SSistem kemasyarakatan ritual agama keagamaan di bali
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZPYs_XBAF4PaQHU5xp2mmgocfp5VTcdhYWFtTTzQCURyfeX2uJiYdfG205AdvoEsHqUZWCxyf354i2G_Q7ZuHYH5xZ4pQ7kdxsAMb2o1cEBifa4mCCgipE159QsOSnjdSDYbSrrPSx4k/s1600/mg_6941.jpg
Dalam budaya masyarakat jika ditelusuri keberlangsungan keterpurukkan perempuan salah satunya dilatarbelakangi oleh kekurangarifan dalam menafsirkan dalil-dalil agama Islam yang kemudian seringkali dijadikan dasar utuk menolak kesetaraan jender. Kitab-kitab tafsir dijadikan referensi untuk melegitimasi paradigma patriarki, yang memberikan hak-hak istimewa kepada laki-laki dan cenderung memojokkan perempuan dengan pendefinisian yang negatif. Pendefinisian sosok perempuan yang negatif ini kemudian diwariskan secara turun temurun yang pada akhirnya mengendap dalam alam bawah sadar perempuan yang menimbulkan ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya sebagai hamba Tuhan.
Dengan kata lain pemahaman akan posisi
perempuan yang bias gender sudah dengan sendirinya tertradisikan di masyarakat
yang dilakukan oleh konstruksi budaya dan doktrin keagamaan serta ditopang oleh
nilai-nilai kultural dan ideologis. Ditambah lagi sejumlah ulama telah
menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis dengan penafsiran yang bias gender dan
bias nilai-nilai patriarkhat. Hal itu karena mereka berpijak pada teks
harfiyahnya yang sepintas memang tampak mendukung penafsiran demikian. apalagi
pengaruh latar belakang sosio- historis dan sosio-politis para penafsir yang
umumnya didominasi budaya patriarki. Pada masyarakat dimana unsur budaya
patriarki sangat dominan, penafsiran seperti itu bukan hal yang janggal dan
karenanya tidak dipersoalkan.
Jadi disini dikatakan dari keterbatasan
pengetahuan lah yang membuat para bias gender (perempuan) tidak bias menyetarakan
antara laki-laki dan perempuan, sehingga perempuan masi tetap harus dibawah laki-laki.

0 komentar:
Posting Komentar