Rabu, 30 November 2016

Relasi Gender dalam Agama Kristen

MAKALAH
RELASI GENDER DALAM AGAMA KRISTEN



DISUSUN OLEH :
WAHYU                        11140321000040
  NURAFIFAH                 11140321000004
DEWI NURSALINA   11140321000009




JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016



A.   Sekilas tentang Alkitab
               Alkitab adalah kumpulan buku, atau “semacam perpustakaan kecil”, yang memuat kesaksian tentang Sabda Allah, dari berbagai pengarang, yang ditulis dalam kurun waktu 2.000 tahun. Buku-buku tersebut mulanya tersebar-sebar diberbagai tempat dan dari waktu yang berbeda-beda. Proses penyusunan buku-buku tersebut melibatkan banyak penulis, bukan hanya beberapa orang saja. Yang jelas penyusunan Alkitab memakan waktu yang sangat panjang : dari satu generasi ke generasi berikut mengalami pengolahan, penyalinan, dst. Jadi Alkitab dalam bentuk buku seperti sekarang ini mengalami perkembangan tahap demi tahap.[1]
               Alkitab ditulis oleh manusia tetapi manusia mendapat penerangan dari Roh Allah sendiri. Allah berkomunikasi, menyatakan diri-Nya pada manusia dengan bahasa yang dimengerti manusia. Maka isi Alkitab berkisar pada kehidupan manusia, misalnya ajaran , larangan etis atau perintah, petunjuk untuk beribadat, ritus upacara, hukum; lagu pujian dll.[2] Alkitab terdiri dari dua bagian besar. Perjanjian Lama (45 buku) dan Perjanjian Baru (27 buku) sehingga jumlah seluruhnya 72 buku. [3]
Alkitab terbagi menjadi dua yaitu;
1.      Perjanjian Lama
 adalah bagian pertama dari Alkitab Kristen, yang utamanya berdasarkan pada Alkitab Ibrani, berisikan suatu kumpulan tulisan keagamaan karya bangsa Israel kuno. Bagian ini merupakan pasangan dari Perjanjian Baru, bagian kedua dari Alkitab Kristen. Terdapat variasi kanon Perjanjian Lama di antara Gereja-gereja Kristen; kalangan Protestan dan Orang Suci Zaman Akhir hanya menerima kitab-kitab yang terdapat dalam kanon Alkitab Ibrani, yang mana terbagi dalam 39 kitab, sedangkan kalangan Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan Ortodoks Oriental menerima sekumpulan tulisan dengan jumlah yang sedikit lebih banyak.
Perjanjian Lama terdiri dari banyak kitab berbeda yang ditulis, disusun, dan disunting oleh berbagai penulis selama kurun waktu berabad-abad. Alkitab Ibrani merupakan dasar dari Perjanjian Lama Kristen, namun tidak ada kejelasan sepenuhnya pada titik mana parameter-parameter dari Alkitab tersebut ditetapkan. Beberapa akademisi mengajukan pendapat bahwa kanon Alkitab Ibrani ditetapkan pada sekitar abad ke-3 M, atau bahkan setelahnya. [4]
Didalam perjanjian lama terdapat surat-surat diantaranya :  [5]
Nama kitab
Penulis
Perkiraan Tahun Penulisan
1445 SM
Musa
1444 SM
Musa
1443 SM
Musa
1443-1405 SM
Musa
1405 SM
1375 SM
1375-1075 SM
Selama masa Hakim-hakim (1100 SM)
Tidak dikenal
1000 SM
Tidak dikenal
960 SM
Tidak dikenal
Abad ke-6 SM
Tidak dikenal
Abad ke-6 SM
Abad ke-5 SM
Ezra
Abad ke-5 SM
Ezra
535-475 SM
445-433 SM
Tidak dikenal
483-474 SM
Tidak dikenal
1800 SM
Daud, Asaf, Musa dan beberapa penulis lain
1440-580 SM
Salomo dan penulis lain
950 SM
Salomo
935 SM
Salomo
960 SM
739-700 SM
627-560 SM
Yeremia
586 SM
593-571 SM
606-534 SM
760-725 SM
838 SM
760 SM
845 SM
782 SM
735 SM
650 SM
609-599 SM
640 SM
520 SM
520 SM
500 SM
40-60 M
45-60 M
57-60 M
40-65 M
Lukas
57-62 M
57 M
Paulus
55 M
Paulus
56 M
Paulus
56 M
Paulus
58 M
Paulus
58 M
Paulus
58 M
Paulus
50 M
Paulus
51 M
Paulus
55 M
Paulus
58 M
Paulus
57 M
Paulus
58 M
Tidak dikenal
67 M
47-48 M
63 M
Petrus
61-62 M
60-65 M
60-65 M
60-65 M
61-62 M
68-70 M





2.      Perjanjian Baru
Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Koine: Ἡ Καιν Διαθήκη,[1] Hē Kainḕ Diathḗkē), atau biasa disingkat PB, merupakan bagian utama kedua kanon Alkitab Kristen, yang bagian pertamanya adalah Perjanjian Lama (PL) yang utamanya didasarkan pada Alkitab Ibrani.[9] Perjanjian Baru berbahasa Yunani ini membahas ajaran-ajaran dan pribadi Yesus, serta berbagai peristiwa dalam Kekristenan pada abad ke-1. Umat Kristen memandang PB bersama-sama dengan PL sebagai kitab suci. PB (baik sebagian maupun secara keseluruhan) telah seringkali menyertai penyebaran agama Kristen di seluruh dunia. Selain itu PB juga dianggap mencerminkan dan berfungsi sebagai suatu sumber bagi moralitas dan teologi Kristen. Berbagai frase dan bacaan yang diambil langsung dari PB juga dimuat (bersama dengan bacaan-bacaan dari PL) ke dalam beragam liturgi Kristen. PB telah mempengaruhi berbagai gerakan keagamaan, filosofis, dan politik dalam dunia Kristen.[10]
Perjanjian Baru merupakan sebuah antologi, yakni koleksi karya-karya Kristiani yang ditulis dalam bahasa Yunani yang umum digunakan pada abad pertama, pada waktu yang berbeda-beda oleh berbagai penulis yang adalah murid-murid Yahudi pertama kali dari Yesus. Dalam hampir semua tradisi Kristen masa kini, PB meliputi 27 kitab. Teks-teks aslinya dituliskan pada abad pertama dan mungkin abad kedua Era Kristen, dan secara umum diyakini tertulis dalam bahasa Yunani Koine, yang mana merupakan bahasa umum (lingua franca) di Mediterania Timur mulai dari masa Penaklukan Aleksander Agung (335–323 SM) sampai evolusi dari bangsa Yunani Bizantium (kr. 600 M).[11] Semua karya yang pada akhirnya tergabung dalam PB ini tampaknya dituliskan paling akhir kr. 150 M,[2] dan beberapa akademisi menganggapnya tidak lebih dari 70 M[3] atau 80 M.[4]
Koleksi teks-teks terkait seperti surat-surat dari Rasul Paulus (suatu koleksi utama yang telah ada pada awal abad ke-2) dan Injil kanonik dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes (ditegaskan oleh Ireneus pada akhir abad ke-2 sebagai Keempat Injil) secara bertahap bergabung dengan karya tunggal dan koleksi lainnya dalam beragam kombinasi yang berbeda untuk membentuk berbagai kanon Kitab Suci Kristen. Seiring berjalannya waktu beberapa kitab yang diperdebatkan seperti Kitab Wahyu dan beberapa Surat-surat Umum dimasukkan ke dalam kanon, yang mana pada awalnya karya-karya ini tidak dianggap sebagai Kitab Suci. Karya-karya lainnya yang pada awalnya dianggap sebagai Kitab Suci, seperti 1 Klemens, Gembala Hermas, dan Diatessaron, tidak dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru. Kanon Perjanjian Lama tidak sepenuhnya seragam di antara semua kelompok Kristen utama seperti Katolik Roma, Protestan, Ortodoks Yunani, Ortodoks Slavia, dan Ortodoks Armenia. Namun demikian kanon Perjanjian Baru yang berisikan 27 kitab ini, setidaknya sejak Abad Kuno Akhir, telah diakui hampir secara universal dalam Kekristenan (lihat: Perkembangan kanon Perjanjian Baru).[12]

Didalam perjanjian baru terdapat surat-surat diantaranya :  [13]
1.      Roma - Penelaahan yang sistematis atas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi maupun non Yahudi.
2.      1 Korintus - Surat ini menyoroti perpecahan dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan kebangkitan. [14]
3.      2 Korintus - Pembelaan Paulus atas kerasulannya.
4.      Galatia - Paulus membuktikan kesalahan dari legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan) dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan orang-orang Kristen.
5.      Efesus - Posisi orang percaya di dalam Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
6.      Filipi - Paulus membicarakan tentang pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
7.      Kolose - Paulus memfokuskan pada keutamaan Yesus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
8.      1 Tesalonika - Pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya Kristus untuk yang kedua kalinya.
9.      2 Tesalonika - Koreksi-koreksi atas pendapat yang salah mengenai Hari Tuhan.
10.  1 Timotius - Instruksi-instruksi kepada Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran sesat, peranan wanita, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
11.  2 Timotius - Sepucuk surat untuk menguatkan Timotius.
12.  Titus - Paulus meninggalkan Titus di Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua, penilik jemaat.
13.  Filemon - Supucuk surat kepada seorang tuan mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya mengampuni Onesimus.
    1. Teks teks ayat tentang kesetaraan
Jumlah teks – teks yang memarjinalisasikan perempuan memang cukup banyak dalam Alkitab, namun ini tidak berarti ayat-ayat yang setara gender dapat diabaikan. Padahal naskah teologi kesetaraan gender jelas diungkapkan di perjanjian Lama. Sebagaimana diungkapkan Rosemary Radford Ruether “Pernyataan penuh semangat yang membenarkan sikap merendahkan perempuan saat ini harus dilihat sebagai wujud dari agama Kristen patriarkhal paska Paulus yang bertentangan dengan agama Kristen kerakyatan yang lebih awal” . ia mengakui bahwa sebenarnya tidak ada ayat-ayat dalam alkitab yang membenarkan untuk merendahkan perempuan.[15]
istri kepada suami dalam segala sesuatu” (Efresus 5: 22-24).Dari penyataan alkitab ini dapat disimpulkan bahwa kesetaraan bukanlah berarti kesetaraan dalam artian kesetaraan yang diungkapkan dalam ayat ini menyampaikan pesan bahwa meskipun ada kesetaraan akan tetapi ada batasan – batasan tertentu yang memang tidak boleh di kecualikan.
Pada dasarnya Yesus sendiri telah merobohkan prinsip – prinsip yang dianut oleh Yahudi yang terlalu menafikan dan memarjinalkan kaum perempuan. Seperti misalnya, tidak menyebutkan anak perempuan dalam status kekeluargaannya. Seperti yang terjadi dikalangan keluarga Yakub.
Yesus memperlakukan perempuan secara positif, misalnya dalam Lukas 7:36-50, diceritakan bahwa Yesus sangat memperhatikan dan menerima secara positif perempuan berdosa yang datang kepadanya untuk mengurapi kakinya dengan minyak narwastu. Hal itu sangat bertentangan dengan sikap para laki-laki yang juga hadir di tempat yang sama. Laki-laki cenderung menolak dan menyalahkan perempuan berdosa yang meminyaki kaki Yesus. sangat menarik sikap Yesus jika dibanding dengan laki-laki yang lain.[16] Nampak bahwa sebagai laki-laki Yesus tidak memanfaatkan posisinya untuk mendominasi perempuan
Dalam Kej 1:27 bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara seksualitas tetapi posisi nya setara sebagai sesama ciptaan Allah. Allah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) menurut tselem (gambar) dan demut (rupa) Allah. Kata tselem tidak pernah digunakan untuk suatu gambaran visual yang konkrit, tetapi murni suatu gambar yang tidak memiliki isi dan bentuk yang konkrit. Kata tselem merupakan istilah umum yang menunjuk kepada hubungan, dan menggambarkan sesuatu yang tidak ada. Kata tselem sebenarnya menunjuk kepada ‘tanda’, yakni suatu tanda yang menunjuk kepada sesuatu atau seseorang yang tidak hadir. Ini berarti, menurut Kej. 1:26-27, manusia yang ditempatkan di dunia adalah ‘tanda’ yang menunjuk kepada kehadiran Allah. Jadi manusia menjadi tanda kehadiran Allah yang diberikan mandat sebagai wakil Allah untuk memerintah di dalam dunia.  Manusia yaitu laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar Allah menunjukkan bahwa posisi mereka setara tanpa hierarki. Diciptakan menurut gambar Allah adalah suatu martabat dari laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan tugas yang sama dari Allah (Kej 1:26;28-29). Sehingga laki-laki tidak akan berada diatas perempuan ataupun sebaliknya.
Selanjutnya dalam teks kedua Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang belum terpisahkan. Ia masih merupakan satu kesatuan. Kemudian Allah mengambil dari manusia itu (ha adam) satu rusuk lalu menciptakan perempuan (ha adama).[17] Namun tidak berarti perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah dari laki-laki. Penulis kitab Kejadian mengungkapkan bahwa “Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya lalu menutup tempat itu dengan daging”(Kej. 2:21) Teks ini menegaskan bahwa perempuan adalah bagian atau belahan dari laki-laki. Maka hanya dalam persatuan kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) itu, terdapat seorang manusia yang sempurna, yang segambar dengan Allah. Setelah diciptakan perempuan, laki-laki (adam) menjadi mahluk yang baru karena sebagian dari dirinya telah menjadi bahan bagi perempuan. Adam (laki-laki) disebut sebagai is dan hawa (perempuan) disebut sebagai issa. Bahkan Laki-laki sendiri yang memberi nama bagi perempuan dengan pengakuan “inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (bnd Orang Ibrani menyebut saudara sekaum dengan istilah darah-daging Kej 29:14)[18]
Dengan dijadikannya laki-laki dan perempuan sejak awal sudah ada perbedaan tetapi bukan untuk dipertentangkan melainkan sebagai identitas pembeda dalam peranan-peranan tertentu terkait dengan seksualitasnya sebagai laki-laki dan perempuan. Perempuan diciptakan dari laki-laki bukan berarti bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki. Saat Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk dalam PL di pakai kata banna (Kej 2:22) yang berarti membentuk atau membangun suatu yang keras (membangun menara, mezbah atau kota). Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa Allah menciptakan perempuan bukan sebagai mahluk yang lemah. Kehadiran perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki adalah sebagai penolong yang sepadan (Ibr. Ezer Kenegdo, Kej 2:18). Sebagai penolong yang sepadan maka perempuan memiliki kekuatan dalam segi-segi tertentu agar fungsi menolongnya dapat terealisasi.
    1. Teks teks ayat tentang Misoginis
Alkitab sebagaimana Kitab suci agama lainnya sangat ambigu dalam melihat perempuan disatu sisi membela kehidupan perempuan, disisi lain menempatkan perempuan dalam posisi marginal. Pembagian posisi atau peran yang tidak adil sangat kental dalam tradisi agama Kristen cukup terlihat pada Perjanjian baru, Khususnya naskah Paulus.[19]
Implikasinya ketika kekuasaan laki-laki lebih dominan maka mengakibatkan suatu kemungkinan larangan terhadap perempuan berbicara didepan publik. Hal ini termaktub dalam “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan yang berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat” (1 Kor 14 ayat 34). Hingga saat ini di Indonesia sendiri masih banyak menganut paham tersebut terutama Katolik dan sangat kuat mendukung pandangan tersebut.[20]
Dan yang paling mengejutkan larangan perempuan berbicara di ruang publik termaktub dalam kitab Injil yaitu: “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Timotius 2: 11-12 Dari ayat inilah kemudian munculah marjianalisai terhadap perempuan dan terkadang berakibat pada pelecehan dan diskriminasi terutama dalam rumah tangga yang mengakibatkan munculnya KDRT. Seperti yang terjadi dewasa ini.
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan perilaku tertentu di luar dan di dalam gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal berikut : “Perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja. ” 
Dan argumen tersebut digunakan dengan alasan sebab Adam lebih dahulu diciptakan, daripada Hawa.[21] Dengan begitu, Adam lebih tinggi nilainya daripada Hawa. Juga disebabkan jatuhnya Adam dari Surga diyakini karena tergoda bujukan Hawa. Biblepun menyatakan “Perempuan (Hawa) yang tergoda Iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tersebut dan melanggar larangan Tuhan” (Ulangan pasal 3 ayat 6, lihat juga 1 Tim 2: 13). Karena itulah, Alkitab selalu menyalahkan perempuan atas dosa yang dilakukan Adam. Alkitab menjelaskan, “lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa” (1 Timotius pasal 2 ayat 14).[22]
Oleh sebab itu, hawa dikutuk atas perbuatannya. Kutukan itu berupa rasa sakit yang diderita saat mengandung dan melahirkan pernyataan tersebut ditegaskan dalam alkitab , “Firman-Nya kepada perempuan itu :Susah payahmu waktu mengandung akan ku buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu ; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu” (Ulangan 3:16). Tidak hanya itu, birahi perempuan terhadap suami dianggap sebagai kutukan, bukan menifestasi dari cinta yang akibatnya perempuanpun ditempatkan di bawah kekuasaan laki-laki.
Ajaran Kristen yang merendahkan perempuan juga nampak pada anggapan perempuan sebagai najis. Agak mirip dalam tradisi Hindu, Alkitab juga beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengalami menstruasi dianggap najis dan apapun yang disentuhnya telah terkena najis (Efesus 5: 19-27). Implikasinya adalah perempuan harus mengasingkan diri. Dan tidak cukup sampai di situ, menstruasi dipandang sebagai dosa sehingga perempuan yang mengalaminya harus melaksanakan upacara korban penghapusan dosa (Efesus pasal 5 ayat 28-30) selain itu, ajaran Kristen lainnya yang menganding bias gender adalah konsep bahwa perempuan sebagai hak milik laki-laki yang bisa dialihkan kepada siapa saja. Karena itu, seorang istri yang ditinggalkan mati suaminya harus kawin dengan saudara laki-laki suaminya (Ulangan 25: 5). Selain itu, perempuan juga dianggap sebagai rampasan perang (Ulangan 20: 14, Ulangan pasal 31 ayat 9, II Twarikh 28: 8, Hakim-hakim 21: 14). [23]
Dari beberapa pernyatan diatas menyatakan bahwa perempuan merupakan the Second class yang berimplikasi pada pudarnya keseteraan gender. Namun, perlu kita ketahui bahwa ke tidakbolehan perempuan berbicara didepan publik pada kala itu karena kurangnya pendidikan terhadap perempuan sehingga mengakibatkan keawaman serta ketidaktahuan kalangan perempuan terhadap alkitab maupun persoalan-persoalan gereja.

B.     Status Perempuan dalam Ritual-Ritual
a.      Kesetaraan dalam Pengabdian
1. Allah memberkati laki-laki dan perempuan
“Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Kejadian 5:2)[24]
2.Perempuan juga dipanggil sebagai nabi
“Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya” (Lukas 2:36)
3. Perempuan juga bernubuat dan dipenuhi Roh Kudus
“Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat” (Kisah 2:18).
“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.[25] Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. [26]Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:8-11).[16]
4.Laki-laki dan perempuan memberikan persembahan kepada Tuhan
“Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN” (Keluaran 35:22)
“Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan–mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN” (Keluaran 35:29).
5.Para perempuan bekerja keras untuk Tuhan
“Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan” (Roma 16:12).[27]
6.Laki-laki dan perempuan menjadi pelayan Paulus
“Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka” (Kisah 17:34)
7. Para perempuan bekerja keras untuk Tuhan
“Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan” (Roma 16:12).
b. Kesetaraan dalam Kebaktian
1. Perempuan menyanyi di hadapan Allah
“Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing” (1Samuel 18:6).[17]
“Yeremia membuat suatu syair ratapan mengenai Yosia. Dan sampai sekarang ini semua penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan menyanyikan syair-syair ratapan mengenai Yosia, dan mereka jadikan itu suatu kebiasaan di Israel. Semuanya itu tertulis dalam Syair-syair Ratapan (2Tawarikh 35:25).[28]
“selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus penyanyi laki-laki dan perempuan” (Ezra 2:65).
“Selain dari budak mereka laki-laki dan perempuan yang berjumlah tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh orang. Pada mereka ada dua ratus empat puluh lima penyanyi laki-laki dan perempuan” (Nehemia 7:76).[29]
“Pada hari itu mereka mempersembahkan korban yang besar. Mereka bersukaria karena Allah memberi mereka kesukaan yang besar. Juga segala perempuan dan anak-anak bersukaria, sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh” (Nehemia 12:43).
2.Laki-laki dan perempuan bisa mengerti hukum taurat
“Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti” (Nehemiah 8:2)[30]
3.Perempuan sebagai penyembah hebat
“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” (Matius 26:10)
“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus” (Markus 14:3)
4.Perempuan dan laki-laki berdoa bersama-sama
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kisah 1:14)
5.Laki-laki dan perempuan sama-sama dibaptis dengan air
“Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah 8:12)
c. Kesetaraan dalam Gereja
1.Perempuan sebagai pengajar bagi anaknya prempuan dan laki-laki[31]
“Maka dengarlah firman TUHAN, hai perempuan-perempuan, biarlah telingamu menerima firman dari mulut-Nya; ajarkanlah ratapan kepada anak-anakmu perempuan, dan oleh setiap perempuan nyanyian ratapan kepada temannya” (Yeremia 9:20).
“Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya” (Titus 2:4).
“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik” (Titus 2:3). [19]
2.      Laki-laki dan perempuan dipenuhi Roh Kudus
“Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yoel 2:29).[32]
3.      Para perempuan yang percaya sangat menonjol dalam gereja
“Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka” (Kisah 17:4)
4.Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki keselamatan dalam Kristus
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).[33]
C.Status perempuan dalam kehidupan sosial
a. Relasi laki laki dan perempuan
Alkitab berbicara tentang kesederajatan laki-laki dan perempuan. Pada penciptaan baik laki-laki maupun perempuan dibuat dalam keserupaan dengan Allah. Mengakui bahwa di masyarakat (dan juga di dalam gereja) aktif di segala bentuk perbedaan dan hierarki (seks, gender, dan perbedaan sosial lainnya) yang berimplikasi pada relasi kuasa yang timpang antara perempuan (inverior) dengan laki-laki (superior). Berdasarkan hal tersebut, semua aturan yang dibuat harus memenuhi prinsip-prinsip:
1.      Persamaan substantik (bukan kesamaan atau persamaan)
Menjamin persamaan pada akses, kesempatan, dan juga manfaat atau hasil yang sama bagi kaum perempuan. Contohnya antara lain: ketentuan mengenai afermatik action (keterwakilan 30 % perempuan pada aras pengambilan keputusan). Dan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak reproduksi perempuan (cuti haid, cuti hamil).[34]
2.      Non Diskriminatif
Diskrimatif terhadap perempuan adalah: “setiap Pembedaan, Pengecualian, Pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh atau tujuan: untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi dan sosial, budaya sipil atau apapun lainnya, oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan. (pasal 1 Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan / CEDAW).[35]
3.      Non Kekerasan
Kekerasan terhadap perempuan adalah: “setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi. (pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan).[20]
b. Relasi Suami dan Istri
               Tanggung jawab seorang pria adalah memimpin dan bertanggung jawab atas rumah tangganya. Ia juga harus memelihara dirinya sendiri. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Adamlah, bukan Hawa, yang dimintai penjelasan oleh Tuhan (Kejadian 3:9). Adapun  Tanggung Jawab Suami diantaranya adalah :[21]
1. Mencintai Istrinya (Efesus 5:25)
               Cinta harus memiliki kemauan dari pihak individu yang terlibat didalamnya untuk menunjukkannya.[36] Cinta ditunjukkan oleh perbuatan (Yohanes 14:21), selalu mementingkan orang lain (1 Korintus 13:4-7), menganggap orang lain lebih penting dari dirinya sendiri. Rasa aman yang muncul dari kasih sayang seorang suami adalah sebuah hal yang sangat penting bagi seorang istri. Rasa aman berarti memiliki seseorang untuk bersandar. Suami harus menyediakan rasa aman itu dan cinta bagi istrinya sebagai tempat untuk bersandar. Cinta adalah memiliki seorang istri, sahabat, dan kekasih dalam diri seseorang.
2. Memelihara Istrinya (Amsal 31:10; 1 Korintus 7:32-35)
               Pria yang menikah harus menempatkan Tuhan di tempat pertama dalam sebuah pernikahan. Ia juga harus memenuhi kebutuhan istrinya secara materi (1 Timotius 5:8). Seorang suami harus memerhatikan istrinya secara fisik (Efesus 5:26-28). Sebuah pengakuan dan ucapan terima kasih atas sesuatu yang dilakukan oleh seorang istri akan berdampak luas. Yesus sangat mencintai gereja-Nya, hingga Ia mendampingi dan menolongnya melalui Roh Kudus. Seorang suami juga harus memerhatikan keadaan rohani istrinya (Efesus 5:26- 27).[37]
3. Memimpin Istrinya
               Seorang suami tidak dapat mengalihkan tanggung jawab atas rumah tangga dan keluarga kepada istrinya.[38] Kepemimpinan memiliki kaitan dengan cinta (Yohanes 13:3-5; 1 Korintus 11:3; Efesus 5:23). Seorang suami harus memimpin istri dan anak-anaknya melalui teladan. Ia harus memeriksa kemajuan rohani istrinya, menjalankan perannya sebagai seorang ayah (Efesus 6:4). Seorang suami haruslah menunjukkan teladan, mengajar dengan penjelasan (Ulangan 6:4), mendorong dengan nasihat (Kisah Para Rasul 16:29-34), mendisiplin melalui pengalaman (Amsal 3:12, 23:14; 1 Timotius 3:4,5).
               Seorang pria haruslah menjadi seorang suami yang baik dan memperlakukan istrinya seolah-olah ia masih sebagai pacarnya, menjadi ayah yang baik, menghadirkan Allah bagi keluarganya, dan lewat doa membawa keluarganya kepada Tuhan. Tetapi, pertama-tama ia harus mengenal Bapa Surgawi, menerima disiplin dari-Nya, mengetahui kehendak-Nya, barulah Ia dapat memampukannya melaksanakan ajaran-Nya.
               Adapun peran istri, seorang istri harus membuat suaminya bangga atas dirinya, dan menjadikan itu sebagai hal yang utama dalam hidupnya. Istri tidak sepatutnya bersaing atau mengkritik suaminya. Seorang istri memiliki tanggung jawab pada suaminya diantaranya yaitu :[22]
1. Tunduk dan Mengabdi pada Suaminya (1 Petrus 3:1; Efesus 5:22, 24;
dan Kolose 3:18)
               Istri harus tunduk kepada suaminya sebagaimana dunia harus tunduk kepada Kristus. Allah telah menetapkan bahwa pria harus memimpin keluarga (sebuah tim) sebagaimana disebutkan dalam 1 Korintus 11:3 dan Efesus 5:23. Tunduk tidak menandakan bahwa Allah merendahkan istri. Fungsinya memang berbeda, tetapi nilainya tetaplah sama. Pria tidaklah superior atau inferior. Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa seseorang superior atau inferior. Dia menetapkan peranan yang berbeda untuk kita jalani; Dia menjadikan pria sebagai pemimpin dan wanita sebagai pengikut. Dia menyatukan mereka untuk saling mendukung, menolong, menguatkan, memuji, dan melengkapi, bukan untuk bertengkar. Kepatuhan seorang istri muncul dari kasih Allah dan kerinduan akan keteraturan, serta keharmonisan dalam rumah tangga.
2. Memunyai Kehidupan Rohani
               1 Petrus 3:1-6 menunjukkan bagaimana seorang istri perlu memunyai kehidupan rohani yang tulus. Dia harus menjadi wanita seperti yang Tuhan inginkan, menunjukkan perhatian yang nyata terhadap keselamatan suaminya, dan kekayaan rohani melalui kesederhanaan dan kecantikan jiwa.
3. Melayani
               Amsal 31:10-31 pada ayat 11-12 menyebutkan bahwa istri harus mendukung suaminya, termasuk dalam memberikan cinta kasih dan kesetiaan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Hal ini termasuk di dalamnya memenuhi kebutuhan suami dan mengimbangi kekurangannya (Kejadian 2:18).[39]
               Ayat 13-19 menunjukkan bagaimana seorang istri mengelola pekerjaan rumah tangga, termasuk tenaga, efisiensi, dan ekonomi. Istri melayani keluarga seperti yang disebutkan dalam ayat 27 dan 28. Ayat 20-25 menggambarkan pertolongan yang diberikan istri kepada tetangga-tetangganya. Pertolongan itu berupa keramahan, ketelitian, dan sifat suka menolong.[40]
               Gambaran yang indah dan seimbang mengenai seorang istri Kristen adalah istri yang sibuk dalam melayani Tuhan dengan menjadi seorang istri, ibu, pengurus rumah tangga, dan tetangga yang baik. Jika hanya menekankan satu aspek, kemungkinan akan dapat mengabaikan aspek yang lain, sehingga dapat melemahkan hubungan kekeluargaan.[23]
Partisipasi perempuan dalam bidang keagamaan dikisahkan dalam Perjanjian Baru (PB). Maria Magdalena adalah satu-satunya perempuan yang disebutkan di keempat Injil, selain sang Perawan Maria. Ia muncul pertama kalinya selama pelayanan Yesus di Galilea. [41]
Dari sumber-sumber yang khusus, diceritakan bahwa wanita-wanita tidak diperkenankan untuk membaca atau berbicara di Bait Allah, tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan di tempat yang dikhususkan untuk wanita.
Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa Yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia memberi semangat pada Martha dan Maria untuk duduk pada kaki-Nya sebagai murid-murid-Nya (Luk 10:38-42). (hal. 99) Penghargaan Yesus pada wanita adalah sesuatu yang baru dan sangat menyolok, dan sangat berbeda dari perlakuan orang-orang Farisi dan Saduki. [42]
Wanita-wanita di dalam kehidupan Kristus:
1.      Maria, Ibu dari Kristus
Maria, ibu dari Yesus adalah seorang wanita yang baik dan saleh. Tentunya, Maria telah mencontohi Hana, karena nyanyian pujiannya pada Allah (Luk 1:46-55) sangat mirip dengan nyanyian Hana (1 Sam 12:1-10).[43]
2.      Hana, seorang nabiah
Perjanjian Baru dibuka dengan kisah yang begitu terkenal tentang kelahiran Yesus. Pada saat upacara pentahiran Maria (Im 12:1-6) seorang nabiah bernama Hana menyatakan pernyataan yang dramatis. Hana dipakai untuk memperkuat bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat yang dinanti-nantikan oleh Israel. Karena itu, seorang wanita mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kelahiran Yesus dan di dalam penyerahan-Nya. [44]
3.      Wanita Yang Diampuni, Seorang Pemberita Injil
Di dalam Alkitab, baik laki-laki maupun perempuan mengikuti Kristus. Wanita diberkati, diampuni dan disembuhkan sama seperti laki-laki. Seorang wanita yang mempunyai lima suami dan yang sedang hidup dengan laki-laki lain (yang tidak dinikahinya), telah diberkati dan diampuni dari semua dosa-dosanya. Sebagai bukti bahwa Yesus tidak pernah lagi melihat dosa-dosa dari wanita ini, pada hari dimana ia bertobat ia menjadi salah satu dari pemberita InjilNya (Yoh 4:28,29,39). Ia kemudian membawa seluruh desa itu pada Kristus.
4.      Wanita yang Mendukung Yesus
Gereja-gereja yang sama di negara-negara Barat yang menolak kepemimpinan dan pelayanan wanita, lebih suka memberikan uang mereka untuk mengirim wanita sebagai misionari ke negara-negara lain dan menyuruh mereka berdiam diri di dalam gereja-gereja serta mengajar pandangan-pandangan yang tidak Alkitabiah tentang peranan wanita.[45]
5.      Wanita-wanita di dekat Salib
“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh 19:25). Orang-orang terakhir di dekat salib adalah seorang wanita (Mrk 15:47). Wanita-wanita pemberani mau mempertaruhkan nyawanya untuk Yesus. Para pria dengan penuh ketakutan lari untuk menyelamatkan diri mereka.
6.      Para Wanita yang Menyiarkan Kebangkitan
Seorang wanitalah yang pertama kali berkhotbah tentang kebangkitan. Dan ia mengkhotbahkannya pada rasul-rasul itu sendiri. Yesus menyuruhnya untuk melakukan hal itu (Yoh 20:17,19). [46]




A.    Perempuan dalam Persfektif Teolog Kristen
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan. “Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan ? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberepa abad.”[47]
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan perilaku tertentu di luar dan di dalam gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal berikut : “Perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja. ”
“Umat Kristen bertakhayul tenang perempuan. Christom berkata : “Perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda, bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”[48]
Ahmad Khaki menjelaskan tentang asal-mula takhayul ini, ia mengatakan: Masyrakat primitive tidak memahami sifat darah, oleh karena itu mereka takut akan darah dan menghubungkanya dengan “Mana.” Mereka juga menganggap perempuan sebagai kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang laki-laki harus menjauh dari istrinya dan tidak boleh menyentuhnya sampai dia berusaha menebus ketidaksucianya dengan cara menumpahkan darah seekor burung. Selain itu, mereka percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat mencemari segala sesuatu yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki-laki harus menghindar dari istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur di kasur yang berbedak mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minum dari tempat yang berbeda pula.
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen sangat mirip dengn kondisi kaum perempuan Yahudi karena kedua agama tersebut menjauhkan mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa ahli theologi juga melampaui hal ini dengan mempersoalkan asal-usul dan kemanusiaan kaum perempuan. Apakah perempuan memiliki roh ? pertanyaan-pertanyaan ini dikemukakan dan dibahas di majelis Macon yang diselenggarakan pada 581 M dan beberapa kali sejak itu.[49]
Alkitab dalam teologi Calvinis adalah sumber dari ajaran gereja. Sebagai sumber ajaran gereja, Alkitab menduduki posisi penting dalam perumusan dogma dan pengajaran umat. Namun, landasan operasional tritunggal panggilan dan pengutusan gereja mengacu pada kesaksian kanon Alkitab yang ditafsirkan sesuai konteks masa kini. Teks Alkitab dan konteks umat percaya masa kini terjalin dalam relasi Hermeneutika yang memakai pendekatan yang komprehensif. Hermeneutika diperlukan guna menemukan kerugma/ pesan Firman bagi umat masa kini. Berbagai metode dan pendekatan telah dikembangkan oleh para teolog Kristen guna mengkaji ulang pesan-pesan tertulis agar menjadi pesan-pesan yang dapat dikaryakan bagi kepentingan martabat manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan alam lingkungan.
Ada begitu banyak kisah perempuan yang diceritakan Alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan, menyedihkan karena mengalami kekerasan seperti kisah Tamar, yang diperkosa saudara seayah tetapi lain ibu dan Tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnya Raja Daud ata u tua-tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam Hakim-Hakim. Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota Gibea sampai mati. Lalu orang Lewi pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada suku Israel. Akibat perbuatan orang Gibea yang adalah suku Benyamin, maka orang Israel dari suku lain maju berperang melawan suku Benyamin. Kisah tentang kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam beberapa teks Alkitab. Sebut saja Izebel (Raja-Raja) istri Raja Ahab yang mengatas namakan Raja mengambil kebun anggur Nabot. Nabot diperhadapkan dengan 2 orang saksi dusta akibatnya ia dilempar dengan batu sampai mati. Kisah Delila yang menjual suaminya Simson kepada orang Filistin yang mengakibatkan Simson menderita, matanya dicungkil sehingga ia buta (Hakim-Hakim).
Disamping kisah yang memilukan akibat kekerasan terhadap perempuan, Alkitab menceritakan juga kisah perempuan-perempuan yang memilki kharisma khusus seperti nabiah. Ada Deborah (Hakim-Hakim 5), Hana (Lukas 2 : 36), Hulda (2 Raja- Raja 22:14).
Alkitab menceritakan juga kisah heroik yang ditampilkan oleh perempuan sebagai pemimpin, pejuang hak asasi, pembela bangsanya, pendamai, juga pelayan Firman. Tetapi dibandingkan dengan kisah tentang laki-laki, kisah para perempuan hebat ini sangat sedikit. Ada ketidak seimbangan dalam menceritakan tentang kinerja laki-laki dan perempuan. Ketidak seimbangan itu ada sebabnya. Saya mencoba mencarinya dalam kisah tentang penciptaan.
Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”  Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.  Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran 21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2 Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.  Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga.  Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan. 
Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita.  Di dalam Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal.  Itulah sebabnya sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”
Ruether juga menggunakan istilah “metode korelasi” ketika ia menguraikan metode interpretasi feminis.  Bandingkan dengan pendapat Daphne Hampson, salah seorang teolog feminis yang lebih radikal, yang mengemukakan hal senada ketika ia mengatakan bahwa teologi haruslah merupakan jembatan antara masa lalu dan masa kini.  Menurutnya, teologi harus menghubungkan masa lalu dan masa kini melalui tiga pendekatan, salah satunya disebut pendekatan kairos, yakni suatu pengakuan bahwa masa lalu pada dasarnya bersifat normatif, namun bisa saja terjadi perkembangan (Theology).  (Namun tidak jelas apa yang ia maksud dengan “bisa saja terjadi perkembangan.”  Apakah itu berarti perkembangan dalam bentuk perubahan sehingga yang normatif itu tidak lagi normatif?)  Pendapat ini juga serupa dengan yang dikatakan Tillich bahwa para teolog berada di antara dua kutub.  Kutub pertama adalah otoritas teologis, yakni Alkitab sebagai sumber teologi.  Kutub ini perlu untuk menjamin agar teologi yang dihasilkan bersifat otoritatif.  Kutub yang lain adalah situasi.  Jadi, tugas para teolog adalah menjembatani berita Alkitab dengan situasi masa kini.
Dengan ditetapkannya “Dasawarsa Oikumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Wanita” oleh Dewan Gereja-gereja se-Dunia, gereja-gereja dipanggil untuk menguji kembali struktur gereja dan mengusahakan keseimbangan dalam arti memberi peranan penuh dari seluruh anggotanya tanpa terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapat peran yang seimbang dalam gereja, sehingga mereka benar-benar dapat berperan sesuai dengan bakat dan talentanya masing-masing.
Sebagai gambar Allah, perempuan diciptakan sempurna. Sama baiknya dengan laki-laki. Perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang sama. Menyia-nyiakan hak dan kesempatan pemberian dari Allah sama dengan menyia-nyiakan berkatnya. Karena itu, gereja dipanggil untuk memberdayakan kemampuan dan keahlian perempuan agar semakin hari semakin berkualitas. Di sisi lain perempuan sendiri diingatkan bahwa panggilan iman Kristiani menantang dirinya untuk berkarya dan menyumbangkan kemampuannya secara penuh. Dengan motivasi yang demikian, apapun yang dilakukan oleh perempuan bukan merupakan ambisi pribadi atau demi dirinya sendiri, namun lebih pada kesadaran akan panggilan Ilahi.
Dalam ajaran Katolik menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan menempati posisi yang setara dan sederajat. Antara lain dalam kitab Kejadian 1:27-28: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Allah memberkati mereka dan lalu berfirman: “beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Dalam kristen Protestan dalam ajaran Alkitab, Allah mewujudkan kasih-Nya terhadap manusia tanpa memandang jenis kelamin, golongan, maupun usia dan nyata benar dalam terang kasih Allah antara laki-laki dan wanita.
Seperti disebutkan di atas, selain anggapan terhadap perempuan yang lemah, banyak juga kejadian tentang kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dari pemahaman-pamahaman yang besumber dari kitab suci dan tradisi.
Pertama, melalui Kitab Suci. Menurut Elisabeth Schussler Fiorenza, di dalam perjuangan bertahan hidup serta pembebasan diri dalam masyarakat dan gereja yang patriarkis, para perempuan menemukan kitab suci telah digunakan sebagai alat untuk menentang perempuan. Namun demikian, pada saat yang sama, kitab suci juga dapat menjadi sumber keberanian, pengharapan, dan komitmen dalam perjuangan para perempuan ini. Sehingga, menurut Elisabeth, yang perlu dilakukan dalam interpretasi feminis bukanlah mempertahankan kitab suci untuk melawan para pengkritik feminis, melainkan untuk memahami dan menafsirkannya sedemikian rupa sehingga kekuatan penindasan dan pembebasannya sangat jelas dapat dikenali.
Kedua, Tradisi dalam perjalanan historisnya, terbentuk dan berkembang. Tradisi menjadi sesuatu yang hidup, terbuka untuk untuk perkembangan secara terus menerus. Perkembangan tradisi secara umum ditentukan, antara lain, dengan pendalaman di bidang ajaran. Dalam hal ini, peran para teolog sangat penting untuk membantu melakukan penyelidikan dalam mendalami misteri ilahi dan menyingkapkannya bagi Gereja tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam misteri itu. Faktor lainnya adalah keterkaitan pendalaman ajaran tersebut dengan pengalaman hidup konkret.

a.       Status dan peran perempuan dalam perspektif teologi Kristen
·         Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran adam dari surga
·         Tertullian percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer bukanlah perempuan mentaati setan dan menentang tuhan.
·         Bagian alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3.2839 yang berbunyi “ dalam hal ini tidak ada orang yahudi atau orang yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu didalam krestus yesus” Galatia 3.28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria. [50]
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan “mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran adam dari surga. Kisah adam dan hawa adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang tuhan ? teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberapa abad.” [51]
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan prilaku tertentu diluar dan didalam gereja, dan paulus secara tegas menganjurkan hal berikut : “perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam gereja.”[52]
Umat Kristen bertakhayul tentang perempuan. Christom berkata: “perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda, bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”
Ahmad khaki menjelaskan tentang asal mula takhayul ini, ia mengatakan : masyarakat primitive tidak memahami sifat darah, oleh karena itu mereka takut akan darah dan menghubungkannya dengan “manna” mereka juga menganggap perempuan sebagai kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang laki laki harus menjauh dari istrinya dan tidak boleh menyentuhnnya sampai dia berusaha menebus ketidaksuciannya dengan cara menumpahkan darah seekor burung. Selain itu, mereka percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat mencemari segala sesuatu yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki laki harusmenghindari dari istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur dikasur yang berbedak mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minuman dari tempat yang berbeda pula. “[53]
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen sangat mirip dengan kondisi kaum perempuan yahudikarena kedua agama tersebut menjauhkan mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa ahli teologi juga melamaui hal ini dengan mempersoalkan asal usul dan kemanusiaan kaum perempuan. Apakah perempuan memiliki roh? Pertanyaan pertanyaan ini dikemukakan dan dibahas di majelis macon yang diselenggarakan pada 581 m dan beberapa kali sejak itu. [54]
Ada begitu banyak kisah perempuan yang diceritakan alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan, menyedihkan karena mengalami kekerasan seperti kisah tamar, yang diperkosa saudara seayah tetapi lain ibu dan tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnnya raja daud atau tua tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam hakim-hakim. Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota gibea sampai mati, lalu orang lewi pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada suku Israel akibat perbuatan orang gibea yang adalah suku benyamin. Kisah tentang kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam beberapa teks al kitab. tokoh- tokoh teolog Kristen dan fokus kajian
a.      Tertullian
Seperti yang kita ketahui dalam penjelasan sebelumanya bahwa dalam agama Kristen perempuan sebagai sumber kejahatan kerena perbuatannya adam ditutrunkan dari sorga.“Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan ? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberapa abad.” [31]
Mengenai doktrin dimana setiap perempuanlah yang berdosa karena tergoda iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan yang akhirnya membuat adam tergoda oleh hawa. [32]Tertullian percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan.
b.      Agustinus
”Though widely quoted we cannot verify that this is an actual quote by Augustine.”
“Perempuan bersama dengan laki- laki adalah gambaran Allah sehingga semua hakekatnya adalah satu gambaran. Tetapi ketika perempuan ditugaskan sebagai penolong [laki- laki], yang ditujukan kepada perempuan itu sendiri, ia bukan gambaran Allah: namun demikian apa yang berhubungan dengan laki- laki sendiri, adalah gambaran Allah sebagaimana secara penuh dan komplit ia digabungkan dengan perempuan itu menjadi satu. (St. Agustinus, De Trinitate, 12,7,10).[33]
Dari pernyataan ini memang banyak timbul reaksi yang sepertinya menuduh St. Agustinus sepertinya menganggap perempuan sebagai ‘warga kelas dua’, seperti halnya pandangan orang- orang yang hidup sejaman dengan St. Agustinus. Namun sebenarnya St. Agustinus hanya bermaksud menjelaskan bahwa berdasarkan kenyataan bahwa perempuan diciptakan setelah laki- laki, maka secara fisik dan sosial ia inferior jika dibandingkan dengan laki- laki; dan tentang urutan penciptaan yang sudah ditentukan Allah, St. Agustinus tidak mempertanyakannya (lih. Rev. T.J. van Bavel, O.S.A, Journal Augustiniana, “Augustine’s View on Women”, 1989). Namun demikian, melalui tulisan- tulisan lainnya, St. Agustinus percaya bahwa perempuan secara spiritual dan moral lebih tinggi dari laki- laki. Ia kerap berbicara melawan diskriminasi terhadap perempuan oleh hukum Roma dan pandangannya tentang kasih perkawinan yang mengisyaratkan adanya kesetaraan pria dan wanita sebagai pasangan, belum pernah diajarkan/ dijelaskan dengan rinci oleh orang lain sebelumnya. Maka walaupun terkesan St. Agustinus sepertinya ‘sexist‘ menurut ukuran sekarang, namun ia sangat ‘maju’ dalam hal pandangan tentang persamaan derajat pria dan wanita- jika dibandingkan orang- orang sejamannya.
c.       St.Thomas
“As regards the individual nature, woman is defective and misbegotten, for the active force in the male seed tends to the production of a perfect likeness in the masculine sex; while the production of woman comes from defect in the active force or from some material indisposition, or even from some external influence; such as that of a south wind, which is moist, as the Philosopher observes (De Gener. Animal. iv, 2). On the other hand, as regards human nature in general, woman is not misbegotten, but is included in nature’s intention as directed to the work of generation. Now the general intention of nature depends on God, Who is the universal Author of nature. Therefore, in producing nature, God formed not only the male but also the female.” (Summa Theology I, q.92, a.1)[34]
Di sini terlihat bahwa St. Thomas menggunakan argumen berdasarkan penemuan ilmu pengetahuan saat itu yang mengajarkan bahwa perempuan dilahirkan sebagai akibat dari 1) kurangnya kekuatan aktif dari benih laki- laki; 2) semacam disposisi yang kurang baik dari material/ zat tubuh atau 3) pengaruh luar seperti angin selatan yang lembab, seperti diamati oleh para ahli. Namun demikian St. Thomas mengajarkan juga kesetaraan peran wanita dengan pria dalam hal mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah, sebab tanpa wanita, pria tidak dapat berkembang biak dan melaksanakan perannya sesuai dengan kehendak Allah.
d.      Christom
“Umat Kristen bertakhayul tentang perempuan.” Christom berkata : “Perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda, bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”Mayoritas teolog Kristen menyamakan tatanan sosial laki-laki dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifatnya melekat secara natural dan dikehendaki oleh Tuhan. Oleh sebab itu meletakkan posisi perempuan di kelas kedua adalah sebuah keharusan. Dan beragam upaya untuk menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dianggap sebagai perbuatan yang melanggar ketentuan Tuhan.
B.Tokoh-tokoh yang Suport pada kesetaraan gender
a.       Elisabeth Schussler Fiorenza
Dalam bukunya In Memory of Hear, A Feminist Theological Reconstruction of Christian Origin, Elisabeth Schussler Fiorenza mendasarkan pemikirannya pada gagasan bahwa kaum perempuan di masa lampau tidak hanya dimarginalkan dan dikorbankan, tetapi mereka juga menjadi agen sejarah yang telah menghasilkan, membentuk, dan mempertahankan kehidupan sosial pada umumnya dan hubungan sosio-religius Kristen pada awalnya.[35]
Elisabeth Schussler Fiorenza , Profesor perjanjian baru dan theologi di Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat itu secara tegas menolak gagasan bahwa perempuan tidak memiliki arti bagi sejarah dan kehidupan sosial kekistrenan. Sebaliknya, dalam buku itu, dia berusaha memperlihatkan kedudukan perempuan di dalam dan di pusat narasi sejarah. Gagasan dasar yang diangkatnya adalah “pada saat yang sama dalam kenyataan, perempuan dan laki-laki telah bertindak dalam sejarah dan membentuk kehidupan sosial politik, budaya dan keagamaan di masa lampau”. Untuk itulah dia melakukan rekonstruksi teologis feminis tentang asal usul kekristenan.[36]
b.      Angelina Grimke
Terdapat banyak aktivis dan pemikir yang memberikan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Angelina Grimke misalnya, menyatakan bahwa kelemahan wanita dalam hal intelektualitas dan kepemimpinan bukanlah hal yang alami, namun karena adanya penyimpangan-penyimpangan sosial. Sekali perempuan dibebaskan dari ketidakadilan sosial, maka ia akan mendapatkan hak dan kesempatan yang sama.[37]
c.       Antoinette Brown
Pada tahun 1853, tuntutan atas kesempatan yang sama dalam gereja diwujudkan dalam pentahbisan pertama atas seorang wanita dalam kependetaan, dia adalah Antoinette Brown, seminari teologi pertama yang menerima wanita.[38]
3.      Partisipasi perempuan di dalam Gereja
            Alkitab dan tradisi gereja sering dijadikan dasar atau alasan penyebab terjadinya permasalahan ketidakseimbangan peran dan tempat antara laki-laki dan perempuan. Tradisi gereja selama berabad-abad telah menggunakan konsep-konsep yang diperoleh pada beberapa bagian Alkitab dan sebagai dasar untuk membeberkan pemahaman tentang tempat perempuan yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan selalu dianggap lebih rendah, lemah, dan kurang mampu sehingga gampang dikuasai, sedangkan laki-laki kedudukannya lebih tinggi, sebagai pihak yang menguasai, karenanya laki-laki lebih banyak mempunyai kesempatan untuk memegang kekusaan dan kepemimpinan.
Konsep yang demikian masih sering mempengaruhi cara berpikir gereja di zaman ini. Karena itu, pengaruh yang begitu kuat dari konsep Alkitabiah terhadap konsep berpikir jemaat tentang perempuan perlu di kritisi sehingga mempunyai makna yang baru. Apabila kita membaca surat-surat Paulus, tampaknya memberi kesan adanya konsep pemahaman yang melarang perempuan untuk terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan dan ibadah jemaat misalnya 1 Korintus 11:2-16 berbicara tentang larangan bagi perempuan untuk mengambil bagian aktif dalam kegiatan doa dan bernubuat. Demikian juga dalam 1 Korintus 14:33-35 dan 1 Timotius 2:11-12. Perikop ini sering dijadikan alasan untuk membatasi kesempatan pada perempuan untuk terlibat secara aktif dalam kepemimpinan gereja.
Dalam nas-nas tersebut kita membaca ajaran paulus kepada jemaat di korintus agar kaum perempuan tidak berbicara dan tidak terlibat pada ibadah jemaat. Kedua teks ini telah ditafsirkan sedemikian rupa oleh banyak orang sehingga ada gereja-gereja tertentu yang membatasi peranan keterlibatan perempuan hanya pada bidang-bidang pelayanan tertentu. Anjuran agar perempuan tidak berbicara dan mengajar sering mempengaruhi pemahaman gereja dalam menentukan tempat bagi perempuan. Pemahaman teks yang salah ini akan sangat menghambat partisipasi total perempuan dalam gereja, bahkan merupakan penolakan terhadap diterimanya perempuan dalam tingkat pengambilan keputusan di gereja. Akibatnya, kepemimpinan gereja lebih banyak dipegang oleh kaum laki-laki dan pengambilan keputusan dalam gereja lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Sementara perempuan hanya berperan sebagai pelaksana-pelaksana keputusan yang dibuat oleh laki-laki.
Pada ibadah atau kegiatan jemaat, perempuan harus berdiam diri, tidak boleh berbicara dan harus tetap pada perintah. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau belum jelas, tidak boleh langsung ditanyakan di tempat ibadah, tetapi harus minta penjelasan suaminya di rumah, sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Pada peraturan ini agaknya terkandung kesan bahwa perempuan tidak boleh berbicara dalam jemaat dan ada kesan laki-laki lebih tahu, lebih pandai dan lebih memahami segala sesuatu ketimbang perempuan.
Hal yang membedakan pengertian kekerasan terhadap perempuan dalam gereja katolik dengan kekerasan terhadap perempuan pada umumnya adalah karena kekatolikan turut menjadi “faktor” dalam persoalan ini. Yang dimaksud dengan kekatolikan di sini bisa berarti iman, ajaran moral dan etika, institusi, ataupun tradisi.
Pada umumnya, kekerasan yang dialami perempuan tidak hanya terjadi di satu lingkup saja atauberdiri sendiri, sekaligus menyangkut beberapa wilayah serta elemen (sosial, ekonomi, pendidikan, dsb.). misalnya, seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga katolik juga dipengaruhi atau terkait erat dengan budaya setempat dalam gereja lokal yang sangat patriarkis yang menggunakan ajaran agama untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan. Permasalahan ini dapat ditemui di beberapa daerah, di mana budaya patriarkis setempat sangat kuat bertauatan dengan ajaran agama (Gereja) yang patriakis, seperti dalam hampir semua budaya di Indonesia. Kekerasan yang dialami seorang perempuan Katolik mencakup pula wilayah rumah tangga, komunitas (agama dan budaya), maupun negara. Hal ini biasanya terjadi di wilayah-wilayah konflik, seperti perbatasan timor, Maluku, Papua, dsb.
Generasi gereja yang akan datang harus tumbuh dengan citra yang benar mengenai perempuan, karena itu peran laki-laki dan perempuan dalam gereja perlu diseimbangkan sejak dini. Kehidupan gereja merupakan warisan semangat dan cita-cita menundukkan kerajaan Allah yang dirintis oleh Yesus Kristus. Gereja sebagai pelopor dan teladan bagi masyarakat dalam sikap, pemahaman terhadap perempuan, dipanggil untuk terus memainkan perannya.[39]
Didalam pelayanan gereja ada beberapa dogma gereja tertentu yang masih belum memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan bertindak sebagai pemimpin umat maupun pelayan sakramen dalam gereja. [40]
Ada 3 hal yang patut menjadi pertimbangan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pemimpin umat dan pelayan firman. Pertama yaitu isi pengajaran, perempuan yang menjadi pelayanan dalam gereja tentunya akan memaparkan isi pengajaran yang sama tentang karya Allah didalam Yesus Kristus. Berita yang disampaikan selalu universal dengan demikian tidak ada alasan bagi sebagian orang tertentu yang masih merasa keberatan dengan posisi perempuan sebagai pemimpin umat. Kedua yaitu konteks pelayanan firman atau pengajaran, bahwa kaum perempuan tidak akan berdiri sendiri sebagai pelayan firman, tetapi dalam system pelayanan gereja tertentu ada yang disebut pelayanan kolektif (Presbyterian) dimana perempuan dapat bekerja sama dengan kaum laki-laki sesuai dengan karunia yang dimiliki akan bekerja sama melayani jemaat lewat pelayanan firman. Dalam pelayanan ini, dapat diberikan kesempatan kepada kaum perempuan walaupun biasanya tim pelayanan ini akan diketuai oleh kaum laki-laki. Ketiga yaitu gaya mengajar bahwa kaum perempuan harus bisa menempatkan diri sebagai pengajar tidak untuk melebih-lebihkan diri dan berbangga atas karunia mengajar yang diperoleh melainkan dengan kerendahan hati dan ketulusan menundukkan diri pada otoritas ilahi dan menyampaikan berita alkitabiah sebagaimana yang tertulis dalam alkitab.
Jemaat masa kini mulai memahami bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi kualitas. Walaupun seringkali perempuan mendapat keistimewaan khusus dalam hal perlakuan, tetapi ini tidak berarti bahwa kemampuan perempuan di bawah laki-laki. Memang ada hal-hal tertentu yang membutuhkan kekuatan fisik dari kaum laki-laki. Tetapi adalah suatu hal yang kompleks apabila kekuatan fisik itu dipadukan dengan kemampuan intelektualitas dan emosional dari perempuan. Tentunya akan menghasilkan kekuatan yang baik untuk  pertumbuhan ke arah positif.[41]
Pemberdayaan peranan perempuan dalam gereja biasanya menggunakan pemetaan peran dan melihat setiap kasus secara khusus atau secara relasional. Entah peran dalam keluarga sebagai sebagai seorang gadis, wanita muda, isteri dari seorang suami, ibu bagi anak-anaknya, nyonya rumah dengan pramuwismanya, nenek bagi seluruh keluarga atau sebagai janda, kehidupan perempuan memiliki dinamika tersendiri.(1 Timotius 5: 1-2; Titus 2:3-10; Efesus 5:22-32; 1 Petrus3: 1-7). Di luar rumahnya, peranan perempuan antara lain sebagai tetangga di kampungnya, pekerja/ wanita karir, aktifis kegiatan sosial-politik atau keagamaan. Setiap gereja mengembangkan pelayanan kepada kaum perempuan menurut peranan mereka masing-masing (1 Tesalonika 4: 11-12; 1 Petrus 2: 11-17).
  1. Pengertian Gereja
Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Ia lahir seiring kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus di dunia. Karena itu, apa yang disebut gereja perdana adalah persekutuan para murid Yesus dan ditambah dengan beberapa orang lain yang telah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan menjadi saksi atas kebangkitanNya. Gereja perdana ini memiliki semangat persekutuan, pelayanan, dan kesaksian  yang kuat, sehingga iman Kristen mulai tersebar dari Yerusalem, seluruh daerah Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung dunia (Kis. 1:8).[55]
 Salah seorang murid Yesus yang giat dalam pekabaran Injil ini adalah rasul Paulus. Ia mengabarkan Injil hampir di seluruh wilayah kekuasaan Romawi pada abad pertama, baik di kalangan orang-orang Yahudi diaspora maupun orang-orang bukan Yahudi. Selain rasul Paulus, para murid yang lain juga aktif mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Konon rasul Thomas mengabarkan Injil sampai ke India. Karena itu, pada akhir abad pertama dan memasuki abad kedua, sejumlah jemaat-jemaat Kristen lahir dan bertumbuh di seluruh wilayah kekuasaan Romawi, dengan latar belakang suku bangsa, [56]bahasa, dan tradisi yang berbeda. Namun demikian, jemaat-jemaat ini mengakui keesaan mereka di dalam iman kepada Yesus Kristus dan di dalam tugas panggilan mereka untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani sebagai jemaat-jemaat Kristen. Jadi, keesaan mereka pertama-tama terletak pada iman mereka kepada Yesus Kristus dan panggilan mereka untuk bersaksi di dalam dunia.
Dalam abad-abad selanjutnya iman Kristen terus bergerak meluas ke Afrika dan Eropa. Pada periode penjelajahan Samudra di akhir abad pertengahan, iman Kristen bergerak dari Eropa dan menyebar di wilayah Asia termasuk Indonesia. Hasilnya adalah bertumbuhnya sejumlah besar gereja dan jemaat lokal di Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, dengan latar belakang budaya, bahasa, tradisi, dan gaya hidup yang berbeda-beda. Secara doktrinal dan kelembagaan gereja yang satu dapat berbeda dengan gereja yang lain, sesuai dengan situasi dan kondisi objektif lingkungannya. Namun secara esensial, gereja-gereja ini mengakui kesatuan atau keesaan mereka di dalam iman kepada Yesus Kristus dan di dalam panggilan mereka untuk mengabarkan Injil di dalam dunia. Dalam konteks inilah kita dapat membicarakan konsep dan praktek keesaan gereja. [57]
Dasar alkitabiah keesaan gereja sering diambil dari beberapa bagian Alkitab, misalnya I Korintus 12 tentang rupa-rupa karunia, tetapi satu tubuh, Efesus 2 tentang kasih karunia dan dipersatukan dalam Kristus, I Petrus 2: 1 – 10 tentang Yesus Kristus sebagai Batu Penjuru, dan beberapa bagian dari perkataan Tuhan Yesus di dalam kitab Injil. Salah satu perkataan Yesus yang sering dijadikan perspektif dalam melihat dan menilai praktek keesaan gereja adalah doa Tuhan Yesus di dalam injil Yohanes pasal 17, khususnya ayat 20-21: “Dan bukan untuk mereka ini saja  Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Bagian alkitab ini menjadi jiwa dan semangat beberapa lembaga gerakan keesaan seperti GMKI. Karena itu dalam tulisan singkat ini, kami akan melihat dan menilai gerakkan keesaan di Indonesia dan di Sulawesi Tengah pada khususnya berdasarkan perspektif Yohanes 17 tersebut di atas. [58]
C.    Perempuan dalam Perspektif Teolog Kristen
Agama Kristen menganggap perempuan sebagai sumber kejahatan. “Mereka percaya bahwa setiap perempuan bersalah melakuakan dosa asal dan dia bertanggungjawab atas pengusiran Adam dari surga. Kisah Adam dan Hawa adalah penyebab utama penindasan perempuan dalam agama Kristen. “Tertullian” percaya bahwa kaum perempuan adalah pasangan Lucifer. Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan ? Teori yang dikembangkan dan dijelaskan oleh Tertullian ini menyebabkan terjadinya penindasan dan penghinaan terhadap perempuan Kristen selama beberepa abad.[59]
Selain itu, perempuan diharuskan menunjukan perilaku tertentu di luar dan di dalam gereja, dan Paulus secara tegas menganjurkan hal berikut : “Perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak untuk berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya di rumah karena sangat memalukan jika seorang perempuan berbicara di dalam Gereja. [60]
“Umat Kristen bertakhayul tenang perempuan. Christom berkata : “Perempuan adalah kejahatan yang tak terhindarkan, bersifat menggoda, bahaya yang mengancam rumah tangga, rayuan maut, dan setan yang tersembunyi.”
Ahmad Khaki menjelaskan tentang asal-mula takhayul ini, ia mengatakan:
Masyrakat primitive tidak memahami sifat darah, oleh karena itu mereka takut akan darah dan menghubungkanya dengan “Mana.” Mereka juga menganggap perempuan sebagai kotor dan busuk selama menstruasi. Seorang laki-laki harus menjauh dari istrinya dan tidak boleh menyentuhnya sampai dia berusaha menebus ketidaksucianya dengan cara menumpahkan darah seekor burung. Selain itu, mereka percaya bahwa perempuan yang sedang menstruasi dapat mencemari segala sesuatu yang disentuhnya, oleh karena itu seorang laki-laki harus menghindar dari istrinya yang sedang menstruasi selamanya. Mereka tidur di kasur yang berbedak mengenakan pakaian dan baju yang berbeda serta minum dari tempat yang berbeda pula.
Konsekuensinya, kondisi kaum perempuan Kristen sangat mirip dengn kondisi kaum perempuan Yahudi karena kedua agama tersebut menjauhkan mereka sebagai kotoran dan najis. Beberapa ahli theologi juga melampaui hal ini dengan mempersoalkan asal-usul dan kemanusiaan kaum perempuan. Apakah perempuan memiliki roh ? pertanyaan-pertanyaan ini dikemukakan dan dibahas di majelis Macon yang diselenggarakan pada 581 M dan beberapa kali sejak itu.[61]
Alkitab dalam teologi Calvinis adalah sumber dari ajaran gereja. Sebagai sumber ajaran gereja, Alkitab menduduki posisi penting dalam perumusan dogma dan pengajaran umat. Namun, landasan operasional tritunggal panggilan dan pengutusan gereja mengacu pada kesaksian kanon Alkitab yang ditafsirkan sesuai konteks masa kini. Teks Alkitab dan konteks umat percaya masa kini terjalin dalam relasi Hermeneutika yang memakai pendekatan yang komprehensif. Hermeneutika diperlukan guna menemukan kerugma/ pesan Firman bagi umat masa kini. Berbagai metode dan pendekatan telah dikembangkan oleh para teolog Kristen guna mengkaji ulang pesan-pesan tertulis agar menjadi pesan-pesan yang dapat dikaryakan bagi kepentingan martabat manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan alam lingkungan.[62]
Ada begitu banyak kisah perempuan yang diceritakan Alkitab. Kisah mereka bermacam-macam. Ada kisah yang memilukan, menyedihkan karena mengalami kekerasan seperti kisah Tamar, yang diperkosa saudara seayah tetapi lain ibu dan Tamar tidak mendapat pembelaan dari ayahnya Raja Daud atau tua-tua agama. Terdapat juga kisah perempuan tanpa nama dalam Hakim-Hakim. Seorang gundik diperkosa oleh penduduk kota Gibea sampai mati. Lalu orang Lewi pemilik gundik memotong mayat gundiknya dan mengirim kepada suku Israel. Akibat perbuatan orang Gibea yang adalah suku Benyamin, maka orang Israel dari suku lain maju berperang melawan suku Benyamin. Kisah tentang kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan juga secara jelas dibaca dalam beberapa teks Alkitab. Sebut saja Izebel (Raja-Raja) istri Raja Ahab yang mengatas namakan Raja mengambil kebun anggur Nabot. Nabot diperhadapkan dengan 2 orang saksi dusta akibatnya ia dilempar dengan batu sampai mati. Kisah Delila yang menjual suaminya Simson kepada orang Filistin yang mengakibatkan Simson menderita, matanya dicungkil sehingga ia buta (Hakim-Hakim).
Disamping kisah yang memilukan akibat kekerasan terhadap perempuan, Alkitab menceritakan juga kisah perempuan-perempuan yang memilki kharisma khusus seperti nabiah. Ada Deborah (Hakim-Hakim 5), Hana (Lukas 2 : 36), Hulda (2 Raja- Raja 22:14).
Alkitab menceritakan juga kisah heroik yang ditampilkan oleh perempuan sebagai pemimpin, pejuang hak asasi, pembela bangsanya, pendamai, juga pelayan Firman. Tetapi dibandingkan dengan kisah tentang laki-laki, kisah para perempuan hebat ini sangat sedikit. Ada ketidak seimbangan dalam menceritakan tentang kinerja laki-laki dan perempuan. Ketidak seimbangan itu ada sebabnya. Saya mencoba mencarinya dalam kisah tentang penciptaan.[63]
Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai magna carta of humanity adalah Galatia 3:2839 yang berbunyi: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”  Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi dan subordinasi pria.  Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah: Kejadian 34:12; Keluaran 21:7, 22:17, Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4, 5:28-29; 2 Samuel 14:2, 20:16; 2 Raja-raja 11:3, 22:14; Nehemia 6:14, adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.  Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga.  Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan.  Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita.  Di dalam Alkitab mereka ternyata menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal.  Itulah sebabnya sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: “dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.”[64]
Ruether juga menggunakan istilah “metode korelasi” ketika ia menguraikan metode interpretasi feminis.  Bandingkan dengan pendapat Daphne Hampson, salah seorang teolog feminis yang lebih radikal, yang mengemukakan hal senada ketika ia mengatakan bahwa teologi haruslah merupakan jembatan antara masa lalu dan masa kini.  Menurutnya, teologi harus menghubungkan masa lalu dan masa kini melalui tiga pendekatan, salah satunya disebut pendekatan kairos, yakni suatu pengakuan bahwa masa lalu pada dasarnya bersifat normatif, namun bisa saja terjadi perkembangan (Theology).  (Namun tidak jelas apa yang ia maksud dengan “bisa saja terjadi perkembangan.”  Apakah itu berarti perkembangan dalam bentuk perubahan sehingga yang normatif itu tidak lagi normatif?)  Pendapat ini juga serupa dengan yang dikatakan Tillich bahwa para teolog berada di antara dua kutub.  Kutub pertama adalah otoritas teologis, yakni Alkitab sebagai sumber teologi.  Kutub ini perlu untuk menjamin agar teologi yang dihasilkan bersifat otoritatif.  Kutub yang lain adalah situasi.  Jadi, tugas para teolog adalah menjembatani berita Alkitab dengan situasi masa kini.
Dengan ditetapkannya “Dasawarsa Oikumenis Gereja-gereja dalam Solidaritas dengan Wanita” oleh Dewan Gereja-gereja se-Dunia, gereja-gereja dipanggil untuk menguji kembali struktur gereja dan mengusahakan keseimbangan dalam arti memberi peranan penuh dari seluruh anggotanya tanpa terkecuali. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapat peran yang seimbang dalam gereja, sehingga mereka benar-benar dapat berperan sesuai dengan bakat dan talentanya masing-masing.
Sebagai gambar Allah, perempuan diciptakan sempurna. Sama baiknya dengan laki-laki. Perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang sama. Menyia-nyiakan hak dan kesempatan pemberian dari Allah sama dengan menyia-nyiakan berkatnya. Karena itu, gereja dipanggil untuk memberdayakan kemampuan dan keahlian perempuan agar semakin hari semakin berkualitas. Di sisi lain perempuan sendiri diingatkan bahwa panggilan iman Kristiani menantang dirinya untuk berkarya dan menyumbangkan kemampuannya secara penuh. Dengan motivasi yang demikian, apapun yang dilakukan oleh perempuan bukan merupakan ambisi pribadi atau demi dirinya sendiri, namun lebih pada kesadaran akan panggilan Ilahi.[12]
Dalam ajaran Katolik menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan menempati posisi yang setara dan sederajat. Antara lain dalam kitab Kejadian 1:27-28: “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Allah memberkati mereka dan lalu berfirman: “beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Dalam kristen Protestan dalam ajaran Alkitab, Allah mewujudkan kasih-Nya terhadap manusia tanpa memandang jenis kelamin, golongan, maupun usia dan nyata benar dalam terang kasih Allah antara laki-laki dan wanita.
Seperti disebutkan di atas, selain anggapan terhadap perempuan yang lemah, banyak juga kejadian tentang kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan dari pemahaman-pamahaman yang besumber dari kitab suci dan tradisi.
Pertama, melalui Kitab Suci. Menurut Elisabeth Schussler Fiorenza, di dalam perjuangan bertahan hidup serta pembebasan diri dalam masyarakat dan gereja yang patriarkis, para perempuan menemukan kitab suci telah digunakan sebagai alat untuk menentang perempuan. Namun demikian, pada saat yang sama, kitab suci juga dapat menjadi sumber keberanian, pengharapan, dan komitmen dalam perjuangan para perempuan ini. Sehingga, menurut Elisabeth, yang perlu dilakukan dalam interpretasi feminis bukanlah mempertahankan kitab suci untuk melawan para pengkritik feminis, melainkan untuk memahami dan menafsirkannya sedemikian rupa sehingga kekuatan penindasan dan pembebasannya sangat jelas dapat dikenali.[13]
Kedua, Tradisi dalam perjalanan historisnya, terbentuk dan berkembang. Tradisi menjadi sesuatu yang hidup, terbuka untuk untuk perkembangan secara terus menerus. Perkembangan tradisi secara umum ditentukan, antara lain, dengan pendalaman di bidang ajaran. Dalam hal ini, peran para teolog sangat penting untuk membantu melakukan penyelidikan dalam mendalami misteri ilahi dan menyingkapkannya bagi Gereja tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam misteri itu. Faktor lainnya adalah keterkaitan pendalaman ajaran tersebut dengan pengalaman hidup konkret.[14]

C.            Partisipasi Perempuan di dalam Gereja
Pengajaran utama mengenai kedudukan perempuan dalam Jemaat terdapat dalam surat-surat Paulus.[65] pada zaman itu perempuan hampir selalu dianggap lebih rendah daripada laki-laki, khususnya pada dunia Yahudi yang dikuasai sepenuhya oleh laki-laki. Dibeberapa tempat dalam lingkungan orang-orang bukan Yahudi, seperti Mekdonia, perempuan-perempuan dibeli hak yang lebih luas, tetapi orang-orang penyembah berhala secara keseluruhan tidak terdapat gagasan kesamaan hak bagi laki-laki dan perempuan. Disaping itu tidak ada pendidikan untuk anak-anak perempuan Yahudi dan diantara anak-anak perempuan dari dalam suasana yang berorientasi pada kaum laki-laki seperti inilah jemaat-jemaat Kristen berkembang.[66]
Pernyataan Paulus yang tegas dalam Galatia 3:28 “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua dalah satu di dalam Kristus Yesus”.[67]Merupakan suatu pandangan yang revolusioner, karena bertentangan dengan keyakinan zaman itu yang menempatkan kaum laki-laki sebagai kaum yang lebih unggul. Pernyataan ini tidak berlaku hanya dalam hubungan dengan keselamatan, seolah-olah prinsip keunggulan laki-laki masih diterapkan dalam bidang-bidang lain kecuali dakam hal keselamatan itu.
Dalam Jemaat Kristen, perempuan-perempuan mempunyai status yang sama dengan laki-laki, dengan pengertian bahwa semua orang diterima atas dasar pekerjan Kristus yang sama bagi kepentingan mereka. Laki-laki tidak dapat menuntut hak yang lebih dari perempuan.[68] Prinsip kesamaan bagi perempuan ini sama sekali bertetangan dengan situasi lingkungan orang-orang Yahudi atau pun orang-orang penyembah berhala, dan tidaklah mengherankan bahwa persoalan muncul pada waktu proses penyesuaian ini mulai diterapkan. [69]
Ada dua macam pokok yang termasuk dalam nasihatnya: yang pertama berhubungan dengan perepuan-perempuan yang berbicara di dalam Jemaat, yang keduaa berkaitan dengan masalah wewenang. Dalam I Korintus 14:34-35 “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat(34). Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat (35).[70] Bahwasannya perempuan harus berdiam diri dalam Spertemuan Jemaat, tetapi banyak perdebatan mengenai apa yang dimaksudkannya dengan perkataan itu. Ia memerintahkan untuk tunduk, tetapi ia menentukan kepada siapa perempuan harus tunduk tetapi ia tidak menentukan kepada siapa perempuan-perempuan harus tunduk. Karena pernyataan ini diikuti denga pernyataan lain yang mengingatkan perempuan-perempuan untuk bertanya kepada suami mereka di rmah, maka ayat ini pernah ditafsirkan sebagai suatu nasihat untuk tunduk kepada suami. Tetapi yang dimaksud dengan tunduk di sini dapat dihubungkan dengan pengajaran. Disamping itu, pernyataan dalam ayat 34-35 pernah dianggap sebagai pandangan-pandangan dari kelompok tertentu dalam Jemaat, bukan pandangan Paulus sendiri. Pemecahan yang menjadi pokok dari keseluruhan konteks yang memuat perkataan ini ialah perlunya ibadat yang teratur. Paulus tidak mentolerir hal-hal apapun yang menguragi keteraturan ibadat Kristen, dan jika sikap beberapa perempuan tercantu mengakibatkan keadaan ibadat menjadi tidak teratur, maka dapatlah dipahami bahwa ia menyuruh mereka untuk diam.[71]
Pada saat I Korintus 14:34-35 dibicrakan. Kita harus mengingat bahwa perempuan-perempuan diizinkan untuk berdoa dan bernubuat dengan hak yang sama dengan laki-laki. I Korinus 11:5 “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau  bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya”.[72] Nampaknya berbeda dengan I Korintus 14:34-35 dengan perintah bahwa perempuan harus diam, mungkn untuk berpendapat bahwa perempuan-perempuan hanya dapat berdoa dan beribadat dalam rumah mereka senidir, anggapan ini tidak bertentangan dengan I Korintus14:34-35. Namun, pembahasan mengenai rambut perempuan dan tentang pemakaian tudung kepala tidak ada artinya jika doa dan nubuat hanya dilakukan bukan di depan Jemaat.
Dalam perikop kedua yang berkaitan dengan masalah ini, yaitu I Timotius  2:11-15”Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh”(11). Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan tidak juga mengizinkannya memerintah laki-laki;hendaklah ia berdiam diri(12). Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa (13). Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa(14). Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan(15).[73] Dari ayat-ayat diatas Paulus menasehati perempuan-perempuan untuk belajar berdiam diri dan untuk menahan dari memerintah laki-laki. Didalam perjanjian lama dikutip untuk menunjukkan bahwa Hawa lebih bersalah daripada Adam,yang didalamnya mungkin tercakup sikap tunduk. Mengenai perikop dari Perjanjian Lamaitu, dapat dikatakan bahwa Kejadian 1 dan 2 tidak mengharuskan perempuan untuk tunduk kepada laki-laki, karena laki-lakilah yang harus meninggalkan keluarganya untuk bersatu dengan istrinya, bukan sebaliknya.
Persoalan utama ialah untuk menentukan pemerintahan yang bagaimana yang dimaksudkan Paulus dalam I Timotius 2:12 “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan tidak juga mengizinkannya memerintah laki-laki;hendaklah ia berdiam diri” ayat tersebut dapat dimengerti dalam hubungan pernikahan, tetapi konteks di sekitar ayat itu menyarankan suatu penerapan yang lebih umum. Oleh karena itu yang menjadi pusat perhatian utama ialah hal mengajar, maka nampaknya paling baik untuk menghubungkan pemerintahan (wewenang) tersebut dengan hal mengajar. Dengan demikian yang diamksudkan ialah bahwa seseorang perempuan tidak diberikan hak untuk mengajar laki-laki dengan cara memerintah (secara beribawa).[74] Hal ini harus dipahami latar belakang kisah Adam dan Hawa, sebab dalam peristiwa itu Adam membiarkan dirinya diperintah oleh Hawa dalam hal yang salah, sehingga ia tertipu. Pernyataan Paulus tidak boleh berarti  bahwa perempuan mempunyai sifat mudah ditipu, ataupun dengan maksud untuk membebaskan Adam dari tanggung jawab pelanggaranya sendiri.
Dalam surat pengembalaan, perempuan-perempuan diizinkan untuk mengajar anak-anak dan perempuan-perempuan lain[75] terdapat dalam 2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenkmu Lois dan di dilam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga didalam dirimu” , 2 Timotius 3:14-15”tetapi hendaklah engkau tetap berpegang kepada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu ,mengingat oramg yang telah mengajarkan kepadamu(14). Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci yang dapat member hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus(15).” dan Titus 2:3-4“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba Anggur, tetapi cakap mengajajarkan hal-hal yang baik(3). Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya(4).”, hal ini menjelaskan bahwa Paulus tidak berpendapat bahwa karena sifat yang dimilikinya maka perempuan-perempuan sama sekali tidak boleh mengajar. Di dalam kisah Hawa yang diperdaya digunakan dalam II Korintus 11:3 “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamudisesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada kristus, sama seperti hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” yaitu sebagai kesejajaran bagi siapa saja (laki-laki maupun perempuan) yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. [76]
Dalam I Timotius 3:11 “Demikianlah pula istri-istri hendaklah orang terhormat, jangan memfitnah dapat menahan diri dankeluarganya dengan baik” dapat ditujukan kepada perempuan-perempuan yang melayani sebagai diaken, walaupun beberapa orang menafsirkan bahwa ayat ini ditujukan kepada istri-istri diaken. Jika yang dimaksudkan ialah diaken-diaken maka tidaklah perlu menduga bahwa yang dipikirkan ialah suatu jabatan, hanya bahwa perempuan-perempuan yang melakukan pekerjaan seorang diaken harus memenuhi kualitas-kualitas tertentu yang ditetapkan. Dalam Perjanjian Baru Rum 16:1 menegaskan tidak ada feminine untuk kata diaken tersebut.[77]
Telah disebutkan diatas bahwa dalam Jemaat di Korintus terdapat perempuan-perempuan yang bernubuat dan berdoa. Ada beberapa perempuan yang memiliki kemampuan di Filipi, disamping itu janda-janda yang lebih tua di Efesus didaftarkan bukan hanya untuk memerntah bantuan kenangan tetapi juga umtuk mengambil bagian dalam pelyanan “” (1 Timotius 5:9-10). Semua bukti ini memberikan kesan bahwa Paulus melihat pekerjaan dari perempuan-perempuan Kristen sangat diperlukan di salam Jemaat Kristen.
Segi lain dalam status perempuan yang timbul sebagai akibat kedatangan kristus adalah hal yang berhubungan dengan pernikahan[78]. Paulus menggunakan kiasan mempelai perempuan untuk melambangkan Jemaaat, terhadap kesatuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Haruslah diakui bahwa jiasan tersebut memberikan kepada perempuan yang sudah menikah suatu kedudukan dalam Jemaat yang berbeda secara mendasar dengan kedudukan para perempuan dimasa itu. Di luar Jemaat dia tidak memiliki hak apapun, tetapi”di dalam Kristus” dia merupakan seorang yang sangat diperlukan oleh suaminya dan tanpa perempuan seorang laki-laki tidaklah lengkap. Keduanya menjadi satu daging, seperti Allah maksudkan. Paulus tidak memberikan pengajaran yang khusus mengenai peranan perempuan yang tidak menikah, walaupun secara jelas ia memandang bahwa keadaan tidak menikah itu bermanfaat dalam situasi-situasi tertentu.[79]
Paulus menunjukkan bahwa Paulus sama sekali bukanlah seorang pembenci kaum perempuan, walaupun kadang-kadang ia dinggap mempunyai sikap ini. Sebaliknya, ia mengerti secara luar biasa bahwa kuasa Injil yang memerdekakan akan mengubah kedudukan perempuan yang besifat rendah pada zamannya. Ia melihat bahwa Jemaat Kristen harus merupakan perintis yang mengangkat martabat kaum perempuan.[80]



Daftar Pustaka

 Guthrie, Donald.2012. Teologi Perjanjian Baru. Jakarta: Gunung Mulia
 dhiya’ul fauzain Aris.2016 Perbandingan Agama, Jakarta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama






[2] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.227
[3] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.220
[4] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.154
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 
[8] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00
[9] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.115
[10] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h. 72

[11] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.77

[12] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.75

[17] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Lama
[19] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.88
[21] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.221
[22] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.111
[25] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[26] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[27] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm. 6-7.
[28] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm. 9-10.
[29] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm. 99.
[30] Kitab Suci Injil. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011. Hlm. 88
[31] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[32] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.220
[33] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[34] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.55
[35] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[36] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[37] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[38] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[39] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.105
[40] http://equalityofright.blogspot.co.id/2014/12/relasi-gender-dalam-agama-kristen.html diakses pada tanggal 16 september 2106 pukul 17:00 WIB
[41] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.105
[42] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.105
[43] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.106
[44] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.106
[45] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.107
[46] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.108
[50] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.108
[51] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.114
[52] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.126
[53] Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.133
[54]Aris dhiya’ul fauzain, Perbandingan Agama, Jakarta: 2016, h.134
[55]Diakses melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[56] Diakses melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[57] Diakses melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[58] Diakses melalui http://richsonblogs.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-gereja-secara-alkitabiah.html pada tanggal 09 November 2106 pukul 21:00 WIb
[59] Diakses melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
[60] Fatimah Umar Nasif, Menggugat Sejarah Perempuan, (Jakarta : Cendekia Sentra Muslim, 2001), h. 48
[61] Fatimah Umar Nasif, Menggugat Sejarah Perempuan, (Jakarta : Cendekia Sentra Muslim, 2001), h. 49
[62] Diakses melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
[63] Pdt. Frederika Patrecia Kulas, M.Th, Buklet Seri Agama Ketidakadilan Gender dalam Tafsir Kristen : Sebuah Pengantar Gerakan Keadilan Gender dalam Perspektif Kristen, Jakarta: Komunitas untuk Indonesia yang Adil dan Setara (KIAS) dan Institut Mosintuwu, 2011.
[64]  Diakses melalui http://ahmadsyafiq881.blogspot.co.id/2013/12/relasi-gender-dalam-teologi-kristen_10.html pada tanggal 10 November 2016 pukul 10:20 WIB
[65] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.105
[66] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.106
[67] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.106
[68] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.106
[69] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.107
[70] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.107
[71] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.107
[72] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.107
[73] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.108
[74] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.108
[75] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.108
[76] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.109
[77] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.109
[78] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.110
[79] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.110
[80] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012, h.110

0 komentar:

Posting Komentar

 
;