-perempuan-dalam-teks-ajaran-Konghuchu-sebuah-telaah-awal-html
pada tanggal 09 November 2016
pukul 17.00 WIB.
[29] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.206.
[30] Arvind Sharma, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.207.


0 komentar:
Posting Komentar