Jumat, 16 Desember 2016

Sistem kemasyarakatan



SSistem kemasyarakatan ritual agama keagamaan di bali
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZPYs_XBAF4PaQHU5xp2mmgocfp5VTcdhYWFtTTzQCURyfeX2uJiYdfG205AdvoEsHqUZWCxyf354i2G_Q7ZuHYH5xZ4pQ7kdxsAMb2o1cEBifa4mCCgipE159QsOSnjdSDYbSrrPSx4k/s1600/mg_6941.jpg

Dalam budaya masyarakat jika ditelusuri keberlangsungan keterpurukkan perempuan salah satunya dilatarbelakangi oleh kekurangarifan dalam menafsirkan dalil-dalil agama Islam yang kemudian seringkali dijadikan dasar utuk menolak kesetaraan jender. Kitab-kitab tafsir dijadikan referensi untuk melegitimasi paradigma patriarki, yang memberikan hak-hak istimewa kepada laki-laki dan cenderung memojokkan perempuan dengan pendefinisian yang negatif. Pendefinisian sosok perempuan yang negatif ini kemudian diwariskan secara turun temurun yang pada akhirnya mengendap dalam alam bawah sadar perempuan yang menimbulkan ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya sebagai hamba Tuhan.
Dengan kata lain pemahaman akan posisi perempuan yang bias gender sudah dengan sendirinya tertradisikan di masyarakat yang dilakukan oleh konstruksi budaya dan doktrin keagamaan serta ditopang oleh nilai-nilai kultural dan ideologis. Ditambah lagi sejumlah ulama telah menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis dengan penafsiran yang bias gender dan bias nilai-nilai patriarkhat. Hal itu karena mereka berpijak pada teks harfiyahnya yang sepintas memang tampak mendukung penafsiran demikian. apalagi pengaruh latar belakang sosio- historis dan sosio-politis para penafsir yang umumnya didominasi budaya patriarki. Pada masyarakat dimana unsur budaya patriarki sangat dominan, penafsiran seperti itu bukan hal yang janggal dan karenanya tidak dipersoalkan.

Jadi disini dikatakan dari keterbatasan pengetahuan lah yang membuat para bias gender (perempuan) tidak bias menyetarakan antara laki-laki dan perempuan, sehingga perempuan masi tetap harus dibawah laki-laki.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;