Rabu, 30 November 2016 0 komentar

Relasi Gender dalam Konghucu

RELASI GENDER DALAM AGAMA KONGHUCU

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Nilai Matakuliah Relasi Gender dalam Agama-Agama




Dosen : Siti Nadroh, M.Ag.
Disusun oleh :
Kelompok 11 ( VA )
                Adiba Zahrotul Wildah      ( 11140321000025 )
                Binna RidhatulShaumi       ( 11140321000026)
                Muhammad Wahyu            ( 11140321000010 )






JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016



KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat, karunia, serta kasih sayang terbesar-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Relasi Gender dalam Agama Konghucu”.
            Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Relasi Genderdalam Agama-Agama.Selain itu, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa/i dalam menyusun karya tulis.
            Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian demi memperbaiki makalah ini untuk penulisan lain di kemudian hari.
            Semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua.Sekian dan terimakasih.


Ciputat, 05 November  2016
                                                                                          
                                                                                                            Penulis






A.    Pendahuluan
            Gender sudah banyak diperbincangkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkup kaum intelektual. Berbagai permasalahan perempuan di penjuru dunia telah mendorong semakin berkembangnya perdebatan panjang tentang pemikiran gerakan feminisme. Kajian tentang perempuan baik di kampus-kampus, seminar, diskusi-diskusi, tulisan dalam media massa, dan lainnya merupakan upaya dalam pemecahan permasalahan tersebut, namun hampir semua upaya tersebut justru mempersoalkan tentang diskriminasi dan ketidakadilan. Pusat studi wanita yang dinilai sebagai upaya dasar dalam menghadapi permasalahan perempuan muncul diberbagai universitas di Indonesia. Pusat studi gender tersebut muncul karena dorongan kebutuhan akan konsep baru dalam memahami kondisi dan kedudukan perempuan dengan menggunakan perspektif yang baru.
            Perbedaan laki-laki dan perempuan berlandaskan gender mungkin tidak akan mendatangkan masalah apabila tidak menimbulkan ketidakadilan atau diskriminasi antar keduanya. Seperti dalam agama Konghucu, kedudukan perempuan yang dinilai masih rendah merupakan suatu ketidakadilan bagi perempuan tersebut. Walaupun itu, perempuan dianggap memiliki kedudukan yang penting dalam tata aturan kosmis maupun dalam kehidupan keluarga. Bahkan Nabi Konghucu sangat menghormati kedudukan perempuan sebagaimana diceritakan dalam teks-teks Konghucu. Jadi, meskipun perempuan sering mendapat perlakuan tidak adil atau diskriminasi, tetapi perempuan juga memiliki posisi penting dalam aspek tertentu yang dihormati oleh berbagai kalangan. Lebih lengkapnya akan kami sampaikan dalam pembahasan makalah ini yaitu makalah dengan tema Relasi Gender dalam Agama Konghucu.

B. Status Perempuan dalam Ajaran Agama Kong Hu Cu
Posisi perempuan dalam agama Kong Hu Cu pada hakekatnya masih rendah. Ini terjadi karena Kong Hu Cu sendiri merupakan suatu tradisi keagamaan yang patrialkhal. Meskipun begitu, perempuan memiliki andil yang penting dan sentral karena kedudukan mereka yang menguntungkan baik dalam tata aturan kosmis maupun keluarga.
Pada Konghucu Masa Klasik, tata aturan kosmis dipandang sebagai kesatuan dari tritunggal, yaitu langit, bumi dan manusia. Manusia berhubungan erat dengan langit dan bumi, tetapi tidak seperti hubungan mereka dengan Tuhan dalam konsep barat. Panggilan bagi manusia bukan untuk menyembah langit dan bumi, tetapi untuk belajar dari keduanya, meniru tingkah laku keduanya, dan dengan demikian membentuk satu tata aturan manusia yang mencontoh tata aturan kosmis.[1]
Tiga aspek utama kosmis khususnya mengesankan penganut Kong Hu Cu sebagai pelajaran-pelajaran berharga yang dipelajari dalam tata aturan kosmis, yaitu pertama langit dan bumi dipandang secara fundamental sebagai sumber kehidupan. Kedua, yang dihargai oleh penganut Kong Hu Cu adalah segala sesuatu dalam kehidupan ini saling bergantungan. Dan yang ketiga adalah kebiasaan yang teratur yang lebih mengedepankan harmonitas daripada konflik.[2]
Mengenai aspek yang kedua dari tata aturan kosmis ini pada dasarnya para penganut Kong Hu Cu sudah lebih paham arti dari keberagaman dan kehidupan bermasyarakat. Seluruh manusia pada mulanya dan hingga kini berada dalam suatu hubungan karena tidak ada individu yang hidup sendiri dan menyendiri. Terdapat banyak sekali hubungan seperti hubungan antara orang tua dan anak, antara kakak dan adik, pemimpin dengan rakyatnya, bahkan hubungan social antar teman. Hubungan-hubungan ini bukan sekedar bersifat biologis atau social tetapi lebih penting dari itu, hubungan tersebut merupakan hubungan moral. Menurut penganut Kong Hu Cu, manusia memerlukan lebih dari sekedar makanan dan perlindungan diri untuk keberlangsungan hidup mereka. Mereka membutuhkan respon dan dorongan empati dari manusia lain.
Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa sesungguhnya tata aturan kosmis ini sudah menjadi sumber primer wahyu Tuhan dan merupakan model bagi tata aturan manusia, bahwa keluarga dipandang sebagai pusat komunitas yang suci dan bahwa seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan bekerja dalam setting kontekstual, hierarkis dan koreografial yang tinggi.[3]
Dalam tata aturan kosmis tentang segala sesuatu, kita mengenal konsep Yin dan Yang dalam kehidupan di dunia ini. Yang disini digambarkan sebagai langit yang superior dan yin sebagai bumi yang inferior. Keduanya memang berbeda, tetapi saling bergantung satu sama lain. Penggambarain lain dari yin juga perempuan yang merupakan salah satu dari dua wujud utama. Kekuatan feminim ini identik dengan bumi dengan segala sesuatu yang rendah dan inferior. Kekuatan feminin ini dicirikan sebagai sifat mengalah, reseptif dan tunduk, dan ia memajukan dirinya dengan ketekunan. Meskipun inferior terhadap prinsip maskulin yang laki-laki, tetapi prinsip yin itu krusial dan sangat diperlukan untuk kerja yang tepat dalam alam semesta. Dari aturan kosmis ini dapat kita simpulkan bahwa posisi perempuan dalam tata aturan manusia pasti lebih rendah dan inferior seperti bumi , dan tingkah laku yang layak bagi seorang perempuan adalah mengalah, lemah dan pasif seperti bumi. Sedangkan laki-laki dicirikan dengan sifat aktif, kuat dan pemrakarsa seperti langit. Meskipun laki-laki dipandang superior, tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun tanpa perempuan sebagai komplemen.[4]
Dalam tata aturan manusia, perempuan hanya dilihat dalam konteks keluarga, sementara laki-laki dilihat dalam tata aturan sosial politik yang lebih luas.Dalam keluarga, seorang perempuan tunduk kepada tiga kewajiban yaitu, sebagai anak perempuan dia tunduk kepada ayahnya; sebagai istri dia tunduk kepada suami; dan setelah tua tunduk kepada anaknya. Para penganut Kong Hu Cu menyebut laki-laki dengan sebutan the way of sages (jalan kebijaksanaan), dan perempuannya disebut the wifely way. Menurut masyarakat Cina wife memiliki makna seorang perempuan yang membawa sapu. Dengan demikian bahwa wilayah domestik lah yang tepat baginya.
Perkawinan memang merupakan titik penting kehidupan perempuan, dan dari sisi peranannya dia diidentikkan sebagai istri, saudari ipar dan ibu. Dalam teori, sebagai anak tiri, perempuan tidak mempunyai banyak status dalam keluarga tempat dia dilahirkan, karena untuk menggabungkan rangkaian keluarga lain dalam perkawinan, mereka tidak akan pernah menjadi anggota resmi keluarga asli mereka (tidak ada catatan yang akan mendukungnya di dalam altar nenek moyang keluarga).[5]
Seluruh pendidikan kanak-kanak perempuan, semata-mata untuk mempersiapkan mereka dalam perannya dimasa depan sebagai istri dan ibu. Berbeda dengan anak laki-laki, yang pergi keluar rumah pada umur 10 tahun demi pendidikan sejarah dan hal-hal klasik, maka anak perempuan tetap dirumah, terasing dalam tempat tinggal perempuan dan dibawah bimbingan seorang pengatur. Mereka mempelajari sikap yang baik dan keterampilan-keterampilan domestic seperti menjahit dan menenun.
Pada umur 15 tahun, seorang gadis akan menerima tusuk konde pada upacara menyambut usia baru. Pada usia 20 tahun dia harus kawin. Tiga bulan sebelum perkawinan, seorang perempuan muda harus diajari empat aspek karakter perempuan, yaitu kebaikan, cara bicara, tingkah laku dan cara bekerja. Bagi perempuan dan keluarga, kawin dan upacara perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting. Perkawinan menandai terbentuknya satu hubungan baru dalam rantai kehidupan keluarga, perjalanan suci dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Penekanannya terletak pada arti hubungan atau keberlanjutan ini bukan pada arti bahwa perkawinan ini adalah permulaan sesuatu yang baru.[6]
Dalam upacara perkawinan terdapat catatan catatan penting. Pertama, ide mengenai perkawinan berbeda bagi laki-laki maupun perempuan. Kedudukan perempusn adalah di tempat keluarga suaminya berada bukan di tempat keluarga asalnya. Kedua, ketika memasuki jenjang perkawinan adalah lebih untuk kebaikan seluruh keluarga daripada untuk kebahagiaan personal. Ketiga, pengantin perempuan yang baru berhak mendapatkan penghormatan karena ia akan memainkan peranan yang krusial dalam keseluruhan struktur keluarga.
Setelah upacara pernikahan, pasangan harus melakukan sejumlah pemisahan tertentu dalam rumah tangga. Mereka tidak boleh bercampur bebas tetap pisah tempat tinggal, kecuali tidur.
Meskipun mereka harus melakukan sejumlah pemisahan ini, akan tetapi mereka harus tetap bersama-sama menyertai orang tuanya dan melaksanakan tata aturan mereka. Sebagai contoh, ketika mereka bangun pagi dan berpakaian rapi, mereka harus segera pergi ke tempat orang tua mereka.[7]
Perkawinan seperti ini dianggap sakral dan tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi, apabila istri salah melakukan perbuatan tertentu, maka dia dapat dicerai oleh suaminya untuk kembali ke keluarganya. Ada tujuh alasan tradisional istri dapat diceraikan suami, yaitu tidak taat kepada orang tua, tidak bisa memberikan anak laki-laki, persetubuhan, cemburu, dan mempunyai penyakit yang tak bisa disembuhkan, terlalu banyak bicara dan mencuri.[8]
Seorang istri tidak dapat menuntut cerai kepada suami. Sampai kematian suaminya pun ia diharuskan untuk tetap setia dan tidak akan pernah menikah lagi. Sepeninggal suaminya istri masih punya hubungan dengan keluarganya. Hal ini terjadi karena keterikatan seorang perempuan dalam perkawinan bukan hanya dengan suaminya, tetapi dengan keluarga suami. Begitulah jalan hidup seorang istri yang dijelaskan dalam teks-teks ritual Kong Hu Cu klasik.
Pada masa dinasti Han (206 SM-220 M), ketika Kong Hu Cu pertama kali dijadikan sebagai ortodoksi memiliki upaya untuk membawa peran perempuan kepada aliran pokok tradisi dan memberi mereka karya-karya yang bersifat instruksional khusus dan biografi-biografi perempuan untuk dicontoh.
Pan Chao adalah seorang pengarang Instructions for women, ia adalah seorang perempuan yang sangat terpelajar yang secara umum diakui kecendekiaan dan intelektualitasnya. Dia diundang ke istana untuk mengajar perempuan-perempuan keluarga kerajaan.
Ia menjelaskan tiga aspek fundamental tentang lapangan kerja perempuan sebagai istri. Pertama, sebagai perempuan harus bersikap rendah dan tunduk, sederhana di hadapan orang lain. Kedua, ia harus bekerja keras dan rajin dalam wilayah domestik. Ketiga, dia harus sepenuhnya mengemban tanggung jawab istri terhadap para leluhur keluarga suaminya. [9]
Pan Chao menerima persesuaian kosmologis. Oleh karena itu, mengenai kewajiban istri terhadap suaminya adalah melayaninya, dan suami mengatur istrinya. Dari kedua kewajiban tersebut apabila salah satu tidak dilaksanakan kewajibannya, maka akan rusak.
Lalu kewajiban istri terhadap para iparnya. Istri dianjurkan untuk memberikan kesenangan bagi mereka semua. Secara spesifik, terhadap ibu mertua istri menganggapnya adalah bayangan dari dirinya, sehingga ia selalu bersama dengannya dan apapun yang ia perintahkan harus dipatuhi meskipun mertuanya itu salah. Keangkuhan ipar pun menjadi tantangan bagi pengantin perempuan. Akan tetapi, dia diingatkan untuk selalu merendahkan diri dihadapan mereka. Dan istri yang menjalankan semua ini akan mendapat balasan yang setimpal. Ia akan menjadi kebanggaan bagi mertuanya, namanya akan termasyhur dikalangan tempat tinggalnya bahkan sampai kepada orang tuanya.[10]
Pan Chao memberikan pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan perempuan Cina. Ajaran tersebut menjadi prototype dari keseluruhan teks-teks ajaran tentang perempuan yang muncul berikutnya.[11]
Adapun pembahasan bias gender perempuan dalam teks-teks Konghucu seperti dalam kitab Sanjak (Shi-Ching, bagian Chiang Chung-tsu, Sanjak 3 dengan judul Menjinjing Busana) terdapat sanjak yang yang memperlihatkan bagaimana seorang perempuan berupaya mempertahankan martabatnya di hadapan laki-laki. Bunyinya adalah “Chung, kekasihku yang terhormat, kumohon janganlah bertindak demikian, melompat masuk ke kebunku, hingga mematahkan dahan pohon-cendanaku. Kerusakan itu dapat ku abaikan, tetapi bila ada seorang sekitar mengetahui perbuatanmu itu, mereka akan bertanya: Gerangan apakah yang membawa pemuda itu ke sana? Kata-kata mereka inilah yang ku khawatirkan. Engkau, Chung mendapat jantung-hatiku tetapi umpan caci merekalah yang akan mencemarkan daku. Jadi Sanjak tersebut menunjukkan bahwa meskipun wanita bebas merdeka pada zaman itu, tetapi mereka tidak menyetujui percintaan bebas tanpa batas-batas kesusilaan.
Pada Sanjak 6 yang terdapat pada bagian Wei, berjudul Mang (Bajingan) berbunyi sebagai berikut, ”Tetapi engkau tak mengenal tebing maupun pantai, nafsumu tak pernah mengingkari hal ini. Kembali pada masa remajaku yang bahagia, tatkala rambutku masih terikat pada pita, dengan tak berpikir panjang lebar, engkau kuikuti. Aku tak mengerti, bahwa janji setia dan senyum manismu ternyata palsu belaka. Bagiku engkau mengucapkan sumpah suci, siapa tahu, kini kau ingkari semua. Tak ku sangka engkau begitu jahanam. Sekarang aku menyesal tanpa guna”. Sanjak tersebut menggambarkan kecaman perempuan secara terbuka terhadap perlakuan sewenang-wenang oleh laki-laki terhadap perempuan.
Sedangkan adil gender dalam teks-teks Konghucu terdapat pada kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan) yang menyebutkan bahwa Pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang jaman. Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan”.
Adapula dalam Kitab Sanjak yang tertulis bahwa “Keselarasan hidup bersama anak isteri itu laksana alat musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan diantara kakak dan adik itu membangun damai dan bahagia. Maka demikianlah hendaknya engkau berbuat di dalam rumah tanggamu; bahagiakanlah isteri dan anak-anakmu”.[12]
Diceritakan bahwa sebelum masa kelahiran Nabi Kong Hu Cu seorang lelaki, apalagi seorang Raja pada jaman itu seakan-akan berhak mempunyai seorang istri sah dengan beberapa orang selir. Pada waktu Raja Ciu Yu Ong (781-771 SM) walaupun telah beristri, ia pemburu wanita perempuan cantik. Ketika ada menterinya yang bernama Pau Siang mengingatkan Sang Raja, untuk memperhatikan masalah-masalah kenegaraan daripada memikirkan perempuan cantik, malah sang raja marah, lalu memenjarahkan Pau Siang. Mengetahui kelemahan sang raja, keluarga Pau Siang akhirnya mempersembahkan seorang perempuan cantik bernama Pau Su. Pau Su perempuan cantik-jelita itu dijadikan selir. Namun, karena begitu cantiknya sang gadis, membuat sang Raja tega memulangkan istri sahnya kepada orang tuanya dan menjadikan Pao Su sebagai permaisuri. Pada jaman itu para lelaki bangsawan dapat mempunyai satu orang istri sah dan kemudian mempunyai beberapa orang selir.
Sing Jien (Nabi) Kong Hu Cu sejak kecil, tepatnya ketika berusia tiga tahun, telah kehilangan ayahnya sehingga pendidikannya semata-mata bergantung pada ibu dan nenek luarnya. Ternyata ibu Tien Cai seorang yang teguh iman dan bijaksana untuk merawat, membimbing, dan mendidik anaknya sebaik-baiknya. Kasih sayang seorang Ibu yang begitu dirasakan Nabi berpengaruh besar pada kehidupan selanjutnya. Beliau begitu menghormati perempuan, sehingga sampai akhir hayatnya hanya beristri seorang perempuan saja. Secara sekilas kehidupannya berkaitan dengan perempuan. Penghormatan Nabi Kong Hu Cu terhadap kedudukan perempuan tersebut mempunyai dampak yang luas sekali baik dalam kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Nabi Kong Hu Cu menikah pada usia 19 tahun dengan seorang gadis dari keluarga Kian Kwan dari negeri Song. Dari hasil pernikahannya mempunyai 3 orang anak, yaitu 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Pada waktu beliau berumur 26 tahun ibunya meninggal dunia. Untuk memberikan perhormatan kepada ibu yang dicintainya, Nabi Kong Hu Cu memutuskan mengadakan perkabungan selama 3 tahun lamanya.[13]
Posisi perempuan dalam agama Konghucu tergolong tidak terlalu terdiskriminasi dibanding dalam agama lainnya. Dalam agama Konghucu, terdapat Nabi yang berjenis kelamin perempuan. Sebuah fenomena yang cukup menggembirakan tentunya bagi kaum perempuan penganut agama Konghucu. Jadi  jika terdapat naskah-naskah yang ditemukan dan berkaitan dengan ajaran Konghucu ada yang menyuarakan anti perempuan, maka kemungkinan itu hanya sebagai rasa emosi dan egoisme para cendekiawan pria pada masa itu.  Sebab pada masa dinasti Ch’in yang dipimpin oleh Shih Wang-ti (221-209 SM) tersebut terjadi pemusnahan besar-besaran kitab-kitab ajaran Konghucu.[14]

C. Peran Perempuan dalam Sejarah Perkembangan Agama Kong Hu Cu
1.      Munculnya generasi Neo-Kong Hu Cu
Dengan jatuhnya dinasti Han pada tahun 220 M, Kong Hu Cu dipudarkan oleh agama Buddha dan Tao.Agama ini tidak memainkan peranan penting dalam wilayah tersebut sampai kemunculannya kembali dalam bentuk Neo-Kong Hu Cu pada masa dinasti Sung (960-1279). Ketika Neo-Kong Hu Cu muncul, terjadi perubahan besar yang sangat berpengaruh dalam kehidupan perempuan.[15]
Generasi awal Neo-Kong Hu Cu bekerja dengan tekun membangkitkan kembali kekuatan Kong Hu Cu dalam rangka mengembalikan teritorial yang hilang, yang menjadi wilayah orang-orang Buddha. Tantangan mereka adalah mengukuhkan kembali keluarga dan negara sebagai titik pusat kewajiban keagamaan. Mereka menentang orang-orang Buddha atas usahanya pribadi lepas dari dunia dan mengarahkan energi mereka untuk membangun tata aturan manusia. Akan tetapi, mereka cukup terkesan dengan kedalaman spiritualisme orang-orang Buddha. Neo-Kong Hu Cu yang terlahir lebih mengarah pada tradisi keagamaan jika dibanding dengan Kong Hu Cu awal dan lebih dipersoalkan pada hal-hal metafisik, interioritas manusia dan praktik-praktik keagamaan seperti meditasi.
Perempuan dapat dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya karena salah satu ikatan yang paling erat dari seorang laki-laki penganut Kong Hu Cu adalah istrinya. Perempuan kemudian dilihat sebagai pihak yang berperan dalam mengaktifkan keinginan, baik yang sensual maupun afektif. Ada suatu kebutuhan yang dirasa perlu untuk menjamin bahwa mereka benar-benar mengontrol keinginannya dan mengganggu atau membalikkan usaha laki-laki untuk maju menuju kebijaksanaan.[16]
2.      Peranan Perempuan dalam berpolitik atau bernegara
Di dalam Kitab Bingcu[17] diceritakan pada Zaman Raja Bu  pendiri dinasti Chou ( 1122 – 255 s.M.) diantara 10 orang menteri yang cakap terdapat seorang perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam bidang pendidikan kualitas pendidikan yang diberikan baik kepada laki-laki maupun perempuan tidak terdapat pembedaan, sehingga memungkinkan perempuan menduduki tempat terhormat. Di lain pihak ternyata telah terjadi pula perempuan dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan politik tertentu. Sekitar tahun 500 sebelum Masehi ketika Nabi Kong Hu Cu menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap menteri Kehakiman Negeri Lo yang bersama-sama Raja Lo Ting Kong berhasil menertibkan kekuasaan pemerintahan; kesejahteraan dapat ditegakkan dan dikembangkan serta ajaran agama yang benar ditaati dan diselenggarakan. Melihat keberhasilan Nabi dalam menyelenggarakan pemerintahan negeri Lo, ternyata sangat mencemaskan negeri Cee, sehingga mereka mencari muslihat untuk menggagalkannya. Mereka berpura-pura menunjukkan persahabatan dan memuji-muji keberhasilan negeri Lo dengan mengirimkan beraneka ragam hadiah.Suatu ketika diantarkan hadiah berupa delapan puluh orang gadis penari yang telah terlatih, lengkap dengan perangkat musik serta penabuhnya dan sejumlah kereta untuk berburu lengkap dengan kuda-kudanya sebagai ‘tanda persahabatan’. Atas hadiah ini, Nabi Kong Hu Cu meminta Rajamuda Ting untuk tidak menerimanya tetapi kepala keluarga Kwi, Kwi Hwancu diam-diam telah datang ke pasanggrahan orang-orang negeri Cee, dan kemudian mengajak Rajamuda Ting datang ke sana melihatnya. Raja Muda Ting yang semula sempat curiga, akhirnya tidak dapat mengendalikan dirinya melihat hadiah istimewa tersebut dan mulai tergoda untuk bersuka ria dengan gadis-gadis penari yang jelita dan bergembira menaiki kuda-kuda yang bagus itu untuk berburu, sehingga ia terlena dan mengabaikan tugas kewajibannya.[18] Bahkan  pada waktu melakukan upacara besar kepada Tuhan Yang Maha Esa Rajamuda Ting melakukannya dengan setengah hati. Nabi Kong Hu Cu, sebagai orang yang sangat mementingkan tegaknya lee ( kesusilaan, kewajiban) akhirnya memutuskan meletakkan jabatan dan meninggalkan Rajamuda Ting yang sudah mabuk kepayang itu. Nabi Kong Hu Cu sangat menjunjung tinggi makna ajaran Cinta Kasih. Bagi Nabi Kong Hu Cu orang yang menjunjung “Cinta Kasih, harus mampu mengendalikan diri dan pulang kepada kesusilaan.[19]
Sekitar tahun 246-210 sebelum Masehi Negara Tsi sempat dipimpin oleh seorang Ratu, yang sayangnya dia termasuk Ratu yang materialistik, karena mau menerima uang suap dari Raja Shi Huang Ti dan tidak bersedia bergabung dengan negara-negara lain untuk menentang ekspansi Raja Shi Huang Ti.
Pada zaman dinasti Han (202 S – 220 M) ketika bangsa Tartar dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat bernama Mow-Tan menyerang dinasti Han yang dipimpin oleh Liu Pang alias Kao Tsu dan hampir dapat dikalahkan. Seorang Gadis jelita bersedia menyabung nyawa demi berupaya menyelamatkan negaranya dinasti Han. Gadis cantik yang tinggal di istana itu menghadap Kaisar dan berkata,”Kirimkanlah hamba ini kepada panglima bangsa Tartar sebagai hadiah tanda perdamaian. Hamba akan memikat hati panglima ini, sehingga ia mau beristerikan hamba; dia akan mencintai hamba sedemikian rupa, sehingga permintaan hamba akan selalu dikabulkan. Hamba akan meminta kepadanya, supaya berdamai dengan Baginda…” Maka gadis cantik ini berhias, berpakaian dan berdandan seindah-indahnya, wajahnya dihias se-bagus-bagusnya, dan memakai perhiasan kepala dari emas dan intan; kemudian dengan naik sebuah tandu dia pergi ke perkemahan orang-orang Tartar sebagai pemberian hadiah perdamaian. Di situ ia berbuat seperti yang telah dijanjikan kepada Kaisar; dan berhasil, karena Mou-Tan mengadakan perdamaian dengan Kao-Tsu. Namun dikisahkan perdamaian itu dianggap sebagai penghinaan bagi orang Han.[20]
Peranan perempuan dalam politik ini sangat luar biasa seperti diceritakan bahwa pada Zaman Gelap (300 – 600 Masehi) ketika seorang Kaisar bernama Liu Tsung yang telah mempunyai banyak istana dikritik oleh seorang menterinya ketika merencanakan membangun istana khusus bagi permaisurinya bahwa maksud Kaisar itu hanya akan menghambur-hamburkan uang saja dan Kaisar murka hendak membunuh menterinya itu. “Sang permaisuri yang bijaksana itu menulis surat,”Segala bencana yang menimpa negeri kita, disebabkan oleh seorang perempuan. Saya tidak mau dikatakan, bahwa beban rakyat menjadi berat karena saya.Lebih baik saya dibunuh saja di istana ini, daripada membuat sebuah istana lagi untuk saya”.Kaisar menurut, menteri tadi tidak jadi dibunuh dan istana tidak jadi dibuat.[21]
Pada Zaman Dinasti Tang (618-907 M) tersebutlah seorang Kaisar yang bijaksana dan didampingi seorang permaisuri yang bijaksana pula. Dia bukan mempekerjakan tentara untuk mendirikan bangunan-bangunan umum, tetapi ia memelihara tentaranya, ia berikan latihan dan menghadiahkan panah atau pedang kalau mereka telah berjasa. Dia mendirikan gedung-gedung sekolah dan memberi dorongan kepada orang-orang cerdik pandai (tak peduli laki-laki atau pun perempuan) untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Dia sangat taat kepada Ajaran Kong Hu Cu untuk memberi contoh kepada rakyatnya. Dia memimpin negara berdasarkan satunya kata dengan perbuatan,Merampas harta-benda rakyat untuk kepentingan dan untuk memuaskan hati Raja, adalah bagaikan memotong daging kita sendiri untuk memuaskan rasa lapar kita”. “Jika seorang raja menipu pegawainya, bagaimanakah dia dapat mengharap kepercayaan mereka? Pangeran-pangeran adalah bagaikan mata-air, dan pegawai-pegawai bagaikan sungainya. Jika mata-air menjadi kering sungai pun demikian juga”. Ketika beberapa orang menterinya berkata, bahwa adalah berbahaya sekali untuk dengan secara bebas bergaul di-tengah-tengah prajurit dan rakyat, dia menjawab,Saya memerintah kerajaan seperti seorang ayah mengurus rumah tangganya, dan seluruh rakyat saya anggap anak-anak ku sendiri. Saya membandingkan perasaan hati mereka dengan perasaan hatiku, jika saya mencintai mereka sebagai seorang ayah mencintai anak-anaknya, bagaimanakah saya akan sampai hati untuk mencurigai dan menuduh rakyat, hendak berbuat jahat terhadap saya?”[22]
Suatu hari ia berpergian naik perahu dengan puteranya. Ia berkata,Lihatlah anakku, rakyat boleh kita umpamakan sebagai air dan raja adalah perahunya. Jika air tenang, perahu dapat berlayar dengan aman, tetapi jika air menjadi bergolak, perahu dapat dihempaskan kian-kemari dan akhirnya bisa juga hancur”. Kaisar Tai Tsung mempunyai permaisuri yang sangat bijaksana, lemah lembut, dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Dia mengutip pepatah kuno,Jika ayam betina ikut berkokok di waktu pagi, keluarga akan mengalami bencana”.Meskipun demikian, dia mengambil bagian juga dalam jalannya roda pemerintahan, seperti juga halnya dengan permaisuri Suen Wang dalam dinasti Chou. Pada suatu hari setelah menerima para menteri, Kaisar dengan tergopoh-gopoh pergi ke kamar sang permaisuri dan berkatalah dia dengan marah,Saya tak akan berkuasa penuh, jika orang celaka itu masih saja di sini”. Orang celaka siapa?”, tanya permaisuri. Kaisar menjawab,”Wei Ching”. Sang permaisuri mengetahui secara pasti bahwa Wei Ching adalah seorang menteri yang sangat cakap, sangat jujur dan selalu mengatakan hal-hal yang benar dan seringkali menentang keputusan Kaisar, karena keputusan itu dianggapnya tidak bijaksana”. Tai Tsung menghendaki kepada menteri-menterinya supaya menentang menjalankan keputusan jika perlu, tetapi dia merasa dirinya kuat dan membanggakan kecakapannya, maka ia seringkali merasa kesal terhadap Wei Ching yang selalu berani menentang putusan-putusannya itu. Mendengar amarah suaminya, sang permaisuri berdiam diri, tetapi dia meninggalkan kamar dan berpakaian seolah-olah mau mengunjungi upacara besar, pakaian permaisuri mewah dan bunga dari intan menghiasi kepala gemerlapan di atas wajah yang berseri-seri, sehingga Tai Tsung sendiri merasa keheran-heranan. “Mengapa kamu berpakaian seindah itu”? Tanya Tai Tsung, maka dijawab permaisuri,Hamba selalu mendengar, bahwa Kaisar yang sungguh-sungguh agung, mempunyai menteri-menteri yang jujur dan berhati luas. Wei Ching termasuk di dalamnya. Bukankah itu suatu bukti bahwa Baginda sungguh agung? Hamba datang hendak menyampaikan selamat kepada Baginda”. Hati Kaisar menjadi reda dan ia tak marah lagi. Sejak itu ia menghormati Wei Ching lebih dari waktu sebelumnya.[23] 
Nabi Muhammad dan Tai Tsung hidup sezaman. Seorang keluarga Nabi Muhammad membuat perjalanan ke Chang An dan bertemu dengan Kaisar Tai Tsung. Dia sangat heran dan kagum melihat keadaan Negeri Tang yang teratur dan baik itu, sedang rakyatnya pandai sekali di dalam mengerjakan kerajinan tangan. Kemudian dia menulis,Diantara seluruh umat manusia yang diturunkan oleh Tuhan, bangsa Tionghoa paling pandai dalam kerajinan tangan, ilmu melukis, dan segala macam kerajinan lainnya”.
3.      Kedudukan Perempuan dalam pendidikan
Menurut Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan)[24], Bab Peraturan Dalam, perempuan dan pria secara terpisah menerima pendidikan. Sejak mulai dapat berbicara, “logat dan perhiasan” yang dipakai tidak sama. Pada umur 6 tahun, diajarkan angka dan nama tempat, pada umur 7 tahun diajarkan khasiat dan manfaat bahan-bahan makanan, pada umur 10, pria harus keluar belajar, sedangkan perempuan tetap tinggal di dalam rumah belajar berbicara sopan santun, menenun, menjahit, memasak, bersembahyang, dan lain-lain hingga berusia 15 tahun
Menurut Chou-li (Kitab Kesusilaan) dinasti Chou, pada zaman itu, di istana-istana terdapat pejabat-pejabat tinggi wanita dalam bidang keibadahan, pencatatan sejarah dan sebagainya. Kata-kataAjaran empat kesusilaan ( Szu teh) pada wanita”, barangkali ditujukan pada wanita kaum bangsawan istana-istana. Empat Kesusilaan ialah kebajikan (teh), rupa (yung), tutur-kata (yen), dan jasa (kung). Mungkin “rupa” menunjukkan sikap dan etiket, “tutur-kata” dekat pada memberi perintah, “jasa” melambangkan kemampuan memelihara ulat sutera, menenun, memasak dan sebagainya. Kaum perempuan bangsawan tidak mungkin menjadi lebih unggul daripada kaum pria dalam banyak hal, bila tidak menerima pendidikan yang sama dengan kaum pria. Walaupun kaum perempuan bangsawan menerima pendidikan di rumah, kaum pria di sekolah. Jadi hanya berbeda tempat saja, tetapi kualitas pendidikan sama. Di sini nampak sudah adanya emansipasi dalam pendidikan dan hidup kemasyarakatan pada zaman itu.  Nabi Kong Hu Cu bersabda,Siapa pun yang datang memohon diterima sebagai murid, aku tidak pernah menolak untuk memberi pendidikan”
“Pemerintah yang baik tidak sebanding dengan pendidikan yang baik”.[25]
4.      Kedudukan Perempuan dalam bidang ekonomi dan sosial.
Di dalam kitab Shi-Ching (Sanjak)[26] melukiskan teladan utama perempuan dalam memelihara ulat sutera, dan membikin benang sutera dan mempunyai pengaruh besar dalam pertanian, kehutanan dan perikanan. Diperkirakan di zaman kuno itu barangkali pertanian dan perdagangan berada di tangan wanita.Bentuk pembagian kerja “pria berburu, perempuan bercocok tanam”, menenun sutera dan berniaga dan pada dinasti Ch’ou berubah menjadi “pria bercocok tanam, wanita menenun”.
“Orang-orang yang diam di sekitar pasar yang memiliki toko, janganlah dikenakan denda sebagai pemalas, dan yang tidak bercocok tanam, janganlah dikenakan denda.” Dalam pengurusan harta keluarga, seorang isteri dimintakan peran aktifnya agar jangan sampai terjadi pemborosan, seperti diungkapkan ayat-ayat berikut,” Di dalam mengatur rumah tangga tidak berani berlaku sewenang-wenang kepada para pembantu dan pelayan, apalagi kepada isteri dan anak-anaknya. dengan demikianlah cara mereka mengabdi pada orang tua mereka.
“Mengurus harta pun ada Jalannya Yang Benar,bila penghasilan lebih besar daripada pemakaian dan bekerja setangkas mungkin sambil berhemat, niscaya harta benda itu akan terpelihara”. Nabi Kongcu bersabda,”Seseorang yang hanya mengejar keuntungan saja niscaya banyak yang menyesalkannya”.[27]
Dalam rangka membenarkan nama-nama, Ajaran Konghucu mengajarkan lima hubungan sosial, yang dinamakan Ngo Lun, yaitu hubungan antara raja dengan menteri; ayah dengan anak; kakak dengan adik; suami dengan isteri; dan antara seorang individu dengan individu lainnya. Dalam prakteknya kelima hubungan sosial ini hendaknya didasarkan pada cinta kasih sebagai pencerminan dari rasa kasih sayang dengan mengindahkan nilai sopan-santun.Hubungan antara raja dengan menteri, untuk menggambarkan bagaimana seharusnya hubungan antara pejabat dengan stafnya. Jika hubungan antara keduanya harmonis,maka akan dicapai suatu hasil yang optimal. Pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan baik, karena adanya suasana kerja yang menggembirakan, mereka bekerja tanpa adanya rasa terpaksa, akan tetapi karena tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Hubungan antara ayah dan anak,perlu dibina sedemikian rupa, sehingga orang tua dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, demikian pula anak-anak menaruh hormat dan bakti kepada orang tuanya yang telah bersusah payah mendidik dan membesarkannya tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun. Hubungan antara kakak dan adik perlu juga mendapat perhatian agar tercipta suasana keluarga yang menyenangkan.Seorang kakak dapat memberikan bimbingan dan perlindungan terhadap adik-adiknya. Demikian pula sebagai adik, maka dapat memberikan bantuan kepada kakaknya. Hubungan suami dan isteri perlu adanya rasa saling menyayangi, menghormati dan pengertian antara satu dengan lainnya, sehingga perkawinan sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang perempuan yang bertujuan membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan melangsungkan keturunan berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa dapat direalisir. Hubungan dengan individu yang lain perlu dijaga dengan baik, karena orang untuk mencari teman itu akan lebih muda daripada untuk mempertahankan agar tetap menjadi teman yang baik, dengan berbagai penyebabnya, yang salah satunya karena masing-masing terlalu sibuk untuk mencukupi kebutuhannya. Kelima hubungan ini sesungguhnya merupakan penjabaran dari ajaran tentang bakti anak terhadap orang tua, yang sering digambarkan sebagai solidaritas sosial dan saling ketergantungan manusia. Dalam lingkungan usaha kebutuhan yang sama dan saling tergantung satu dengan yang lain, sehingga diperlukan suatu hubungan timbal balik yang sehat, karena semuanya itu sebagai mitra usaha.[28]

D. Reinterpretasi dan adaptasi peran-peran gender tradisional
Setelah Pan chao menjadi masyhur di kalangan para cendekiawan, mulailah muncul beberapa penulis lainnya yang mencoba menginterpretasi teks-teks suci dalam ajaran konfusius. Dua di antara tokoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Ms. Ch’eng (700 M) dan Sung Jo-Chao (800 M).[29]
Dua penulis perempuan ini mengambil dua keuntungan besar dengan mengikuti gaya Pan Chao dalam menulis kitab-kitab mereka. Pada bagian ini perempuan sudah mulai mencari-cari kesalahan para suami dengan mempertanyakan beberapa sifat laki-laki yang tidak selamanya berada dalam perbuatan yang baik. Contohnya dalam The Classic Of Filial Piety yakni sifat sederhana dan bersahaja sama agungnya dengan yang dikemukakan dalam Analects for Women yang ditulis seratus tahun kemudian. Sung Jo-Chao, pengarang yang sangat terkesan dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya dicurahkan untuk pendidikan moral bagi perempuan. Bukunya Analects for Women kaya akan uraian-uraian yang kongkrit tentang bagaimana mengolah karakter pribadi seseorang, bagaimana memimpin atau menjalankan rumah tangga dan bagaimana mengurus hubungan rumah tangga. Nasehat berikut berasal dari bab pembukaan.“Jagalah tubuhmu tetap bersih dan kehormatanmu tetap tak ternoda. Jika berjalan jangan tengokkan kepalamu, jika berbicara jangan buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri jangan kirapkan pakaianmu. Jika engkau merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa terbahak-bahak, jika marah jangan melepaskannya dalam suara yang keras.”[30]
Dalam Konghucu klasik, seseorang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dengan membenamkan diri dalam jaringan hubungan manusia. Sedangkan pada masa Neo-Konghucu (Neo-Konfusianisme) terdapat banyak ambivalensi mengenai hubungan ini. Dalam arti bahwa hubungan tersebut hanya menjadi satu sumber halangan daripada sebuah sumbangan untuk pencarian seseorang akan kebijaksanaan. Perempuan dapat dipengaruhi oleh perubahan ini, khususnya  karena salah satu ikatan yang paling erat dari seorang laki-laki penganut konfusianisme adalah dengan istrinya.
Ketika Neo-Konghucu muncul, terjadi perubahan besar yang sangat berpengaruh dalam kehidupan perempuan. Mengingat bahwa Neo-Konghucu adalah gerakan keagamaaan, sehingga titik tolak mereka lebih ditekankan pada tradisi keagamaan, berbeda pada Konghucu klasik, yang menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat metafisis. Dalam hal Neo-Konghucu, perempuan ditekankan untuk mampu mengontrol keinginan dan disiplin pribadi.
            Salah satu kaisar dari dinasti Ming, kaisar Shu, berusaha memajukan kedudukan perempuan dalam dunia sosial dan dunia keluarga. Dalam dunia sosial dia menekankan bahwa perempuan juga berhak menjadi penasehat moral dalam kerajaan. Kemudian dalam dunia keluarga dia mengatakan bahwa perempuan itu juga bisa mandiri sama seperti laki-laki.[31]
Jadi disimpulkan bahwa perempuan dalam Neo-Konfusianisme sangat berbeda dengan konfusius yang menganut ajaran kosmis. Pada jaman kosmis perempuan dianggap pasif seperti bumi, selalu dianggap rendah, kurang cerdas, dan sebagainya. Tetapi ketika Neo-Konfusianisme muncul, banyak penulis-penulis yang menekankan kepada kehormatan seorang perempuan, bahwa perempuan itu memainkan peran sentral dalam kehidupan bermasyarakat sampai pada masa modern saat ini.




DAFTAR PUSTAKA

Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006).
Huston Smith,  Agama-agama Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008).
Diakses dari http://relasigender11.blogspot.co.id/2015/12/revisi-makalah-kelompok-11-dalam-agama.html pada tanggal 22 November 2016 pukul 05:34 WIB.
Diakses dari http://rgdateam10.blogspot.co.id/2015/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html pada tanggal 20 November 2016 pukul 4:03 WIB.









[1] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.189.
[2] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.190.
[3] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.191.
[4] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.196.
[5] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.196.
[6] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.197.
[7] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.200.
[8] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.200.
[9] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.202.
[10] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.204.
[11] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.205.
[14] Diakses dari http://relasigender11.blogspot.co.id/2015/12/revisi-makalah-kelompok-11-dalam-agama.html pada tanggal 22 November 2016 pukul 05:34 WIB.
[15] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h. 216.
[16] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.217.
[17] Kitab Bingcu merupakan kitab yang berisi sikap Bingcu yang tegas dan lurus di dalam menegakkan kemurnian ajaran agama Kong Hu Cu baik terjadi pada zaman raja-raja itu maupun tokoh berbagai aliran.
[24] Kitab suci tentang peribadahan, kesusilaan, tata kemasyarakatan, dan pemerintahan.
[26] Kitab suci yang merupakan kumpulan sanjak atau nyanyian dari berbagai negeri, ada nyanyian upacara di istana dan tempat ibadah, sanjak atau nyanyian yang paling tua berasal dari zaman dinasti Siang dan yang paling muda berasal pada zaman dinasti Ciu.
[29] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.206.
[30] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Jakarta: Suka Press, 2006), h.207.
[31] Huston Smith,  Agama-agama Manusia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h. 196.
 
;