RELASI
GENDER DALAM AGAMA YAHUDI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Relasi Gender dalam Agama-agama
Dosen Pembimbing :
Siti Nadroh, M.A.
Disusun oleh :
Ridwan Effendi : 11140321000023
Binna Ridhatul Shaumi : 11140321000026
Fakultas Ushuluddin
Jurusan Studi Agama-agama
Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
2016
A.
Bias
Gender di dalam Talmud
Talmud[1]
adalah ringkasan yang lengkap dan padat yang terdiri dari 63 jilid. Isinya
mencakup pemikiran hukum, cerita rakyat, keilmuan, teori kedokteran dan teori
ilmiah, filsafat, teologi, biografi, anekdot dan banyak lagi. Talmud merupakan
ensiklopedia kebudayaan Yahudi, suatu perkembangan dari usaha para Rabbi untuk
mengadaptasikan kehidupan perjanjian kepada kondisi diaspora yang terjadi tahun
70 M. Dari kejadian ini banyak menimbulkan komentar ketika sinagog secara
definitif menggantikan kuil. Kelompok Pharisi adalah kelompok yang memberikan
mata rantai Yahudi Pra-diaspora dengan Yahudi Diaspora.[2]
Dari sinilah kelompok Pharisi memberikan pandangannya tentang perempuan.[3]
Swidler dengan
menggunakan uraian atas buku-buku pseudepigraphal
yang kemungkinan ditulis oleh orang Pharisi serta tulisan-tulisan Flavius
Yosephus, berpendapat bahwa orang Pharisi menganggap bahwa perempuan bersifat inferior
dalam segala hal terhadap laki-laki, dan sifat buruk perempuan yang seolah-olah
menguasainya melebihi laki-laki, juga di dalam hatinya bersekongkol melawan
laki-laki dan bahwa setiap laki-laki harus menjaga perasaannya dari setiap
perempuan.[4]
Di sebagian golongan
orang Pharisi[5] kesucian
merupakan hal yang ditekankan dan terikat dalam hukum, sehingga perbuatan zina merupakan
salah satu dari cara-cara prinsipil yang dapat menodai kesucian. Hal inilah
yang mengantarkan perempuan dipandang sebagai penggoda, penyebab pertama
perbuatan dosa. Dalam perjanjian Reuben tidak hanya berpandangan seperti ini
saja, akan tetapi lebih jauh berpandangan bahwa perempuan secara intrinsik
adalah jahat. Perempuan tidak punya kekuasaan atau kekuatan atas laki-laki.
Oleh karena itu mereka menggunakan tipu muslihat melalui daya tarik
lahiriahnya, sehingga mereka dapat menarik laki-laki kepadanya. Apabila
laki-laki tersebut tidak dapat dipikat oleh daya tarik lahiriahnya, maka dapat
ditundukkan dengan keahliannya.[6]
Serangan terhadap
perempuan ini merupakan semangat misoginis terburuk dari perjanjian Lama Apochrypha, contohnya dalam
Ecclesiaticus (yang berasal dari abad yang sama). Sebab lain dari sikap ini
adalah ciri khas Yahudi yang keras. Dalam menghadapi pengaruh Yunani, yang
dipandang oleh penulis-penulis ini sebagai ancaman terhadap identitas Yahudi,
ada serangan balasan yang menampilkan perlawanan keras terhadap gerakan-gerakan
yang memperjuangkan kesejajaran perempuan dan laki-laki yang lebih besar.
Ketika seseorang mengaitkan sikap ini dengan mengagungkan Eclesiatius dalam
mempelajari Taurat yang didalamnya perempuan disisihkan, maka seseorang dapat
berpendapat bahwa hal tersebut telah merendahkan perempuan.
Kesimpulan umum Swidler
yang ditarik dari studinya tentang sikap terhadap perempuan dalam literatur
Yahudi awal adalah bahwa pandangan positif yang ditemukan orang dalam Alkitab
Ibrani, terutama dalam penggambaran tentang perempuan sebelum perbuatan dosa
dilakukan oleh Adam, melapangkan jalan menuju pandangan yang lebih negatif.
Pandangan Yahudi awal tidak seluruhnya negatif bahkan jauh dari positif, bahkan
telah mengalami perubahan.[7]
Sekembalinya dari
pengasingan pada abad ke-6 SM melalui masa Al-Kitab dan masa Rabbinik awal,
misogini tampak semakin intensif. Perbaikan-perbaikan menyangkut nasib
perempuan Yahudi, seperti penghapusan hukum mati bagi pezina perempuan dan
penghapusan tuntutan hukuman yang berat bagi perempuan yang dituduh zina, telah
diimbangi dengan semacam perkembangan negatif seperti pembatasan terhadap
perempuan yang semakin besar di dalam Kuil dan Sinagog, munculnya adat-adat
semacam harem di Alexandria serta munculnya sikap-sikap perlawanan dari
Ecclesiasticus dan sebagian Pharisi.[8]
Neushner mengutip
pandangan Simon de Beuvoir bahwa perempuan adalah suatu anomali, sesuatu yang
abnormal. Menurut laki-laki yang menyusun Mishnah, maskulinitas merupakan
bentuk kemanusiaan yang normal dan feminitas merupakan suatu penyimpangan. Dalam
dokumen lain yang berasal dari sumber tertulis dan sumber kependetaan, seperti
Undang-Undang Kesucian yang didalamnya berisi Mishnah tidak memperbolehkan
perempuan masuk ke tempat-tempat yang suci. Mereka tidak dapat memasuki wilayah
kultus yang sensitif, tidak dapat melaksanakan upacara peribadatan, dan tidak
dapat berpartisipasi, bahkan dalam peribadatan liturgi. Demikian juga ketika
Yahudi Rabbinik sampai kepada keyakinan bahwa mempelajari Taurat dipandang
sebagai ibadah, Rabbi serupa dengan pendeta, dan komunitas Israel identik
dengan Kuil suci adalah benar-benar akan menjadi suatu yang lazim untuk
senantiasa mengecualikan perempuan. Dengan kata lain, bagi pemikiran
kependetaan yang diteruskan oleh para Rabbi, perempuan bersifat tidak beraturan
dan mengancam. Yang tidak beraturan dan mengancam harus disucikan agar tidak bersifat
mengancam, maka perempuan menjadi fokus utama penyucian. Biasanya mereka
disucikan dengan cara dibuat tunduk kepada laki-laki yang mengekspresikan
kemanusiaan secara wajar dan normal.[9]
Sepanjang periode
Talmud, kehidupan umat Yahudi terpusat pada studi Taurat. Pengaruh atas
perempuan Yahudi bersifat langsung “dengan apa perempuan memperoleh jasa?
Dengan mengirimkan anak-anak mereka belajar Taurat di Sinagog dan suami-suami
mereka untuk belajar di sekolah Rabbi”.
Pernikahan adalah hal yang normal baik
bagi laki-laki maupun perempuan. Di dalam istilah Talmud yang lazim digunakan
adalah kiddushin (penyucian).[10]
Suami menyucikan istrinya dengan menjadikannya seseorang yang berbakti pada
tempat suci. Istri berhak menerima kehormatan atas rahmat yang mengalir ke
dalam rumah atas tanggungannya. Seorang suami harus lebih hemat membelanjakan
kekayaannya untuk makan, minum dan pakaiannya demi kesejahteraan anak dan
istrinya. Oleh karena itu istri mempunyai hak untuk memperoleh kepuasan
hubungan suami istri, dukungan finansial, pelayanan medis, sejumlah uang khusus
karena perceraian atau kematian suami dan penguburan. Sebelum memperoleh hak
istri pun memiliki kewajiban. Kewajiban esensial istri kepada suaminya adalah
menyediakan kebutuhan fisik suaminya dan memungkinkan suaminya untuk
mempelajari Taurat.[11]
Perceraian memperoleh
perhatian besar orang Talmud. Naluri dasar mereka adalah membatasi hak
prerogatif ini hanya bagi laki-laki, tetapi khawatir akan
kepentingan-kepentingan perempuan. Hanya perempuan pezina yang harus dicerai
dan pengacara-pengacara Talmud cenderung menunda kasus perceraian dengan
mengurus kasus-kasus lain untuk memberi kesempatan rekonsiliasi bagi kedua
pasangan tersebut. Pemberian get atau uang perceraian, dan perlunya membayar
ketubbah, atau penyelesaian perkawinan juga dilakukan semaksimal mungkin dan
tidak tergesa-gesa.[12]
Perempuan tidak
tercakup dalam perintah-perintah positif yang menetapkan perbuatan-perbuatan
yang dilakukan pada waktu-waktu khusus seperti sembahyang karena perbuatan ini
dapat bertabrakan dengan kewajiban rumah tangga. Perempuan tidak termasuk dalam
munyan dan mereka tidak dapat mengimami sembahyang. Meskipun tidak terdapat
larangan memanggil perempuan untuk membaca Taurat. Bahkan peran keagamaan kecil
pun tidak dianjurkan diberikan kepada perempuan, karena Talmud memasukkan
perkataan yang keras, “terkutuklah laki-laki yang mengizinkan istrinya membaca
doa syukur (kiddush) baginya pada jum’at malam.“ (Ber. 20b). Meskipun demikian,
perempuan wajib membacakan doa-doa menyambut dan melepaskan hari sabbath
tersebut, menghadiri sader, perjamuan
pada hari Paskah Yahudi, dan mendengarkan bacaan kitab Ester tentang Purim.
Mereka juga wajib mandi ritual 7 hari setelah menstruasi, membagi-bagi adonan
untuk membuat roti sabbath, dan menyalakan lilin-lilin sabbath.[13]
Sikap Talmud terhadap
perempuan sangat ambivalen. Misoginisme tradisi kependetaan yang menghubungkan
perempuan dengan ketidaksucian religius terus mendesakkan pengaruh yang kuat
terhadap para Rabbi. Di satu sisi perempuan digambarkan dengan hal yang baik
dan di sisi yang lain perempuan digambarkan dengan hal yang buruk.[14]
B.
Citra
Perempuan dalam Tradisi Yahudi
a. Posisi
perempuan dalam Talmud
Didalam Talmud terdapat
isi yang mengatakan bahwa jika seorang wanita yang bersuami telah bernazar
kepada Tuhan maka suaminya tersebut berhak menyetujui atau menolak nazar
istrinya dalam ungkapan yang lain terdapat juga ungkapan seorang wanita yang
tidak cakap mengatur rumah dan suami yang menemukan wanita yang lebih cantik
maka suami dapat menceraikannya. Dengan demikian posisi wanita di dalam Talmud
sangatlah direndahkan dan wanita pun tidak memiliki hak belajar
disekolah-sekolah agama Yahudi yang sekuler, yang populer Talmud Torah.[15]
b. Posisi
perempuan dalam Al-Kitab
Perceraian
Di dalam Al-Kitab memperkenankan
umat untuk kawin lagi, akan tetapi dengan syarat yang berat, yaitu bila
pasangannya meninggal atau berzina.
Ditegaskan di dalam
Al-Kitab bahwa Allah sangat menentang perceraian. Selama beberapa pria Israel
menceraikan istri mereka, Allah menyatakan melalui nabi Maleakhi:
Bukankah Allah yang Esa menjadikan
mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan
ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia tergadap istri dari
masa mudanya. (Maleakhi 2:15) sebab aku membenci perceraian, firman Tuhan,
Allah Israel-juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan
semesta alam. Maka jagalah dirimu dan jangan berkhianat. (Maleakhi 2:16).[16]
Untuk meringankan
keadaan istri yang menderita, Rabbi-rabbi berpendapat bahwa pengadilan mungkin
akan memberikan tekanan-tekanan yang kuat terhadap suami sehingga suami
tersebut mengatakan ingin menceraikan istrinya. Hal ini memungkinkan pengadilan
memenangkan petisi perceraian seorang perempuan karena laki-laki tersebut
impoten, menolak berhubungan seksual dan meninggalkan rumah lebih lama dari
tuntutan urusannya atau karena sebab lain seperti suami menderita lepra,
gondok, dan bisulan.
Perempuan harus
menghadirkan dua orang saksi laki-laki untuk memberikan kesaksian terhadap
kematian suaminya. Jika tidak dapat menghadirkan, maka perempuan tersebut tidak
bisa menikah lagi.[17]
Hukum waris
Hukum waris ini terdapat dalam kitab
Bilangan 27: 1-11. Kemudian mendekatlah anak-anak perempuan Zelafehad.
Anak-anak itu mendekat dan berdiri di depan Musa, imam Eleazar, di depan para
pemimpin, dan segenap umat Israel dekat pintu kemah pertemuan, serta berkata
:’’Ayah kami telah mati di padang gurun, walaupun ia tidak termasuk ke dalam
kumpulan yang bersepakat melawan Tuhan, ke dalam kumpulan Korah, tetapi ia
telah mati karena dosanya sendiri, dan ia tidak mempunyai anak laki-laki.[18]
Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ‘’perkataan anak-anak perempuan Zelafehad
itu memang benar, memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya
di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya
hak atas milik pusaka ayahnya. Dan kepada orang Israel engkau harus berkata :
Apabila seseorang mati dengan tidak
mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik
pusakanya kepada anaknya yang perempuan. Apabila ia tidak mempunyai anak
perempuan, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudaranya
yang laki-laki. Dan apabila ia tidak mempunyai saudara –saudara lelaki, maka
haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudara lelaki
ayahnya. Dan apabila ayahnya tidak memiliki saudara-saudara lelaki, maka
haruslkah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada kerabatnya yang terdekat
dari antara kaumnya, supaya dimilikinya. “[19]
C.
Teologi
Feminis dan Rekonstruksi Peran Perempuan dalam Kehidupan Masyarakat Yahudi
Gerakan modern Yahudi secara tidak
langsung berakar dari masa pencerahan yaitu gerakan pemikiran yang timbul pada
abad XVIII dibelahan Eropa. Gerakan ini sangat mengagungkan pikiran, bersifat
liberal, kemanusian, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan banyak penemuan-penemuan
ilmiah.
Penetrasi masa pencerahan ini ke dalam
masyarakat Yahudi, berkat jasa seorang keturunan Yahudi, penganut filsafat
rasionalis, yaitu Moses Mondelshon (1728-1786). Ia berhasil menerangkan
hubungan antara akal dan agama. Menurutnya, semua aspek kepercayaan yang ada di
dalam Yahudi dapat dipahami dengan akal.[20]
Mondelshon berkeyakinan bahwa cara
terbaik yang digunakan untuk mencapai segala tujuan perjuangan umat Yahudi,
termasuk memperjuangkan emansipasi adalah membuktikan bahwa Yahudi relevan
dengan rasio abad modern ini.[21]
Ia juga berjuang untuk mendapatkan
persamaan dalam bidang pendidikan bagi kaum Yahudi. Hal ini ditempuhnya dengan
cara memperluas cakrawala pengetahuan umatnya tentang Talmud, dan pengamalan
ajaran-ajarannya serta menyebarluaskannya dalam berbagai lapangan kebudayaan
Eropa.
Mondelshon dibantu oleh Maskilim. Mereka
ingin merombak sistem pendidikan Talmud yang selama ini bersifat eksklusif dan
tidak seimbang. Mereka berusaha mengolah kemurnian dan keindahan kitab suci
dalam tulisan-tulisan.[22]
Mondelshon masih sempat menyaksikan buah
pertama dari usahanya dalam bidang pendidikan ini, yaitu dibukanya sebuah
sekolah Yahudi modern pertama di Berlin pada tahun 1778. Di sini diajarkan mata
pelajaran sekuler yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Jerman.[23]
Namun, emansipasi yang sesungguhnya dimulai
pada tahun 1791. Dewan nasional Prancis menghidupkan prinsip toleransi agama,
dan memberikan status sepenuhnya kepada orang-orang Yahudi yang sebelumnya
didiskriminasi antara umat Yahudi dengan penduduk setempat.[24]
Pada abad XIX, emansipasi Yahudi hampir
tercapai disemua negara Eropa dan Amerika. Orang Yahudi sudah memperoleh
persamaan status sosial, dan dapat berpartisipasi dalam membangun negara. Orang
Yahudi berperan dalam seluruh aspek kehidupan, dan sepenuhnya
mengidentifikasikan diri dalam seluruh aspek dengan warga setempat kecuali
dalam bidang keagamaan.[25]
Terkait dengan gerakan pembaruan
terdapat beberapa versi. Salah satunya Samuel Haeldheim mengemukakan bahwa
agama Yahudi adalah sebuah agama yang didalamnya tida ada unsur kebangsaan dan
mereka mengadakan pembaruan dalam bidang kepercayaan, hukum, dan ibadat agama
Yahudi.[26]
Dalam golongan konservatif mengambil
pembaruan dalam bidang agama, seperti doa dalam bahasa inggris dengan memakai
organ pengiring, tetapi mereka juga mengamalkan peribadatan seperti yang
terdapat dalam lingkungan Syinagogue
Ortodoks, menerima seluruh tradisi rabbaniah, tetapi dengan penafsiran
terhadapa hukum-hukum secara modern. Dalam bidang kepercayaan golongan ini
mengakui adanya wahyu Tuhan khususnya terhadap Israel, menerima paham
kebangsaan Yahudi, dan mengharapkan kebangkitan kembali tanah air Israel lama.[27]
Para pelopor pembaharu dalam agama
Yahudi antara lain Leopold Zunz (1749-1886) merupakan pelopor dalam bidang
intelektual atau yang lebih dikenal dengan gerakan ilmiah Yahudi. Solomon,
Judah Raportport (1790-1867) mengkaji tentang biografi dan sejarah Yahudi.
Samuel Luzata (1800-1860) terkenal sebagai sarjana pustaka terbesar dan penyair
termasyur. Abraham Geiger meneliti masalah kitab suci Taurat, sedangkan
Zechairiah Frankei menelah Talmud, dan menerbitkan jurnal ilmu pengetahuan
dengan judul “ Monartsschrift fur geschichte
und wissenchaaft de yudentums.” Heinrich Groetz (1817-1891) seorang ahli
sejarah Yahudi terbesar yang menulis sejarah Yahudi sebanyak 11 jilid. Juga
Maritz Steinschneider (1816-1907) seorang ahli pustaka Yahudi terbesar.
Timbul kesadaran bahwa agam Yahudi harus
dijelaskan dengan bahasa modern sebagai istilah-istilah yang mudah dipahami
oleh kaum intelektual, dan masyarakat pada waktu itu. Kesadaran ini
direalisasikan dengan menyampaikan khotbah dalam bahasa penganut Yahudi masa
kini. Penafsiran kembali ajaran-ajaran Yahudi dengan cara yang mudah dimengerti
masyarakat modern. Dibangun seminari-seminari rabbaniyah sebagai tempat
pelatihan para pemimpin Yahudi.[28]
Seminari pertama didirikan adalah
Collegio Rabbinico di Padna tahun 1823, dan tahun 1824 dibangun seminari
Israelite de Frence di Metz, kemudian tahun 1859 dipindahkan ke Paris. Di
German, seminari pertama dibangun tahun 1854 di Breslau dengan Zechariah
Frankel sebagai pemimpinnya. Pada tahun 1872 di Berlin berdiri seminari
Reformasi dipimpin oleh Geiger. Tahun berikutnya berdiri pula seminari ortodoks
di Berlin dipimpin oleh Israel Hildescheimer (1820-1899).[29]
Pada tahun 1855 di London berdiri
lembaga pendidikan Yahudi yang dipimpin oleh Rabbi Nathan Marcus Alder
(1803-1890), dan Sir Moses Montefiore (1784-1885). Perguruan ini melayani
kebutuhan pembinaan 40.000 jiwa orang Yahudi di negara ini. kemudian berkembang
menjadi lembaga pendidikan tinggi Yahudi dan bahasa Semit, dan mempunyai
hubungan dengan Universitas di London untuk membina kehidupan rohaniah kurang
lebih 750.000 orang Yahudi di inggris.
Demikian juga di Rusia, Polandia, dan
Hongaria, dibangun sekolah untuk para rabbi. Dengan demikian, dalam kurun waktu
berikutnya telah lahir banyak pemimpin kerohanian bagi umat Yahudi di seluruh
dunia.
Gerakan mistik Yahudi abad tengah yang
disebut dengan kabbalah menekankan suatu aspek yang bersifat perempuan dalam
ketuhanan. Akan tetapi orang Kabbalis juga menyetarakan sifat feminin dengan
kepasifan, sisi kiri dari realitas, yang merupakan sisi yang paling rentan
terhadap pengaruh jahat. Tidak satupun dari Kabbalisme dan Hasidisme yang
memberi kesempatan kepada perempuan untuk belajar Taurat, meskipun kedua
gerakan tersebut menekankan pada emosi-emosi yang pada taraf tertentu
mengimbangi kekeringan Talmud.[30]
Perempuan yang terkemuka di dalam Talmud
ialah Beruriah dan perempuan terkemuka di kalangan Hasidisme[31]
adalah Oudil. Mereka digambarkan sebagai perempuan yang bercitra baik.
Dalam konferensi Breslau yang diadakan
oleh Yahudi reformasi pada tahun 1846, suatu gerakan muncul untuk menjadikan
perempuan setara di semua bidang keagamaan, tetapi gerakan tersebut tidak
mendapat perhatian yang besar, bahkan dalam kalangan Yahudi reformasi sendiri.
Perempuan mandiri seperti Henrietta Szold, pendiri kelompok yang kemudian
menjadi organisasi medis Hadassah.[32]
Rabbi Isaaz Mayer Wise, yang mendirikan
Sekolah Tinggi Persatuan Ibrani (Hebrew Union College) di Cincinati sebagai
sebuah seminari teologi reformasi, adalah salah satu orang Yahudi Amerika
pertama yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Selama kepemimpinanya di Sekolah
Tinggi tersebut ia selalu mendorong perempuan untuk ikut serta. Tapi tidak
seorang pun mahasiswa perempuan yang mendapat pentahbisan, isu perempuan
sebagai Rabbi baru muncul pada tahun 1921.[33]
Dalam Yahudi Konservatif dan Ortodoks
posisi perempuan berkembang lebih lambat. Tuntutan gencar dari kaum feminis
disampaikan kepada Yahudi Konservatif
dan Ortodoks baru-baru ini saja. Sejak tahun 1960-an awal 1970-an orang Yahudi
benar-benar mengembangkan suatu kesadaran yang kuat akan ketidakadilan seksual
yang ada dalam agama mereka. Awalnya hal ini menjadi perhatian yang
kecil.tetapi sejak tahun 1970-an banyak feminis Yahudi, baik perempuan maupun
laki-laki, merupakan kritikus-kritikus vokal terhadap masalah perbedaan jenis
kelamin tradisional.[34]
Secara spesifik, pembaharu-pembaharu
berargumentasi secara persuasif bahwa perempuan Yahudi sekarang tidak perlu
dibebaskan dari kewajiban-kewajiban yang mengikat waktu karena dua alasan,
yaitu pekerjaan rumah tangga mereka lebih ringan daripada masa lalu, dan
laki-laki Yahudi sekarang harus berbagj beban yang ada. Dengan kata lain
pembebasan pada zaman modern cenderung memberikan isyarat kepada perempuan
bahwa sembahyang mereka tidak penting.
Terkait dengan partisipasi ritual yang
jauh lebih sempurna adalah kesempatan yang lebih besar untuk mempelajari
Al-Kitab dan Talmud. Belajar sangat penting dalam Yahudi sehingga menyebabkan
perempuan tidak pernah menjadi setara dengan laki-laki tanpa akses yang penuh
terhadap Taurat. Dan sampai kaum perempuan Yahudi benar-benar setara dengan
laki-laki secara fungsional dan institusional sehingga mereka bisa menjadi
Rabbi dan faham yang membedakan jenis kelamin (sexism).
Perempuan masih membutuhkan keringanan
dalam beberapa bidang hukum perdata Yahudi, karena hukum ini sering bercampur
dengan halakah.[35] Banyak
perempuan Yahudi termasuk orang yang tuli, bisu, dan cacat mental masih
dilindungi dalam hukum perdata. Contohnya seorang perempuan tidak bisa tampil di
pengadilan, perempuan Yahudi masih banyak yang belum memiliki hak waris, hak
perkawinan dan hak perceraian yang setara.
Dalam bidang kejiwaan, kaum feminis sekarang
juga tengah memikirkan ritual-ritual keagamaan baru sehingga citra perempuan
yang awalnya rendah menjadi seorang anggota yang setara dan sejajar. Dalam
semangat yang sama, kaum feminis merencanakan ritual-ritual baru bagi siklus
kehidupan perempuan sehingga pada saat-saat penting dalam kehidupan seorang
anak perempuan akan dilangsungkan upacara, sebagaimana halnya yang dilakukan
terhadap anak laki-laki.
Di bidang pekerjaan, perempuan Israel
masih diproteksi sebagai perempuan. Pengaruhnya adalah perempuan tidak
dibolehkan terlibat dalam kerja-kerja berat ataupun kerja-kerja malam hari, dan
mereka juga mendapat pensiun lebih cepat daripada laki-laki.[36]
Salah
satu tokoh feminis Yahudi ialah Bella Savitsky Abzug. Keterlibatan kelompok
Zionis dalam menyebarnya paham Liberal di seluruh dunia bukanlah berita baru.
Gerakan perempuan atau Feminisme juga tak luput dari keikutsertaan tokoh-tokoh
perempuan Yahudi yang berhasil menyebarkan ideologinya tersebut baik melalui
jalur birokrasi maupun organisasi-or ganisasi sosial kemasyarakatan. Militansi
mereka berhasil mengubah wajah parlemen Amerika dan akhirnya turut mempengaruhi
kebijakan dunia terhadap permasalahan perempuan dan keluarga.
Bella
adalah seseorang yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak perempuan di Amerika.
Perempuan yang dilahirkan pada tanggal 24 Juli 1920 di Bronx, kawasan kumuh di
kota New York , merupakan perempuan Yahudi pertama yang dipilih menjadi anggota
senat Amerika. Ia juga merupakan tokoh yang pertama kali memperjuangkan hak-hak
kaum gay di kongres Amerika. Selain itu, Bella dikenal sebagai tokoh
kontroversial karena ia menjadi pendukung aktif Zionis Israel di Kongres
Amerika dan bersikeras bahwa Zionisme adalah sebuah gerakan pembebasan.[37]
Masa
kanak-kanak tokoh Feminis ini dihabiskan bersama keluarganya, terutama
kakeknya, Wolf Taklefsky, yang juga merupakan guru pertamanya. Ia dibesarkan
dalam lingkungan Yahudi yang taat karena sejak kecil Bella aktif sebagai
penyanyi biara (Sinagog) berkat suaranya yang indah dan kemampuannya membaca
bahasa Ibrani serta Daven (doa). Dikisahkan ketika berdoa di Sinagog, Bella
selalu ditempatkan di belakang mechitzan atau tirai yang memisahkan perempuan
dan laki-laki. Bella merupakan murid perempuan yang berprestasi di sekolah
Talmud Torah , namun kemudian ia menjadi tokoh “pembangkang” yang menyuarakan
persamaan hak bagi perempuan. Guru sekolah Yahudinya, Levi Soshuk, kemudian
merekrut Bella menjadi pekerja sayap kiri kelompok Zionis, yaitu Hashomer
Hatzair , dalam usia yang masih sangat muda. Ketika dirinya berusia 11 tahun,
Bella dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok Zionis sosialis, telah
berencana pergi ke Israel sebagai komunitas Kibbutz.[38]
Pada
tanggal 4 Juni 1944, Bella menikah denngan Martin Abzug dan dikaruniai dua
orang anak perempuan, yaitu Eve Gail dan Isobel Jo. Ia menamatkan pendidikannya
di sekolah hukum Colombia School of Law pada tahun 1947 dan menjadi editor
jurnal Columbia Law Review. Ia merupakan penggagas Women Strike for Peace dan National Women’s Political Caucus di
Amerika. Pada tahun 1971, Bella terpilih menjadi anggota kongres Amerika yang
mengamankan amandemen pasal tentang persamaan hak (equal rights). Ia juga
berhasil mempengaruhi kongres untuk menganggarkan dana bagi penyelenggaraan
konferensi nasional perempuan pada tahun 1977. Bella yang juga berprofesi
sebagai pengacara, merupakan salah satu penulis dari Freedom of Information and
Privacy Acts dan sekaligus juru bicara yang menentang Perang Vietnam dan
penyebaran senjata nuklir. Jabatan terakhir Bella di pemerintahan Amerika
adalah menjadi wakil ketua dari Dewan Penasihat Nasional Presiden Jimmy Carter
untuk masalah Perempuan.[39]
Di
akhir kehidupannya, Bella mendirikan Women’s
Environmental and Development Organization (WEDO)[40]
dan menjadi presiden dari organisasi tersebut. Pada bulan November 1991, WEDO
berhasil menyelenggarakan World Women’s
Congress for a Healthy Planet. Sebanyak 150 tokoh perempuan dari 83 negara
yang berbeda kemudian bertemu di Florida dan berhasil membuat agenda-agenda
aksi untuk abad 21. Agenda dari konvensi tersebut juga telah menjadi platform
yang digunakan oleh kongres dunia keempat PBB tentang perempuan di Beijing yang
menghasilkan kaukus perempuan internasional dan berhasil merubah pemikiran dan
arah kebijakan PBB. Sejak tahun 1991, tokoh perempuan ini telah mempromosikan
agenda-agendanya ke seluruh dunia yang berkaitan dengan HAM, keadilan ekonomi
dan persoalan lingkungan.
Daftar Pustaka
Daya, Burhanuddin, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus Arafah, 1982).
Fauzan,
Aris Dhiya’ul, Perbandingan Agama 3,
(Jakarta: 2016).
Hermawati, Sejarah
Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005).
Sharma, Arvind, Perempuan
dalam Agama-agama Dunia, (Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002).
Islampos, posisi
wanita dalam ajaran Talmud Yahudi. www.islampos.com/begini-posisi-wanita-dalam-ajaran-talmud-yahudi-168014/
diakses pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 16.20.
Profil Bella Savitsky Abzug, diakses
pada tanggal 20 Oktober 2016, pukul 16.00 dari https://en.wikipedia.org/wiki/Bella_Abzug
Tokoh Feminis dan Perempuan Yahudi Pertama dalam
Senat Amerika: Sebuah Refleksi, diakses pada tanggal 21 Oktober 2016 pukul
15.00, dari http://thisisgender.com/tokoh-feminis-dan-perempuan-yahudi-pertama-dalam-senat-amerika-sebuah-refleksi/
[1] Talmud lebih dari sebagai kitab
hukum dan perundang-undangan. Talmud yang merupakan kumpulan dari cerita-cerita
mulut dipelihara dan disimpan dalam kesederhanaan. Talmud diterima dengan
senang hati sebagai dasar kelengkapan pedoman hidup mereka yang mengaku umat
Yahudi, karena mereka terlarang mengadakan pengurangan atau penambahan hukum
Musa atau Taurat. Umat Yahudi menganggap bahwa Talmud merupakan kitab suci yang
diturunkan dari langit dan kedudukannya disamakan dengan Taurat. Ada golongan
Yahudi yang lebih memuliakan Talmud dari pada Taurat. Menurut mereka kedudukan
Talmud lebih tinggi dari pada Taurat. Menurutnya orang yang membaca Taurat
tetapi tidak membaca Talmud berarti dia tidak memiliki Tuhan. Talmud memperoleh
kedudukannya yang dicapai oleh perguruan-perguruan zaman dahulu kala. Sampai
saat ini keagungan Talmud dikalangan masyarakat tetap sebagaimana sediakala.
[2] Masa diaspora (pembuangan)
adalah masa ketika orang-orang Yahudi mulai terpisah dari kesatuan etnis
dibuang dan keluar dari batas-batas wilayah kerajaan Yahuda. Peristiwa ini
diyakini bahwa raja-raja dan rakyat telah meninggalkan akidah dan melanggar
larangan Allah.
[3] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002), h.270.
[4] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002), h.270.
[5] Aliran Parishi adalah aliran
yang selalu menyendiri dan selalu berada dalam atau ingin kepada perpecahan.
Nama ini adalah nama yang diberikan oleh orang yang tidak senang terhadap mereka.
mereka terkenal dengan keimanan yang kuat, gagah berani, bekerja sebagai guru,
khotbah, atau sebagai penyebar agama. Menurut mereka bukan hanya Taurat saja
yang harus diikuti karena disamping Taurat masih ada cerita-cerita mulut yang
telah diperbincangkan oleh para rabbi dari generasi ke generasi lainya yang
dinamakan dengan Talmud.
[6]Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002), h.271.
[7] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Dipertais
Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002), h.272.
[8]Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Dipertais
Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.272.
[9] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Dipertais
Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.273-274.
[10] Arvin Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002), h.276.
[11] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.276-277.
[12] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.276-277.
[13]Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, ,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.279.
[14]Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia, (Dipertais
Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002)h.281.
[15] Islampos, posisi wanita dalam ajaran Talmud Yahudi. www.islampos.com/begini-posisi-wanita-dalam-ajaran-talmud-yahudi-168014/
diakses pada tanggal 20 Oktober 2016 pukul 16.20.
[16] Lembaga Al-Kitab Indonesia, Alkitab, (Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia, 2016), h. 1031.
[17] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandingan Agama 3, (Jakarta: 2016),
h.90.
[18] Lembaga Al-Kitab Indonesia, Alkitab, (Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia, 2016), h. 178.
[19] Aris Dhiya’ul Fauzan, Perbandingan
Agama 3, (Jakarta: 2016), h.90-91.
[20] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus
Arafah, 1982), h.207.
[21] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus
Arafah, 1982), h.208.
[22] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus
Arafah, 1982), h.208.
[23] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus
Arafah, 1982), h.209.
[24] Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h.80
[25] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi, (Yogyakarta: PT Bagus
Arafah, 1982), h.209.
[26] Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h.80
[27] Ada tiga dasar pokok golongan
konservatif yaitu 1) menjaga keutuhan dan kesatuan Israel 2) mempertahankan
tradisi Yahudi 3) pembinaan intelektual Yahudi (lihat dalam buku Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005) hal 181).
[28] Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), h.82.
[29] Hermawati, Sejarah
Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h.82.
[30] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.282.
[31] Hasidisme berasal dari kata
Hasid “saleh” dan bekerja dalam sumber-sumber Yahudi klasik untuk menunjuk
seseorang yang pengabdian rohaninya melampaui persyaratan teknis hukum agama
Yahudi.
[32] Hadassah adalah sebuah
organisasi Zionis perempuan Amerika. Didirikan pada tahun 1912 oleh Henrietta
Szold. Hadassah merupakan organisasi Yahudi internasional terbesar dengan
330.000 anggota di Amerika Serikat.
[33] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.282.
[34] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.283-284.
[35] Halakah is the law of jewish.
Halakah sering diterjemahkan sebagai hukum Yahudi.
[36] Arvind Sharma, Perempuan dalam Agama-agama Dunia,
(Dipertais Depag Ri-CIDA-McGill Project, 2002) h.287-288.
[37] Tokoh Feminis dan Perempuan
Yahudi Pertama dalam Senat Amerika: Sebuah Refleksi, diakses pada tanggal 21 Oktober
2016 pukul 15.00, dari http://thisisgender.com/tokoh-feminis-dan-perempuan-yahudi-pertama-dalam-senat-amerika-sebuah-refleksi/
[38] Tempat-tempat pemukiman kolektif
komunitas Yahudi dengan sistem kepemilikan bersama dan dengan struktur-struktur
demokratis di Israel.
[39] Profil Bella Savitsky Abzug,
diakses pada tanggal 20 Oktober 2016, pukul 16.00 dari https://en.wikipedia.org/wiki/Bella_Abzug
[40] WEDO adalah organisasi advokasi global yang didirikan pada tahun 1991 oleh mantan Kongres AS, Bella Abzug (1920-1998) dan aktivis feminis dan wartawan Mim Kelber (1922-2004). Organisasi ini tumbuh dari kelompok yang luar biasa dari wanita, termasuk Bella dan Gloria Steinem. WEDO telah menjadi pemimpin dalam mengorganisir perempuan untuk konferensi dan tindakan internasional, mendapatkan reputasi sebagai perintis dalam gerakan hak-hak perempuan internasional.


0 komentar:
Posting Komentar